Resiko Perilaku Agresif pada Anak dan Remaja Pengguna Game Online

Ilustrasi Game PUBG (Foto: Kumparan.com)

KomnasAnak.com, Jepara - Merupakan fakta, jika game online lebih banyak mengandung pengaruh negatif daripada positif. Terutama game bertema kekerasan, dengan dominasi pemain anak dan remaja. Bertambahnya jumlah remaja pemain game online, ikut mempengaruhi angka kekerasan yang terinspirasi dari game tersebut.

Seperti yang baru-baru ini terjadi. Seorang remaja berinisial CCS tega menusuk ibu kandungnya sendiri menggunakan gunting sebanyak tiga kali. Peristiwa penusukan di tanjung Duren ini disinyalir akibat paparan negatif game online. Namun, sebelumnya polisi menduga jika tersangka mengalami depresi akibat game online.

Dikutip dari CNN Indonesia, Deputi Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan dan Perlindungan Anak, Nahar, mengatakan jika tindak kekerasan ini kemungkinan terinspirasi dari hal negatif di dunia digital.

ia terinspirasi oleh tayangan atau oleh pengalaman orang lain atau misalnya karena terinspirasi oleh hal-hal (di internet) yang seharusnya dia tidak lakukan,” kata Nahar kepada media di Kantor Kementerian Pendidkan dan Kebudayaan, Senin (10/2).

Game: Media Kenalkan Kekerasan pada Anak

Beberapa studi telah mengaitkan timbulnya perilaku agresif remaja dengan game kekerasan. Hubungan antara video game kekerasan dan sikap agresif telah menjadi isu yang menarik perhatian peneliti. Menurut Psychology Today, setidaknya ada tiga alasan mengapa video game kekerasan mampu mempengaruhi sikap agresif seseorang. Bahkan pengaruhnya lebih berbahaya dari teyangan televisi.

Pertama, game bersifat aktif sedangkan televisi pasif. Pemain game lebih tertarik karena merasa ikut masuk langsung dalam dunia game. Kita belajar lebih baik jika kita ikut kedalam pembelajaran. Lingkungan game yang terasa langsung praktek membuat kita belajar lebih baik. Bisa dibayangkan, metode terbaik mana yang akan kamu pilih: membaca buku, menonton program televisi, atau bermain game simulator?

Kedua, pemain video game kekerasan lebih banyak mengidentifikasi dirinya sebagai pemeran jahat. Misalnya anda bermain game sebagai mafia pembunuh, maka anda memiliki gambaran yang sama dengan pembunuh tersebut. Dari sini, tanpa sadar anda belajar teknik untuk membunuh.

Ketiga, game kekerasan langsung memmberikan hadiah yang membuat ketagihan, seperti memberi poin atau naik level. Atau juga hadiah berupa sanjungan ketika anda berhasil membunuh musuh, seperti “legendary,” atau, “you have slayed an enemy (kamu telah membunuh musuh)”. Logikanya seperti ketika gurumu bilang, “kamu sangat pintar, ujianmu memuaskan,” kamu akan merasa senang dan terpancing untuk belajar. Lain halnya ketika gurumu bilang, “kok kamu nggak bisa kayak dia,” yang membuat minder.

Dari studi Psychology Today, diperoleh kesimpulan jika game kekerasan mampu meningkatkan pikiran agresif, perasaan marah, gangguan jantung, dan cenderung bersikap agresif.

Kesimpulan yang didapat dari Psychology Today sama dengan yang diungkapkan oleh psikolog klinis Personal Growth, Anita Carolina Hendarko. Seperti yang dilansir dari CNN Indonesia, Anita mengungkapkan bahwa game online kekerasan mampu mempengaruhi psikologis dan kognitif pemainnya, terutama pada anak-anak.

Anita menjelaskan jika game online mampu menyebabkan perilaku agresif, permasalahan control emosi, sulit mengendalikan diri, masalah kognitif, dan bisa merubah struktur otak.

Misalnya menyebabkan perilaku agresif, permasalahan control emosi, kesulitan pengendalian diri, kognitif, hingga dapat menyebabkan perubahan struktur otak (bagi individu yang kecanduan),” kata Anita.

