Ancaman DBD pada Anak di Tengah Wabah Corona

KomnasAnak.com, Jawa Tengah -Ditengah ancaman penyebaran virus Corona, masalah kesehatan lain muncul di Indonesia. Ada ancaman lain yang patut diwaspadai, yaitu demam berdarah dengue (DBD).

Menteri Kesehatan RI, Terawan Agus Putranto, menyatakan bahwa permasalahan kesehatan bukan hanya corona, tapi juga DBD. Bahkan, menurut Menteri Terawan, ancaman terbesar bagi RI adalah DBD.

Kementerian Kesehatan telah menyatakan bulan Maret sebagai puncak dari DBD.

Dalam rentang 3 bulan, kasus demam berdarah telah merenggut 104 orang. angka ini dicata Kementerian Kesehatan dari Januari hingga awal Maret 2020.

Jumlah kasus DBD di Indonesia sudah mencapai 17.820 di periode yang sama. Laporan kasus masuk dari 28 provinsi, dengan 370 kabupaten/kota yang terjagkit. Jumlah ini pun diperkirakan akan terus meningkat.

“Saat ini kasus penularan kita di angka 17.820. Angka kematian (akibat DBD) tercatat 104 kejadian. Untuk angka kematian di NTT tertinggi, yakni dengan 32 orang meninggal,” ujar Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, dikutip dari Kompas, Rabu (11/3).

Siti juga merinci 10 provinsi dengan jumlah kasus penularan DBD tertinggi per 11 Maret.

Secara berurutan. Ke-10 provinsi dengan penularan tertinggi tersebut adalah Lampung (3.423 kasus), NTT (2.711 kasus), Jawa Timur (1761 kasus), Jawa barat (1.420 kasus), Jambi (703 kasus), Jawa Tengah (648 kasus), Riau (602 kasus), Sumatera Selatan (593 kasus), DKI Jakarta (583 kasus) dan NTB (558 kasus).

Ternyata jumlah ini terus membludak. Pada 14 Maret, Kepala Dinkes Jateng, Yulianto Prabowo, telah mengkonfirmasi jumlah kasus DBD mencapai 1.227 pasien. Sedangkan jumlah yang meninggal mencapai 17 orang.

“Saat ini sedang ada ribuan pasien yang dirawat karena DB. Bahkan puluhan sudah ada yang meninggal,” kata Yulianto.

Berdasarkan laporan yang didapatkannya, daerah dengan kasus DBD paling banyak adalah Kabupaten Cilacap. Jumlah pasien mencapai 146 dan 2 penderita telah dinyatakan meninggal.

Di urutan kedua adalah Kabupaten Jepara. Terdapat 104 penderita dan 1 penderita dinyatakan meninggal.

Sedang urutan ketiga ditempati oleh Kota Semarang dengan 85 penderita dan 2 meninggal. Kabupaten Tegal dengan 76 pasien dan 1 meninggal. Terakhir Kabupaten Brebes dan Kebumen dengan 61 pasien dan 1 meninggal.

Anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan terserang DBD. Hal itu karena sistem daya tahan tubuh anak yang belum sempurna. Jika idak ditangani dengan tepat, DBD pada anak dapat derakibat pada kematian.

Ayah ibu wajib waspada dengan megenali gejala DBD. Dirangkum dari Klik Dokter, inilah gejala DBD pada anak:

Anak mengalami demam tinggi mendadak (bisa mencapai 40 derajat Celcius) dan biasanya terjadi di malam hari. Demam akan bertahan selama 3 hari dan akan turun pada hari ke-4 dan ke-5. Namun akan naik kembali pada hari ke-6 sampai ke-7.

Penurunan demam pada anak bukan tanda sembuh. Kondisi ini justru menunjukkan anak pada fase kritis DBD, karena ada resiko anak mengalami syok (kegagalan sirkulasi darah).

Ada beberapa gejala yang menyertai DBD, diantaranya: nyeri otot, sendi, tulang, dan belakang bola mata; sakit kepala; bitnik merah di kulit tangan dan kaki; kulit memar; nafsu makan turun; mual; muntah; nyeri perut; mimisan; dan gusi berdarah.

Mengingat pengobatan DBD masih cenderung untuk mengurangi gejala, seperti pemberian infus untuk mencegah dehidrasi dan obat turun panas. Maka Ayah Ibu perlu melakukan beberapa langkah berikut ini untuk antisipasi penularan DBD:

Mengenakan baju tertutup
Menggunakan lotion atau spray antinyamuk
Memakai kelambu saat tidur
Memberantas sarang nyamuk dengan menyingkirkan tumpukan barang atau pakaian yang digantung, mendaur ulang barang bekas, menguras bak air, menutup tempat penampungan air, serta rutin memeriksa jentik nyamuk di genangan air.
(Penulis: Melina Nurul Khofifah)

Posting Komentar

0 Komentar