Siswa Korban Bullying di Malang Jalani Amputasi Jari Tengah

Kapolresta Malang Kota Kombespol Leonardus Simarmata saat menengok MS korban bullying. (Humas Polresta Malang Kota)
KomnasAnak.com, NASIONAL - Sudah 12 hari, MS, korban bullying di SMPN 16 Malang menjalani rawat inap di Rumah Sakit Lavalette Malang.
Kejadian bullying ini disebut berawal dari gurauan hingga membuat terluka. Korban yang dikenal pendiam akhirnya menderita lebam disekujur tubuh akibat bullying oleh tujuh orang teman sekolahnya.
Naasnya, jari tengah korban tidak bisa diselamatkan. Luka terlalu parah membuat jari tengahnya tidak dapat berfungsi lagi. Dokter memutuskan mengambil tindakan setelah tidak ada perbaikan keadaan.
Operasi dilakukan pada Selasa, 4 Februari, pukul 18.00 WIB, selama kurang lebih 3,5 jam. Keluarga menuturkan bila dokter melakukan amputasi terhadap dua ruas jari tengah tangan kanan korban. Sampai sekarang, keluarga masih berfokus pada pemulihan fisik dan mental korban.
Terkait kasus tersebut, Kepolisian Resor Kota (Polresta) Malang Kota telaah melakukan pemeriksaan terhadap tiga orang aksi dan tujuh murid terduga pelaku kekerasan. Para saksi dan terduga pelaku merupakan pelajar SMPN 16 Kota Malang.
Pihak polresta Malang Kota menyatakan menjamin keselamantan dan menjamin perlindungan penuh kepada korban, dan mengharapkan korban kelas VII tersebut  bisa segera pulih. “Yang pasti korban kita lindungi kita bisa lakukan perlindungan lalu juga ada pendampingan ya dari psikolog untuk trauma healingnya,” kata Kombespol Leonardus Simarmata, Senin, (3/2/2020).
Kasus kekerasan ini menjadi viral akibat beredarnya video yang menampilkan kondisi MS penuh luka saat berada di rumah sakit. Informasi yang beredar, MS merupakan korban bullying oleh kakak tingkatnya.

Respon KPAI
Komisioner KPAI bidang pendidikan, Retno Listyarti, mendapat aduan jika MS dianiaya dengan cara diangkat dan dijatuhkan serta diduduki dan tangannya diinjak oleh tujuh orang siswa.
Dalam keterangan tertulisnya, Retno mengatakan telah melakukan kordinasi dengan Dinas Pendidikan Kota Malang.  Dari hasil kordinasi tersebut, diperoleh informasi bahwa dugaan perundunagn terjadi pada miggu kedua bulan Januari 2020.
Retno mengungkapkan bahwa terduga pelaku adalah teman korban di sekolah, ada teman sekelas, ada teman ekskul pramuka, dan ada juga teman badan dakwah islam di sekolah tersebut, jumlah pelaku adalah 7 anak. Korban dikenal sangat pendiam sehingga berpotensi menjadi korban perundungan. Para terduga pelaku beralasan jika mereka hanya bercanda dan tidak bermaksud menganiaya.
Sekolah diduga tidak memiliki system pengaduan sehingga kasus kekerasan ini tidak dilaporkan. Dinas Pendidikan Kota Malang sendiri mengetahui kasus tersebut dari para wartawan.
Selanjutnya, KPAI akan melakukan pengawasan langsung atas kasus ini. KPAI akan meminta pemerintah kota untuk memfasilitasi rapat koordinasi membahas penanganan dan pencegahan kasus serupa di sekolah-sekolah lain.
Proses hukum akan terus dilanjutkan dengan memastikan bahwa korban dan terduga pelaku diproses sesuai UU Perlindungan Anak dan UU Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA). (editor: Melina Nurul Khofifah)

Posting Komentar

0 Komentar