Negara Global Gagal Mewujudkan Planet Layak Huni bagi Anak

Demonstrasi anak dan remaja (foto: The Guardian)

KomnasAnak.com, NASIONAL - Setiap negara di dunia telah gagal untuk melindungi kesehatan dan masa depan anak-anak dari perubahan iklim, degradasi ekologis, dan praktik pemasaran yang eksploitatif. Berdasarkan laporan yang dipublikasikan 18 Februari lalu oleh WHO-UNICEF-Lancet Comission.

Laporan A Future for the World’s Children? dibuat oleh komisi beranggotakan 40 ahli kesehatan anak dan remaja seluruh dunia yang difasilitasi WHO dan UNICEF.

Berdasarkan publikasi Lancet Comission, meskipun selama 20 tahun terakhir ada peningkatan dramatis dalam bidnag kelangsungan hidup, nutrisi, dan pendidikan, anak-anak saat ini menghadapi masa depan tidak pasti.

“perubahan iklim, degradasi ekologi, migrasi, konflik, ketimpangan yang meluas, dan praktik komersial predator yang mengancam kesehatan dan masa depan anak-anak di setiap negara,” kata laporan tersebut

“di tahun 2015, negara-negara dunia telah menyetujui SDGs (tujuan pembangunan berkelanjutan), dan setelah hampir lima tahun berlalu, beberapa negara telah mencatat kemajuan dalam pencapaiannya,” tulis laporan dari 40 ahli kesehatan anak dan remaja tersebut.

Komisi yang diselenggarakan oleh WHO, UNICEF,dan jurnal medis Lancet menyerukan perubahan radikal (sampai kepada hal ynag prinsip)  untuk melindungi kesehatan dan masa depan anak-anak dari darurat iklim yang semakin intensif.

Komisi ini juga menyoroti ancaman praktik komersial predatori, yang membuat anak-anak terpapar pemasaran makanan cepat saji dan minuman manis. Menyebabkan adanya peningkatan pada angka obesitas anak mennjadi 11 kali lipat, dari 11 juta pada 1975 menjadi 124 juta pada 2016.

Laporan tersebut mencakup indeks dari 180 negara yang membandingkan data tentang kelangsungan hidup, kesejahteraan, kesehatan, pendidikan dan gizi; serta berlanjut, dengan proksi untuk gas emisi greenhouse, ekuitas, dan perbedaan pendapatan.

Norwegia, Korea Selatan, Belanda, Prancis, dan Irlandia adalah negara terbaik bagi pertumbuhan anak-anak pada usia muda mereka. Republik Afrika Tengah, China, Somalia, Nigeria, dan Mali adalah lima negara dengan peringkat terbawah, berdasarkan peringkat yang sama.

Namun bila performa dibandingkan dengan memperhitungkan emisi karbon per kapita, maka Burundi, Chad, dan Somalia adalah yang terbaik, sedangkan AS, Australia, dan Arab Saudi berada peringkat 10 terendah.
“Ketika penulis memperhitungkan emisi
CO2 per kapita, negara yang menempati peringkat teratas dalam pertumbuhan justru berada dibelakang, Norwegia peringkat 156, Korea Selatan 166, dan Belanda 160. Ketiga negara tersebut memancarkan 210% lebih banyak CO2 per kapita daripada target 2030 mereka,” kata laporan.

Laporan ini menuliskan bahwa ada beberapa negara yang antara pencapaian target emisi CO2 per kapitanya sejalan dengan keadilan pertumbuhan anak(diatas 70%) adalah: Albania, Armenia,  Grenada, Yordania, Moldova, Sri Lanka, Tunisia, Uruguay, dan Vietnam.

Komisi tersebut sepakat jika negara-negara miskin perlu berbuatt lebih banyak untuk mendukung kemampuan anak-anak mereka untuk hidup sehat, serta melindungi mereka dari emisi karbon berlebih dari negara kaya yang mengancam masa depan.

Kepala Kesehatan UNICEF, Stefan Peterson, mengatakan bahwa anak-anak yang tinggal di negara-negara miskin juga ikut menghadapi beban perubahan iklim, meskipun negara mereka mempunyai jejak karbon kecil.

“Anak-anak ini menghadapi tantangan besar bagi kesehatan dan kesejahteraan mereka, dan sekarang berada pada posisi paling tidak menguntungkan karena krisis iklim,” kata Peterson. “Kami membutuhkan hasil berkelanjutan dalam kesehatan dan perkembangan anak, yang berarti bahwa penghasil emisi karbon besar perlu mengurangi emisinya agar semua anak dapat berkembang, baik miskin atau kaya,” imbuhnya.

Laporan ini menyatakan: “jika pemanasan global melebihi 4C pada tahun 2100 sejalan dengan proyeksi saat ini, akan menyebabkan konsekuensi kehancuran bagi anak, karena naiknya permukaan laut, gelobang panas, proliferasi penyakit seperti malaria dan demam berdarah, sera kekurangan gizi.”

Anthony Costello, Profesor kesehtan global dan pembangunan berkelanjutan di University College London mengatakan komisi tersebut menyerukan pemikiran ulang yang radikal terhadap kesehatan anak global.

“ Perubahan iklim mengancam masa depan anak-anak kita sehingga kita harus menghentikan emisi karbon sesegera mungkin,” kata Costello kepada Guardian.

“Indeks baru kami menunjukkan bahwa tidak ada satupun negara yang berkinerja baik pada indicator perkembangan anak dan emisi.”

“Kami juga menyerukan regulasi yang lebih sempuran untuk pemasaran tembakau, alcohol, susu formula, minuman manis dan perjudian untuk anak-anak, dan perusahaan media sosial yang menargetkan anak-anak melalui algoritma rahasia dan penggunaan data pribadi mereka yang tidak tepat.”

Laporan A Future for the World’s Children ini mengatakan bahwa anak-aak beresiko dari pemasaran yang berbahaya. “Bukti menunjukkan bahwa anak-anak di beberapa negara melihat sebanyak 30.000 iklan di televisi saja dalam satu tahun, sedangkan paparan kaum muda terhadap iklan rokok elektronik meningkat lebih dari 250% di AS selama dua tahun mencapai lebih dari 24 juta anak muda.”

Kata Anthony Costello, ‘pengaturan mandiri’ industry telah gagal. Costello memberikan tambahan contoh bahwa di Australia, anak-anak dan remaha masih terpapar 51 juta iklan alcohol dalam satu tahun siaran olahraga.

“kenyataannya bisa jadi lebih buruk,” kata Costello. “kita punya beberapa fakta dan figure tentang besarnya ekspansi oleh iklan dan algoritma media sosial yang ditujukan

pada anak kita.”
Komisi bentukan PBB menyerukan kepada pemerintah untuk menerapkan langkah-langkah untuk memastikan anak-anak menerima hak mereka.  Hak mereka sekarang adalah planet yang dapat ditinggali di tahun-tahun mendatang.
“kita hidup dalam sebuah era seperti tidak ada siapa-siapa. Anak-anak kita menghadapi masa depan dengan peluang besar, ttapi mereka harus berdiri diatas jurang krisis iklim … tantangan kita besar dan kita tampak lumpuh.”
(Editor: Melina Nurul Khofifah)

Posting Komentar

0 Komentar