Hasil Penelitian: Serba Serbi Corona Pada Anak

KomnasAnak.com, NASIONAL - Anak-anak dan remaja memang rentan terhadap Covid-19, tapi kelompok ini cenderung menunjukkan gejala ringan dibanding orang dewasa dan orang tua. Sampai sekarang peneliti tidak tahu mengapa.

Perbedaan usia pada kasus parah ini menjadi pertanyaan kritis ketika para ilmuwan berlomba untuk memperlambat penyebaran virus. Beberapa petunjuk untuk misteri ini mulai muncul, dan jawabannya dapat membantu menentukan jenis tindakan pengendalian apa yang benar-benar efektif, serta menunjukkan jalan menuju perawatan.

“Kami tahu bahwa anak-anak cenderung memiliki infeksi yang lebih ringan, memiliki penyakit yang lebih ringan, tetapi kami telah melihat (setidaknya satu anak) meninggal akibat infeksi ini,” kata Maria Van Kerkhove, pemimpin teknis Covid-19 di WHO, dalam konferensi pers pada 16 Maret. “Kami tidak dapat mengatakan secara keseluruhan bahwa itu ringan pada anak-anak, jadi penting bagi kami untuk melindungi anak-anak sebagai kelompok yang rentan.”

Di Amerika Serikat, dokter mengatakan mereka telah melihat gejala yang lebih ringan –seperti demam dan batuk kering- pada anak-anak. Jika dibandingkan orang tua dewasa yang mencari pertolongan medis.

Saat ini, data tentang efek Covid-19 pada anak-anak masih sedikit, tetapi studi terbaru menunjukkan bahwa beberapa kelompok lebih rentan daripada yang lain tergantung pada usia dan kondisi kesehatan.

Beberapa anak dengan Covid-19 masih dapat mengalami penyakit paru-paru serius. Anak-anak dengan infeksi pernapasan simultan dapat lebih rentan terhadap Covid-19. Bayi dengan kekebalan yang belum matang dapat dengan mudah terkena virus. Tapi tampaknya virus ini kurang parah pada kebanyakan anak-anak.

“Saya rasa jelas bahwa anak-anak tidak terkena dampak serius seperti orang dewasa yang lebih tua,” tambah Englund.

Kelebihannya, meskipun mereka tidak sakit, mereka yang terinfeksi masih bisa menularkan virusnya. Dan dikhawatirkan mampu menyebarkannya pada orang dengan resiko lebih tinggi. Itu berarti langkah-langkah pengendalian epidemi -dari mencuci tangan yang benar hingga menjaga jarak- sama pentingnya bagi kaum muda dan sehat seperti bagi orang yang lebih tua atau sakit.

Apa yang kita ketahui tentang perbedaan usia pada kasus Covid-19 yang parah

Negara dengan sebaran Covid-19 lebih luas, seperti Cina dan Italia, telah melihat dampak terburuk Covid-19 pada orang dewasa yang lebih tua. Jumlah orang dewasa yang dirawat di Rumah Sakit dan meninggal meningkat seiring bertambahnya umur. Masalah kesehatan yang mendasari seperti tekanan darah tinggi, lemahnya sistem kekebalan tubuh, dan diabetes juga memperburuk infeksi.

Namun, sebagian kecil orang muda, dari bayi hingga dewasa muda, juga menderita infeksi serius.

Hasil studi pada bulan Februari di Journal of American Medical Association menyatakan jika lebih dari 72.000 orang terinfeksi di Cina, hanya 2% anak di bawah 19 tahun yang terinfeksi.

Demikian pula, sebuah laporan di Februari dari misi WHO ke China menunjukkan bahwa hanya 2,4% dari yang terinfeksi berusia 18 tahun atau lebih muda. Dari orang-orang muda yang terinfeksi, 2,5% berkembang jadi penyakit parah dan 0,2% berkembang jadi penyakit kritis.

Tetapi laporan WHO juga mencatat bahwa “tidak mungkin untuk menentukan tingkat infeksi diantara anak-anak, apa peran yang dimainkan anak-anak dalam penularan, apakah anak-anak kurang rentan atau jika mereka secara klinis berbeda (yaitu presentasi yang umumnya lebih ringan).”

