Anak dan Lingkaran Bullying di Lingkungan Sekolah

Ilustrasi Bullying. Foto: Shutterstock

KomnasAnak.com, Jepara - Bullying berasal dari kata bully. Yaitu usaha seseorang atau kelompok untuk menyakiti dan atau mengintimidasi orang lain yang dianggap lemah. bully atau tindak intimidasi ini dapat dilakukan berulang dan dimaksudkan untuk melukai seseorang secara fisik dan psikis.

Bullying atau perundungan dapat berbentuk verbal maupun fisik. Ejekan, cemoohan, ancaman, isolasi, memukul, menendang, dan kekerasan fisik lain, dapat menyebabkan korban merasa depresi, cemas, hingga keinginan bunuh diri jika tidak ditangani segera.

Tahun 2020 baru saja dimulai, tapi kasus dugaan perundungan sudah terjadi, bahkan hingga korban tewas. Beberapa kasus yang viral di media diantaranya adalah:

Dugaan bullying kepada siswi ‘NA’ di Tasikmalaya. Depresi yang diderita korban lantas menyebabkan sakit meningitisnya bertambah parah dan mengakibatkan gagal pernapasan.

Bullying yang dialami oleh ‘MS’ di Malang. Mengakibatkan banyak lebam hingga jari tengah tangan kanannya harus diamputasi karena sudah tidak berfungsi. Selain itu korban mengalami trauma berat hingga sering menangis.

Hingga ‘DS’, siswa SMP di Tasikmalaya yang ditemukan tewas di gorong-gorong sekolah. Sayangnya, Dinas Pendidikan tidak menganggap kematian siswa yang sering dipanggil bau lontong ini sebagai tindak bullying.

Bagaimana Karakter Anak yang Mudah Di-bully?

Pelaku bullying umumnya mengincar seseorang yang dianggap mudah untuk disakiti. Pribadi lemah membuat pelaku bullying merasa kuat dan menang. Biasanya, korban bullying adalah mereka yang berbeda dengan mayoritas temannya. Perlakuan bullying sering diakibatkan rasa cemburu atas prestasi korban.

Ada beberapa sebab yang memungkinkan anak menjadi korban bully, diantaranya:
Terlihat lemah. Pendiam, penyendiri, dan punya sedikit teman. Tujuan bullying adalah untuk terlihat kuat. Seseorang dengan karakter lemah umumnya dianggap tidak banyak melawan sehingga lebih mudah untuk dikalahkan.

Perbedaan fisik. Disabilitas, kebutuhan khusus, atau memiliki penyakit tertentu. Bisa juga terlalu gemuk, berkacamata, bahkan tidak bergaya kekinian. Membuat seseorang menjadi objek intimidasi oleh teman-temannya.

Ras dan agama berbeda. Pada kasus tertentu, seseorang dengan ras dan agama berbeda, atau minoritas, dapat mengalami bullying karena dianggap aneh dan tidak sewajarnya, atau rasis.
Menjadi pintar atau terlalu menonjol. Siswa pintar dan cerdas, memiliki keahlian tertentu, lebih diperhatikan guru sering menjadi korban bully. Penyebabnya sepele, hanya cemburu dan iri.

Mengapa Anak Menjadi Pelaku Bully?

Pelaku bullying sering diasosiasikan sebagai orang yang penuh masalah dalam pribadinya. Namun, anggapan ini hanya setengahnya. Benar, bila pelaku bully umumnya memiliki masalah kepribadian. 
Mereka membully untuk melampiaskan emosi dan mencari pengakuan kuatnya diri mereka.

Beberapa alasan melatarbelakanginya: pelaku seringkalinya mempunyai masalah pribadi (baik dengan keluarga atau teman lingkungan). Pelaku merupakan korban bullying sehingga mencari pelampiasan ke teman. Merasa iri pada korban yang terlalu menonjol dilingkungan sekolah. Pelaku ingin mencari perhatian. Sulitnya mengatur emosi membuat anak melampiaskannya dengan menyakiti dan mengintimidasi anak lain. Terakhir, pelaku mempunyai empati yang kurang, sebaliknya, menyakiti orang lain membuatnya behagia.

