Pelaku Perundungan Siswi SMK di Bolmong Ungkap Keinginan Untuk Minta Maaf



KomnasAnak, NASIONAL - Keinginan untuk meminta maaf secara terbuka ke public disampaikan oleh keluarga dan lima siswa SMK di Kabupaten Bolaang Mongondow yang tersandung kasus perundungan.

Hal itu diungkapkan langsung oleh Deputi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (PPPA-RI), Nahar, saat dikonfirmasi sejumlah awak media, Rabu (11/3), di Polsek Bolaang, Kelurahan Inobonto, Kabupaten Bolmong.

Didampingi kadis Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Provinsi Sulut Mieke Pangkong dan Kadis DP3A Bolong Farida Mooduto, Nahar mengunjungi lima siswa tersangka dan korban perundungan di polsek Bolaang.

“Anak beserta keluarga, mereka mengku menyesal atas kekeliruan yang dilakukan serta ingin minta maaf langsung tapi saat ini kami sarankan untuk tidak berhadapan dengan public serta pemberitaan karena berstatus sebagai Anak Berhadapan Hukum (ABH),” ungkapnya.

Ia mengaku kedatangannya ke Bolmong tak lain ingin melihat konridi anak, baik tersangka maupun korban.

“Selain itu kita akan pastikan bahwa korban tidk ada masalah dengan psikologinya dengan menghadirkan ahli psikologi,” ujarnya.

Nahar mengakui, saat berada di Jakarta pihaknya menerima laporan terkait dengan adanya dugaan pelanggaran perundungan. Setelah mendapatkan kabar tersebut pihaknya langsung mengkonfirmasi ke pihak kepolisian baik di Mabes Polri maupun di daerah.

“Setelah dikonfirmasi membuahkan hasil dan dalam waktu singkat kita mendapatkan titiknya yaitu di Bolmong,” ungkap dia.

“Jangan Salahkan Guru Kami”

Setelah dilakukan penyelidikan, kepolisian menetapkan lima pelajar sebagai tersangka perundungan kepada siswi SMK.

Saat ditemui Bupati Bolmong Yasti Soepredjo Mokoagow, kelima siswa mengaku bersalah dan meminta agar guru mereka tidak disalahkan.

“Guru dan kepsek kami tidak mengajarkan hal demikian. Ini kesalahan kami,” ujar seorang siswa.

“Ini kesalahan kami, murni kesalahan kami. Bukan salah kepsek dan guru kami. Mereka sudah berupaya mendidik kami,” sambungnya sambil menangis.

Dengan suara lirih, para pelajar meminta kepada Bupati agar kepala sekolah dan gurunya tidak disalahkan.

Salah satu pelaku menuturkan jika perbuatannya hanya iseng saja. “Torang Cuma bakusedu (kami hanya bercanda),” katanya pada TribunManado sebelum ditetapkan sebagai tersangka.
(Editor: Melina Nurul Khofifah)

Posting Komentar

0 Komentar