Siswi di Deliserdang Jadi Korban Pemerkosaan, KPAI Angkat Bicara

Ilustrasi Pelecehan Kepada Perempuan

KomnasAnak.com, NASIONAL - Pelecehan terhadap siswi sekolah kembali terjadi. Kali ini seorang siswi SMK di Kecamatan Batang Kuis, Kabupaten Deliserdang, diperkosa oleh delapan orang kakak kelasnya. Para pelaku mengancam korban (D/16) akan menyebarkan video aksi mereka jika D nekad melapor.

Kasus ini akhirnya terungkap saat keluarga menyadari perubahan sikap D. Menurut sang ayah (MI), korban jadi mudah marah tapi tidak bercerita sedikitpun pada keluarganya. Bahkan D sempat pergi dari rumah selama empat hari lamanya.

“Dia ini (D) di rumah bawaannya emosi saja. Sering marah-marah,” kata MI, seperti dikutip dari Tribun-Medan.com, Selasa (31/3/2020).

“Dia gak pernah cerita sama kami, terbongkarnya itu karena kakaknya bongkar HP dia, dibacainlah sama kakaknya pengancaman-pengancaman pelaku,” imbuh MI.

Menurut pengakuan MI, anak keempatnya itu sempat tidak ingin kembali ke selah. “Kami pikir karena sekolah itu tidak enak makanya mau minta pindah. Tidak tahu kami dia diperlakukan seperti ini sama kakak kelasnya,” ujar MI.

Tidak terima, ibunda korban (N/45) melaporkan kejadian ini pada Polres Deliserdang dengan didampingi Tim Advokat dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Deliserdang.

Kasat Reskrim Polresta Deliserdang, AKP Muhammad Firdaus mengatakan, delapan orang kakak kelas telah ditetapkan sebagai tersangka. Firdaus menyebut pelaku berinisial JA menjadi otak pemerkosaan. Namun, saat ini JA masih menjadi buronan polisi.

“Seluruh pelaku ada 8 orang. JA ini yang sekarang masih kita kejar. Kalau untuk soal video kayaknya sudah dihapus sama mereka (para pelaku),” kata Firdaus.

Respon KPAI

Ketua Umum Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Arist Merdeka Sirait, memberikan tanggapan terhadap kasus ini. Arist meminta LPA Deliserdang untuk menyiapkan tim psikologis untuk pemulihan korban. Dia juga mendorong LPA Deliserdang untuk segera membentuk tim advokasi guna kepentingan pengawalan proses hukum.

Menurut Arist, sekalipun pelakunya masih berusia anak, mereka tidak bisa dibebaskan dari tindak pidana yang dilakukan. Dengan catatan, pendekatan atau proses hukum mengedepankan kepentinan terbaik anak dan sesuai dengan UU RI Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA). Menurut peraturan tersebut, pelaku tidak dibenarkan mendapat hukuman pidana penjara lebih dari 10 tahun, sebagai bentuk perlindungan bagi anak yang melakukan tindak pidana.

“Yang jelas, sekalipun pelaku usia anak pelaku tetap juga dimintai pertanggungjawaban pidananya,” tegas Arist, dalam keterangan tertulis, Rabu (1/4/2020) malam.

Selain hukuman pidana, pelaku juga dapat dikenakan hukuman kerja sosial.

“Atas peristiwa yang dialami korban Komnas Perlindungan Anak mengajak semua komponen masyarakat di Deliserdang untuk bersatu, bahu-membahu, selain melawan wabah Covid-19, tetapi juga memutus mata rantai kekerasan seksual, sodomi, gengRAPE, dan incest,” kata Arist.

Arist mengapresiasi langkah cepat jajaran Polres Deliserdang dalam mengungkap dan menindaklanjuti kasus ini.

“Demikian juga atas kerja keras pendampingan dari Tim Advokasi LPA Deliserdang untuk korban dan keluarganya, Komnas Perlindungan Anak memberikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya atas kepeduliasn dan kerja keras tersebut,” lanjutnya.

Kronologi Pemerkosaan yang Dialami Siswi SMK Deliserdang

Korban pemerkosaan, D, mengungkapkan dirinya pertama kali menjadi korban pemerkosaan pada Desember 2019 lalu. Pemerkosaan tersebut terjadi di area ruang praktik sekolah yang berada di kawasan Batang Kuis.

“Saya sempat disuruh satpam untuk ambil gelas kotor di ruang praktik, tapi rupanya orang itu (pelaku) sudah ada di situ. Ada empat orang mereka” kata D, Selasa (31/3/2020).

Korban D sempat melawan dan berteriak namun tidak ada satupun yang dapat membantunya karena lingkungan sekolah telah sepi.

“Sudah teriak juga minta tolong cuma gak ada yang dengar. Yang lain (siswa) sudah pulang, memang lagi sepi,” ungkap D lirih.

“(Saya) sudah mau pulang sebenarnya cuma disuruh satpam ambilkan gelas di ruang praktik,” imbuhnya.

Melihat D yang tidak berdaya, pelaku semakin menjadi dengan mengajak sejumlah pelaku lainnya. Kedelapan kakak kelas D itu pun kemudian memperkosanya di sebuah rumah kosong pada Januari 2020.
(Editor: Melina Nurul Khofifah)

Posting Komentar

0 Komentar