Artinya, beberapa anak masih melalui proses tes, jadi masih belum banyak informasi tentang jumlah pasti anak yang terinfeksi. Dan dari sana, sulit untuk mengukur tingkat keparahan penyakit bagi kaum muda.

Selain itu, Covid-19 memiliki reaksi berbeda kepada anak-anak dibandingkan dengan infkesi lain, seperti influenza.

Influenza, juga disebabkan oleh virus yang menginfeksi saluran udara, bisa menjadi penyakit serius pada anak-anak. Komplikasi dari influenza, seperti pneumonia dapat berakibat fatal. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, sejak September 144 anak telah meninggal di AS akibat influenza pada musim saat ini pada 7 Maret. Sementara itu, belum ada laporan kematian dari Covid-19 diantara anak-anak di AS sejauh ini.

“Semua infeksi virus lainnya menunjukkan bahwa anak-anak beresiko lebih tinggi dari infeksi,” kata Bria Coates, asisten professor pediatric di Northwestern University dan dokter yang hadir di Rumah Sakit Anak Ann & Robert H. Lurie Children di Chicago. “Mereka cenderung tidak mencuci tangan dengan baik. Mereka tidak saling memberi ruang.” Yang membuat prevalensi parah untuk Covid-19 diantara anak-anak semakin luar biasa.

Alasan dibalik variasi terjangkit infeksi diantara umur masih menjadi misteri. “Alasan mengapa anak-anak kurang terpengaruh daripada orang dewasa berpotensi menjadi pertanyaan yang sangat menarik,” kata Steven Zeichner, seorang professor pediatric di Fakultas Kedokteran Universitas Virginia yang mempelajari penyakit menular. “Kurasa tidak ada yang tahu jawabannya.”

Resiko keseluruhan untuk anak-anak rendah, tetapi bayi dapat mengalami penyakit lebih parah dari Covid-19 dibandingkan dengan anak yang lebih besar.

Meskipun gejalanya lebih ringan, resiko anak menjadi parah tidak nol. Sebuah studi pada 16 Maret dalam jurnal Pedriatrics mengungkapkan lebih dari 2.100 anak-anak segala usia di cina rentan terhadap covid-19. Walaupun gejalanya ringan bahkan tanpa gejala. Kekurangan dari penelitian ini adalah setengah dari anak yang di uji terkonfirmasi menderita Covid-19, tapi setengah lagi masih dugaan. Memungkinkan ada virus lain yang mempengaruhi hasil.

Zeichner, mencatat jika hasil infeksi terburuk dialami bayi. 30% kasus parah dan lebih dari setengah anak terinfeksi kritis ada pada usia kurang dari 1 tahun.

Resiko yang lebih tinggi untuk bayi mungkin karena bayi masih membangun sistem kekebalan tubuh mereka. Ketika bayi lahir, ia mempertahankan beberapa resistensi infeksi dalam bentuk antibody dari ibunya. Perlindungan itu berkurang selama beberapa bulan pertama kehidupan saat bayi membangun pertahanannya sendiri.

“Sistem kekebalan pada anak-anak tidak lebih lemah daripada orang dewasa,” kata Coates. “sebaliknya, mereka belum terlatih.”

Namun, untuk virus baru seperti SARS-CoV-2, tidak ada kekebalan yang dapat ditularkan ibu, karena ibu kemungkinan tidak akan memiliki kesempatan untuk terinfeksi virus baru. juga tidak ada vaksin Covid-19 yang dapat melatih sistem kekebalan anak untuk melawan virus.

Pada saat yang sama, bayi terkena segala macam rangsangan lingkungan untuk pertama kalinya – bakteri, serbuk sari, debu. Untuk mencegah tubuh mereka bereaksi berlebihan terhadap hal-hal yang tidak berbahaya, reaksi kekebalan tubuh mereka dipaksa bertahan.

Hasilnya adalah bayi dibawah 1 tahun lebih rentan terkena komplikasi. Tapi di saat yang sama, sistem kekebalan bayi dilatih menjadi matang, lebih efektif memerangi penyakit karena ia belajar mengidentifikasi ancaman.

Anak-anak dengan masalah jantung, metabolisme, atau pernapasan lainnya juga beresiko lebih tinggi mengalami komplikasi dari Covid-19, sama seperti mereka dari infeksi lain.