Bullying Dapat Membuat Hidup Terasa Mati
Perundungan atau bullying dapat menjadi momok dalam kehidupan anak. Korban bullying yang umumnya pendiam seringkali tidak tertangani dan tidak punya tempat berlindung. Perasaan kesepian dan sedih yang berlarut pada korban menyebabkannya mengalami depresi dan gangguan kecemasan. Dampaknya pun tampak dari perbedaanya melakukan akivitas sehari-hari. Korban bullying dapat mengalami mimpi buruk dan mempengaruhi kualitas tidurnya. Pola makan yang tidak teratur atau tidak berselera. Hingga kehilangan minat pada aktivitas yang dulu dianggap menyenangkan. Bukan tidak mungkin korban bullying memiliki niatan untuk bunuh diri karena menganggap hidupnya tidak berguna. Pada saat ini korban sangat perlu pendampingan dan pertolongan dari keluarga, guru, dan sahabat. Luka fisik yang diderita korban bisa sembuh dengan cepat, tapi luka emosional mampu bertahan lama hingga mempengaruhi hidup korban.
Dampak emosional korban dapat bertahan hingga dewasa. Forbes.com dalam artikelnya, The Psychological Effects of Bullying Last Well into Adulthood, Study finds (Studi Menemukan Bahwa Dampak Psikologi dari Bullying Bertahan Hingga Dewasa), menebutkan bahwa anak korban bullying beresiko tinggi mengalami depresi, gangguan kecemasan, generalized anxiety disorder, dan agoraphobia (yaitu ketakutan pada perasaan terjebak dalam situasi panic, tidak berdaya, atau malu) pada saat dewasa.

Pelaku-pun Perlu Pertolongan
Pelaku bullying tidak bisa hanya dikucilkan akibat perbuatan yang dilakukannya. Itu sama seperti membully orang yang membully dan permasalahan tidak akan selesai. Perilaku negatif pelaku dapat semakin menjadi bila tidak ada dorongan dari keluarga atau pihak berwenang untuk berubah. Bukan tidak mungkin, pelaku terjebak dalam narkoba, melakukan tindak kekerasan, bahkan kriminal. Bisa berakibat pada munculnya perilaku kekerasan (abusive) terhadap keluarga atau orang disekitarnya.

Bagaimana Jika Terjadi Bullying?
Bullying dapat terjadi pada siapa saja, yang dianggap lemah dan mudah ditindas. Ini merupakan masalah serius mengingat dampaknya bisa bertahan hingga dewasa. Penanggulangan bullying hendaknya dilakukan oleh semua pihak.
Bagi korban bullying, yakinkan diri anda untuk bercerita pada orang dewasa. Keluarga dan guru berhak tahu apa yang anda alami dan wajib menindaklanjutinya. Beranilah untuk berekspresi lebih. Ingat, pelaku bullying senang ketika melihat anda terpuruk, tunjukkan pada mereka bahwa anda adalah pribadi kuat. Carilah teman yang dirasa mampu melindungi anda, bergaul dengan orang yang ‘kuat’ dapat mengurangi resiko anda menjadi korban bullying.
Temanpun demikian, bela teman anda bila ia mengalami bullying. Jadilah sahabat bagi korban bullying agar ia bisa kembali menikmati hidupnya secara wajar. Jika bullying tidak berkurang, beranikan diri untuk mengajak korban bullying melapor pada guru atau orang tua korban.
Orang tua dan guru harus memperhatikan anak pendiam. Ketika anak mulai bicara tentang perilaku bully temannya, jangan anggap itu sebagai candaan biasa. Bully atau tidak adalah hak dari korban untuk menyebutnya. Jika perbuatan tersebut melukai fisik dan emosional, maka itu adalah bullying. (Penulis: Melina Nurul Khofifah)

Posting Komentar

0 Komentar