Hampir Seluruh Remaja Indonesia Hidup di Dunia Online, Menurut Laporan UNICEF

(Foto: Hellosehat)


KomnasAnak.com, Jepara - Pada 26 Februari lalu, UNICEF Indonesia bersama dengan kantor UNICEF lainnya di kawasan Asia Timur merilis laporan Our Live Online (Hidup Kita di Dunia Daring). Studi ini berusaha menggambarkan penggunaan media sosial di kalangan anak-anak dan remaja di empat negara yang diteliti, yaitu Indonesia, Thailand, Kamboja, dan Malaysia.

Tahukah kamu? Diantara penggunaan internet di dunia, Asia memiliki tingkat penggunaan internet tertinggi. Meskipun begitu, perkembangan internet menunjukkan jurang pemisah yang sangat besar antara kawasan kota dan pedesaan. Pengguna kelas menengah ke atas di perkotaan cenderung menunjukkan perkembangan digital yang progresif. Tapi kelas menengah ke bawah di pedesaan memiliki perkembangan yang lamban.

Berdasarkan total populasi, ternyata pengguna internet di Indonesia belum mencapai setengah dari jumlah penduduk. Bahkan, prosentase pengguna internet di Indonesia baru mencapai 38,7%. Menjadikan Indonesia sebagai negara dengan tingkat penggunaan internet paling rendah dantara empat negara yang diteliti.

Tapi kawan, ternyata hampir semua anak dan remaja di Indonesia menggunakan smartphone dan media sosial. Sebanyak 98,3% remaja dari usia 16-24 tahun memiliki smartphone. Sedangkan prosentase penggunaan media sosialnya sebesar 90,7%. Jumlah paling banyak diantara empat negara yang di teliti.

Aplikasi paling popular di kalangan anak dan remaja adalah Instagram, Facebook, Youtube, Whatsapp, dan gim seperti PubG dan Mobile Legends. Laki-laki dan perempuan hanya memiliki sedikit selisih pada penggunaan sosial media dan gim.

Banyaknya pengguna internet ini juga banyak menimbulkan ancaman bagi anak itu sendiri. Di Asia sendiri, UNICEF mencatat beberapa masalah paling gawat seperti eksploitasi dan perdagangan anak. Senada dengan UNICEF, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) serta KPAI telah menghimbau besarnya resiko anak menjadi korban eksploitasi seksual dan perdagangan anak.

Dari empat negara yang diteliti, permasalahan yang dihadapi relative sama. 1.) kurangnya keterampilan teknologi dan literasi digital di kalangan orang tua, keluarga, dan guru. 2.) kurangnya respon orang tua pada pelanggaran yang dilakukan anak di internet. 3.) kurangnya penelitian tentang kebijakan berinternet yang aman.

UNICEF memberikan rekomendasi melalui strategi INSPIRE, atau Tujuh Strategi untuk Mengakhiri Kekerasan pada Anak. Meliputi Implementation and enforcement of laws (Implementasi dan penegakan hukum); Norms and values (Norma dan nilai); Safe Environments (Lingkungan yang aman); Parent and caregiver support (Orang tua dan dukungan pengasuh); Income and economic strengthening (Penguatan pendapatan dan ekonomi); Response and support services (Layanan respon dan dukungan), serta Education and life skills (Pendidikan dan ketereampilan hidup).
(Penulis: Melina Nurul Khofifah)

Posting Komentar

0 Komentar