Penggunaan Ponsel Berlebih Berbahaya bagi Mental Anak

Sumber: suaramerdeka.com
KomnasAnak.com, Jepara - Dewasa ini, hampir seluruh orang di dunia memiliki ponsel, tidak terkecuali anak-anak. Ponsel menjadi bernilai dan bermanfaat ketika dimiliki oleh orang dewasa. Namun sebaliknya, jika pemilik ponsel adalah anak-anak, mayoritas memanfaatkannya bukan sebagai sarana belajar dan komunikasi, tetapi justru bermain game dan media sosial. Perlu menjadi perhatian bahwa game dan media sosial mampu berakibat buruk bagi anak, terutama balita. Ponsel sering menjadi senjata jitu bagi orang tua agar dapat mengontrol anaknya dengan mudah tanpa mengganggu aktifitas harian. Atau mungkin agar orang tua bisa leluasa memainkan ponselnya tanpa takut diganggu oleh anak-anak mereka. Akhirnya, para orang tua memberikan ponsel bagi anak-anaknya.

Ada hal penting yang perlu orang tua perhatikan, yakni masa keemasan (golden age) putra putri mereka. Usia 1-5 tahun adalah periode perkembangan kecerdasan anak yang sangat sensitif. Pada periode ini anak sangat mudah untuk meniru dan menerima hal baru. Dalam diri anak akan terbentuk karakter, mental, dan spiritual yang akan menunjang perkembangan di masa mendatang. Memberi ponsel pada anak tidak sepenuhnya salah jika penggunaannya diatur dan bersifat edukatif. Namun, penggunaannya dalam jangka waktu terlalu lama akan menghambat perkembangan kecerdasan dan kesehatan anak. Bila anak sudah kecanduan ponsel, bukan tidak mungkin anak menjadi emosional, memberontak, dan malas beraktifitas.

Rasa kecanduan pada ponsel akan membawa anak pada perilaku emosionalnya. Anak menjadi mudah jenuh dan mood buruk ketika tidak memegang ponsel. Bergaul dengan anak di dunia nyata pun menjadi hal yang membosankan bagi mereka. Akan tetapi, anak akan menjadi ceria seketika bila diberikan ponsel. Sebaliknya, berubah menjadi gelisah dan marah ketika harus berpisah dengan ponsel. Kurangnya pergaulan di dunia nyata karena tergantikan oleh ponsel mampu membuat anak menjadi pribadi yang introvert.

Ponsel dan Emosi Anak

Emosi anak saat memainkan ponsel akan berakibat pada terganggunya fungsi pre frontal cortex (PFC), yaitu bagian dalam otak yang mengontrol emosi, kontrol diri, tanggung jawab, pengambilan keputusan, dan nilai moral. Sensasi bahagia yang ditimbulkan oleh anak ketika bermain ponsel muncul akibat naiknya hormon dopamine (hormon bahagia). Kelebihan hormone ini akan mengakibatkan seseorang mengalami kecanduan.

Dopamine akan mempengaruhi fungsi kognitif anak. Menurut beberapa penelitian, efek candu yang ditimbulkan oleh aplikasi ponsel sama bahayanya dengan efek candu narkoba. Pre frontal cortex pada anak yang belum terbentuk sempurna bisa mengalami efek buruk akibat tidak mengerem penggunaan ponsel. Efek buruk yang mampu timbul antara lain adalah gangguan dalam gerakan, berfikir, memecahkan masalah, mengambil keputusan, serta membuat perencanaan.

Mengapa Remaja Sekarang Lebih Emosional?

Bukan anak balita saja yang mengalami gangguan emosi seperti ini, anak remaja juga mengalaminya. Rasa tidak tertahan akibat tidak bermain ponsel kerap menjadi pembenaran untuk selalu bermain ponsel apalagi dengan maraknya media sosial dan game online di ponsel. Sebut saja Facebook, Instagram, Tiktok, Youtube, dan Mobile Legend. Dalam sekejap remaja memiliki suasana hati yang bahagia namun seketika berubah ketika kalah bermain hinggga membanting ponselnya. Temuan dalam jurnal Preventive Medicine Reports menunjukkan bahwa menatap layar ponsel dalam satu jam saja sudah mampu membentuk kecenderungan sikap tidak peduli dan emosional pada anak dan remaja. Hal ini mampu meningkatkan resiko gangguan kecemasan dan depresi.

Penelitian oleh Jean M. Twenge ini memaparkan adanya kecenderungan bertambah lama menatap layar seiring dengan bertambahnya umur. Pada umur 14-17 tahun, anak cenderung menghabiskan 4 jam 35 menit per hari untuk bermain ponsel. Faktanya, baik anak yang menatap layar 1 jam dan 4 jam memiliki efek yang hampir sama dalam penurunan kemampuan psikologisnya. Sedangkan pengguna ponsel akut (diatas 7 jam per hari) dua kali beresiko dalam penurunan kemampuan psikologis. Kemampuan ini termasuk mudah cemas, tidak mengerjakan PR, tidak peduli, dan mudah marah. Selain itu kecanduan ponsel membuat anak lebih susah untuk diatur.

Dibanding dengan anak-anak, remaja memiliki resiko lebih tinggi untuk mengalami masalah mental dan kesehatan. Hal ini karena remaja mempunyai ponselnya sendiri dan pembatasan oleh orang tua semakin longgar. Pembentukan karakter juga ikut terhambat karena ponsel mampu menggantikan interaksi tatap muka dengan lingkungan sekitar. Serta mampu mempengaruhi durasi dan kualitas tidur akibat ponsel yang dibawa ke tempat tidur.

Orang Tua Kunci Mengatasinya

Orang tua berperan sangat penting untuk membatasi penggunaan ponsel. WHO tidak membolehkan anak usia 0-2 tahun untuk menatap layar ponsel. Pada usia ini, WHO menyarankan agar anak dibiakan aktif bergerak untuk merangsang tulang dan ototnya. Anak usia 3-4 tahun hanya diperbolehkan menatap layar kurang dari 1 jam, dan memperbanyak aktifitas fisik serta bersosialisasi dengan teman sebayanya. Untuk usia 5 tahun keatas penggunaan ponsel tidak lebih dari 2 jam untuk sarana hiburan. Mengenalkan hal baru dan teman baru sangat penting bagi anak di usia ini untuk membentuk pribadi yang bersosialisasi. Orang tua hendaknya menghindari bermain ponsel dihadapan anak-anaknya, karena mampu memancing rasa ingin tahu anak dan berakibat pada kecanduan.

Bersikap tegaslah pada anak kita, termasuk pada remaja. Pada tahap yang akut, remaja bahkan tidak segan untuk mengambil uang milik orang tua untuk membeli game. Pengawasan orang tua harus ditekankan untuk mengembalikan fungsi awal pemberian ponsel, yaitu edukasi dan komunikasi. Usahakan untuk tidak memberi anak uang saku berlebih. Batasi penggunaan ponsel pada anak, dan alihkan dengan waktu berkumpul bersama keluarga.

Pembatasan ponsel juga berlaku bagi orang tua, bila ingin anak bijak menggunakan ponsel, maka beri mereka teladan. Simpan ponsel kita setelah bekerja dan luangkan waktu untuk bercengkrama dengan anak. Bagaimanapun kita tidak bisa membiarkan masa depan anak kita terbunuh! (Penulis: Melina Nurul Khofifah).

Posting Komentar

0 Komentar