Di sisi lain, mungkin ada faktor lebih besar yang mengurangi resiko infeksi anak. Semisal, anak lebih banyak terpapar virus serupa dengan Covid-19 tapi yang tidak berbahaya. Sehingga mereka memiliki beberapa kekebalan reaksi silang untuk membantu mereka melawan Covid-19.

“SARS-CoV-2 adalah Coronavirus, tetapi jauh berbeda dengan coronavirus lain. Sebagian kecil flu biasa disebabkan oleh coronavirus lain,” kata Zeichner. Anak-anak mungkin lebih sering terkena virus ini daripada orang dewasa di sekolah dan di kelompok bermain, yang mungkin membantu sistem kekebalan mereka mendeteksi dan melawan virus baru.

Hipotesis lain adalah bahwa sistem kekebalan tubuh pada anak-anak cenderung bereaksi berlebihan terhadap penyerang, menurut Coates. Banyak orang tua positif Covid-19 mengalami peradangan dan demam tinggi, pada akhirnya gejala ini sendiri yang merusak sistem imun mereka. Sebaliknya, dengan resiko respon kekebalan lebih rendah, anak-anak mengalami gejala lebih ringan.

Ide diatas hanya beberapa kemungkinan dengan sedikit bukti pendukung. Tapi mencari tahu mengapa Covid-19 berdampak demikian dapat menghasilkan langkah strategis pencegahan sesuai umur. “Jika anda bisa tahu mengapa anak-anak terlindungi, anda bisa menggunakan informasi itu untuk menyusun strategi untuk melindungi orang dewasa,” kata Coates.

Apa strategi terbaik untuk melindungi anak-anak dari Covid-19?

Mencegah infeksi adalah cara yang paling baik untuk melindungi semua orang, tanpa memandang usia. Mencuci tangan, misalnya, tetap menjadi taktik penting bagi tua dan muda untuk mengendalikan penyebaran virus corona.

Tapi penutupan seluruh negeri, sekolah, kampus, kantor, dan acara olahraga dapat membatasi penyebaran infeksi. Membatalkan pertemuan adalah komponen kunci dari jarak sosial (social distancing), praktik membatasi paparan kepada orang lain untuk mengendalikan penyebaran virus. Banyak sekolah belum memiliki tanggal pasti untuk melanjutkan aktvitas.

Beberapa penelitian mempertanyakan efektivitas langkah-langkah tersebut dalam melindungi anak-anak. “Dari bukti yang kami lihat, kami tidak melihat transmisi dalam sekolah-sekolah yang sebelumnya kami khawatirkan akan memperkuat transmisi,” kata Van Kerkhove dari WHO.

Seperti yang dilaporkan Anna North dari Vox, pedoman yang tidak konsisten untuk penutupan sekolah juga mengurangi keefektifannya:

“CDC (Center for Deasease Control and Prevention) telah mengatakan bahwa penutupan sekolah di bawah empat minggu kemungkinan tidak akan memeiliki efek yang berarti pada penyebaran virus. Bahkan, CDC masih mempertanyakan keefektifan kebijakan ini, mereka menyatakan mungkin penutupan 8 hingga 20 minggu memiliki beberapa efek, tetapi mencuci tangan dan isolasi lebih efektif,” dikutip dari The Washington Post.

Sebaliknya, Coates menganggap penutupan sekolah sangat efektif untuk menghentikan penularan Covid-19. “Saya pikir menutup sekolah adalah cara yang sangat efektif untuk menghentikan penularan penyakit menular,” katanya.

Pandangan para ahli juga terbagi tentang boleh tidaknya anak bermain di tengah wabah.

Zeichner juga menekankan agar anak-anak tetap mendapatkan vaksinasi dan memastkan mereka mendapat suntikan flu biasa. Meskipun vaksin influenza tidak dapat mencegah Covid-19, vaksin ini dapat mencegah influenza, yang pada gilirannya memperkuat sistem perawatan kesehatan, dan pada keluarga.

Jika anda curiga anak anda terkena Covid-19, maka segeralah cari pertolongan medis terdekat. Seattle Children’s Englund mengatakan bahwa orang tua harus mencari medis jika anak mulai mengalami kesulitan bernafas, batuk, sesak napas, dan kesulitan berbicara.
(Editor: Melina Nurul Khofifah)

Posting Komentar

0 Komentar