Anita mengungkapkan jika identifikasi diri yang menjadi alasan tumbuhnya perilaku agresif pada pemain game. Dengan bermain game, para pemain akan mengidentifikasi dirinya sebagai tokoh penjahat dalam video game terebut. Game online berunsur kekerasan mampu meningkatkan aktivitas fisik dan pikiran, perasaan, serta perilaku agresif.

Game merupakan media dengan kekuatan besar. Ia bukan hanya mampu mengirimkan pesan melalui pendengaran, tapi juga melalui penglihatan dan gerakan. Dibanding televisi, game memiliki efek negatif lebih besar. Dengan TV, seseorang tak mampu bergerak aktif meniru karena hanya melibatkan pendengaran dan penglihatan. Sedangkan, game memberikan sensasi gerak pada pemain.

Efek negatif game ini sangat besar bagi anak dan remaja, terutama laki-laki sebagai mayoritas pemain game kekerasan. Anak dan remaja sebagian besar berperilaku dari meniru apa yang mereka lihat di lingkungan sosial mereka. Anak yang kecanduan bermain game sangat rentan untuk meniru kekerasan pada game.

Bagaimana Membatasi Diri?

Anita membagikan beberapa cara untuk membatasi diri dari pengaruh buruk game online:
Perlunya pengawasan penuh orang tua terhadap waktu dan penggunaan ponsel dan game pada anak-anak. Sebaiknya, pilihkan anak game bertema edukasi yang menunjang prestasi anak, dan hindarkan dari game bertema kekerasan.

Beri perhatian pada remaja tentang pentingnya membatasi diri dari bermain game online bertema kekerasan. Serta beri pengertian bahwa game bukan dunia nyata, dan tidak diciptakan untuk diterapkan di dunia nyata.

Bagi remaja dan dewasa, cobalah untuk membuat pengalihan. Carilah hobi lain yang positif, seperti membaca, kegiatan sosial, olahraga, bermain music, membantu orang tua, atau hobi lain. Kesibukan di dunia nyata mempu mengalihkan diri dari kesibukan bermain game.

Namun, yang terpenting adalah jangan pasang terlalu banyak game di laptop atau ponsel. Jika anda sejak awal tidak memasang game, maka anda tidak akan kecanduan. Game dirancang untuk membuat penggunanya ketagihan, lebih banyak game yang anda pasang lebih banyak waktu yang anda habiskan untuk menatap layar.

Beri alarm untuk membatasi pemakaian game. Jika tidak mempan, cari teman atau keluarga yang bisa membantu mengingatkan waktu bermain game.

Namun, jika cara-cara diatas tidak berhasil. Cobalah untuk berkomunikasi dengan psikolog atau professional untuk mendapat solusi kecanduan anda. Kesadaran diri jika kecanduan mampu menyita waktu berharga anda, mental anda yang lelah mampu enyebabkan anda depresi. Coba sisihkan uang yang biasa anda gunakan untuk membeli game, uang tersebut nantinya akan berguna jika anda benar-benar butuh psikiater.

Terbukanya kasus penusukan yang meniru game kekerasan sudah seharusnya memancing kita untuk berbuat lebih. Persoalan internet tidak sehat masih menjadi masalah besar di Indonesia. Karena internet mampu menjerumuskan anak pada bullying, kekerasan pada teman dan keluarga, tindakan mencuri, hingga depresi.

Tak capeknya kami mengingatkan untuk jaga pola komunikasi dengan anak dan mengetahui isi handphone anak. Terkesan kuno untuk jaman yang telah berubah, namuun efektif untuk menjaga waktu berkualitas dan mengurangi perilaku beresiko pada anak. Pantau penggunaan handphone anak untuk edukasi dan informasi. Di sekolahpun, pendidikan karakter dan pembatasan penggunaan handphone mampu diterapkan untuk mengurangi tingkat kecanduan game kekerasan.
(penulis: Melina Nurul Khofifah)

Posting Komentar

0 Komentar