Mengapa Indeks Ramah Anak Indonesia Menurun?

Ilustrasi oleh: Pascal Champion Art


KomnasAnak.com, JEPARA - Seberapa ramahkah Indonesia bagi anak-anak? Save the Children dalam laporan Global childhood Report 2019 menempatkan Indonesia pada peringkat ke 107 dari 176 negara yang ramah anak.

Fokus dalam laporan yang berjudul “Changing Lives in Our Lifetime” ini meliputi isu kesehatan (angka kematian dan stunting), pendidikan (putus sekolah dan bekerja di usia muda), kekerasan, dan pernikahan dini.

Dua organisasi besar yang menyoroti perlindungan anak, UNICEF dan Save the Children, sama-sama mencatat adanya penurunan tingkat kematian pada anak usia 0-5 tahun. Presentase kematian yang mencapai 26,4 di tahun 2018 ditekan menjadi 25,4 pada 2019. Menurunnya presentase kematian pada bayi dan balita ini menunjukkan kualitas pelayanan kesehatan dan lingkungan sehat yang semakin baik setiap tahun.

Meskipun demikian, indeks ramah anak justru menunjukkan penurunan peringkat dan kualitas. Pada 2019, Indonesia menempati peringkat 107 dengan skor 792. Sedangkan pada tahun 2018, Indonesia berada pada urutan 105 dengan skor 794.  Mengapa?

Peningkatan Kesehatan dan Penurunan Indeks Ramah Anak

Kualitas kesehatan di Indonesia mengalami peningkatan dan mampu menekan angka kematian bayi. Namun, masalah yang lebih genting justru datang dalam lingkungan keluarga sendiri. Save the Children mencatat adanya kenaikan presentase kekerasan yang menyebabkan kematian pada anak usia 0-19 tahun, dari 1,8% menjadi 2,8% di tahun 2019.

Mayoritas kekerasan terjadi dilatarbelakangi oleh hal sepele yang kadang memancing emosi pelaku. Sejak pertengahan tahun 2019 hingga awal 2020 telah terjadi banyak kasus pembunuhan anak yang dilakukan oleh orang tua. Contoh kasus ibu kandung yang membunuh anak kandungnya yang berusia 2 tahun. Miris, anak seusia itu dibunuh dengan cara dipaksa minum satu gallon air. Faktor penyebabnya karena kesal dengan suami. Selain itu, kasus seorang ibu di Sukabumi yang membunuh anak angkatnya karena cemburu juga menjadi perhatian publik. Dan yang terbaru, seorang ibu di Kupang yang membunuh anak balitanya karena kencing di Kasur.
Berbagai fakta di atas menunjukkan bahwa peningkatan kesehatan anak ternyata tidak berbanding lurus dengan capaian indeks ramah anak. Lantas mengapa ini bisa terjadi?

Filicide?

Filicide adalah istilah untuk menyebut tindakan orang tua (ayah atau ibu) yang membunuh anaknya sendiri. Ternyata fenomena orang tua membunuh anaknya ini telah lama ada dan semakin bertambah. Sudah banyak pakar psikologis dan peneliti yang mempelajari filicide.

Dari penelitian tersebut disimpulkan bahwa 1) apabila pelaku pembunuhan seorang laki-laki, maka kecenderungan membunuh dilatar belakangi oleh ketidaksengajaan akibat pengaruh obat-obatan atau alkohol. 2) sedangkan, bila pelaku pembunuhan adalah seorang perempuan, maka motif membunuhnya cenderung akibat masalah kesehatan mental. Selain itu, kebanyakan pelaku memiliki rasa penyesalan dan berusaha menebusnya dengan cara apapun.

Kasus yang berkaitan dengan kesehatan mental menjadi diskusi yang cukup panjang, namun dapat diidentifikasi terjadi karena adanya beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah 1) Sendirian dan kurang dukungan, tidak hadirnya keluarga, teman, dan masyarakat yang mendukung dan membantu proses mengurus anak. 2.) Stress, meliput tekanan financial, pekerjaan, anak sakit, dan mengurus anggota keluarga lain. 3.) Ekspektasi terlalu tinggi, yaitu kurang memahami tahapan perkembangan anak, sehingga menimbulkan kecewa berlebihan. 4.) Kurangnya kemampuan parenting, tidak mengetahui cara mendidik dan mengarahkan anak ke arah positif. 5.) Masalah alkohol dan obat-obatan. 6.) Kurang percaya diri, terkadang orang tua yang kurang percaya diri meragukan kemampuan mereka dalam mendidik anak dan tidak meminta bantuan dari pihak lain. 7.) Masa kecil yang buruk, bisa saja pelaku pembunuhan mempunyai pengalaman penyiksaan sewaktu kecil.

Kebanyakan pelaku filicide tidak pernah bermaksud membunuh anak mereka. Mereka justru mencintai anak mereka dan ingin merawatnya dengan baik. Hal ini menyebabkan filicide yang tidak didahului tindak kekerasan sulit untuk dicegah. Tindakan preventif berupa pendampingan oleh orang-orang terdekat sangat dibutuhkan, terutama orang untuk memahami masalah yang dihadapi orang tua. Bila kita merasa berat untuk mengasuh anak, maka carilah teman untuk bersandar dan membantu meringankan pikiran kita. Dan jika kita tahu ada teman atau saudara kita yang stress, hendaknya kita dekati dan mendampinginya. Kita sebagai suatu komunitas masyarakat berhak dan wajib mencegah terjadinya filicide. Sebab pencegahan terhadap filicide sejak dini akan memberikan dampak yang signifikan, khususnya bagi peningkatan indeks ramah anak. (Penulis: Melina Nurul Khofifah)

Posting Komentar

0 Komentar