Pakar PBB Peringatkan Anak Lebih Rentan Kekerasan Saat Pandemi Corona


Foto: UN.org

KomnasAnak.com, NASIONAL - Pakar Hak Asasi Manusia (PBB) yang independen menyerukan kepada negara-negara terdampak panedmi Corona untuk meningkatkan langkah-langkah perlindungan anak-anak yang mungkin lebih rentan pada kekerasan, perdagangan manusia, pelecehan seksual dan eksploitasi di tengah pandemi Corona.

Tokoh dibalik seruan itu adalah Maud de Boer-Buquicchio, reporter khusus bidang perdagangan manusia dan eksploitasi seksual pada anak dan Najat Maalla M’jid, perwakilan khusus bidang kekerasan terhadap anak. Dua tokoh ini juga mendesak para orang tua, pengasuh, penyedia layanan public dan pembuat kebijakan agar memberikan perhatian ekstra untuk mengurangi resiko tinggi pada generasi muda.

“secara global, langkah isolasi dan terbatasnya pelayanan telah membatasi pelayanan perlindungan anak, memperburuk kerentanan anak yang tinggal di lembaga perawatan psikiatris dan institusi pelayanan sosial, panti asuhan, kamp pengungsi, pusat imigrasi, dan lembaga tertutup lainnya,” kata Maud de Boer-Buquicchio.

Pada saat karantina dan isolasi di rumah, anak-anak mempunyai resiko lebih tinggi untuk mengalami kekerasan, eksploitasi, dan perubahan pada kesehatan mental mereka. “Ini sangat benar terutama bagi mereka yang sudah dalam konsidi rentan,” tambah M’jid.

Para ahli mendesak pemerintah untuk memastikan bahwa leyanan perlindungan anak harus lengkap dan memadai, serta tersedia kemudahan akses bagi peegakan hukum untuk semua anak, termasuk hotline 24 jam bebas pulsa, layanan SMS gratis, layanan psikologis dan sosial jarak jauh, serta tempat perlindungan untuk anak dibawah umur. Mereka mengingatkan jika korban anak-anak terpaksa untuk menahan penyiksaan dari pengasuh mereka sendiri ketika fasilitas public ini hilang.

Selain di dalam rumah, anak-anak juga rentan pada pelecehan di dunia daring. Penggunaan akses virtual mampu menjadi media bagi pedofil dan predator anak untuk melakukan pelecehan seksual dan penyebarluasan materi seks. Kaitannya dengan hal itu, aparat kepolisian harus memantau jaringan pedofilia dan secara sah mengakses alamat IP computer untuk memastikan keamanan.

“Kita harus berpartisipasi aktif untuk mendukung operator garda terdepan pada layanan perlindungan anak, lingkungan rumah, pengawas lingkungan, dan penegak hukum,” saran pakar. Mereka menambahkan perlunya memberdayakan anak-anak dalam menghadapi krisis melalui inisiatig kalangan sebaya (peer-to-peer).

Seruan ini telah didukung oleh Urmila Bhoola, reporter khusus bidang perbudakan kontemporer termasuk penyebab dan konsekuensinya; Catalina Devandas Aguilar, reporter khusus bidang hak-hak kauum disabilitas; Maria Grazia Giammarinaro, reporter khusus bidang perdagangan manusia terutama perempuan dan anak; Dubravka Simonovic. Reporter khusus bidang kekerasan pada perempuan; dan Dainius Puras, reporter khusus bidang hak kesehatan fisik dan mental.

Para pakar diatas merupakan bagian dari Prosedur Khusus Dewan Hak Asasi Manusia. Mereka bekerja atas dasar sukarela. Mereka bukan staf PBB dan tidak menerima gaji untuk pekerjaan mereka. Para pakar ini independen dari pemerintah atau organisasi apapun dan melayani sesuai kapasitas masing-masing. Sedagkan, Perwakilan Khusus Sekretaris Jenderal PBB adalah advokat independen global yang mendukung pencegahan dan penghapusan semua bentuk kekerasan terhadap anak.
(Editor: Melina Nurul Khofifah)

Posting Komentar

0 Komentar