Jaga Interaksi Fisik dengan Anak agar Mudah Beradaptasi

Ilustrasi interaksi fisik saat makan bersama (Foto: orami parenting)

KomnasAnak.com, NASIONAL - Sudah lebih dari sebulan sejak pelajar TK hingga SMA menjalani proses belajar dari rumah akibat penyebaran pandemi COVID-19. Rutinitas sekolah yang biasa dilakukan; bangun pagi, berangkat ke sekolah, belajar di kelas, dan bermain dengan teman harus ditiadakan untuk membantu memutus rantai penyebaran COVID-19.

Apa siswa perlu beradaptasi setelah sekolah di buka kembali?

Psikolog Bondhan Kresna mengatakan jika adaptasi bukan menjadi masalah besar bagi anak-anak.

“Kalau kita asumsikan dua bulan lagi anak sudah masuk sekolah. Saya kira tidak perlu ada hal khusus yang dipersiapkan. Di negara subtropics anak liburan musim panas juga bisa hitungan bulan,” ujar Bondhan melansir dari Kompas.com, Selasa (5/5).

Bondhan menyatakan jika interaksi fisik sangat penting bagi anak ketika berada di rumah. Hal ini untuk menggantikan interaksi fisik yang anak lakukan ketika belajar di sekolah.

“Orang tua harus aktif mendampingi anak belajar di rumah. Satu-satunya kelemahan situasi sekarang adalah anak jadi tidak berinteraksi fisik dengan teman-temannya,” ujar Bondhan.

Senada dengan Bondhan, psikolog anak Seto Mulyadi menyebut bahwa anak-anak tidak akan mendapati permasalahan yang berarti ketika mereka harus kembali ke sekolah.

“Yang perlu diingat, atau yang sering dilupakan, anak itu memiliki daya lenting, daya adaptasi yang bagus. Saya buktikan waktu bencana di Palu, bencana dahsyat, anak-anak justru yang paling cepat menyesuaikan diri, yang adaptasinya cepat,” ujar Seto.

Menurut Seto, yang terpenting adalah terjalinnya interaksi fisik selama berada di rumah.

Disini peran orang tua adalah yang paling utama untuk memastikan anak tetap memiliki teman untuk berinteraksi meskipun proses belajar dilakukan dari rumah.

“Sekolah itu bisa menjadi rumah, rumah itu bisa menjadi sekolah. Suasana psikologisnya, kalau semua penuh dengan keakraban, kasih sayang, kerja sama, itu bukan sesuatu yang mengagetkan,” kata Seto.

Dengan begitu, anak tetap mendapatkan pengganti dari interaksinya dengan teman-teman.

Kak seto juga mengatakan orang tua, kakak, adik, atau siapapun yang ada di rumah adalah sosok teman seorang anak selama proses belajar dilakukan di rumah.

Untuk itu, pendamping tidak boleh kaku dalam memberi pelajaran bagi anak di masa belajar di rumah.

“Belajar harus tetap dibungkus dengan suasana yang ramah anak, jangan seperti sesuatu yang mengerikan, bahwa kurikulum itu berat, seolah-olah dipertentangkan dengan naluri anak-anak itu sendiri yang pada dasarnya semua anak itu senang belajar,” jelas Seto.

Seto juga mengingatkan agar pendidik mampu memahami dasar dari pendidikan yang harus diterapkan. Berdasarkan Badan Nasional Standar Pendidikan (BNSP), pokok pendidikan secara berurutan adalah etika, estetika, iptek, nasionalisme, dan kesehatan.

Semua itu menurut Seti bisa dikemas dengan berbagai pendekatan yang ramah dan menyenangkan, tidak harus dengan menghafal teori, atau berhitung sesuatu yang sifatnya hanya perumpamaan dan tidak riil.

“Kalau itu dipegang teguh pendidik maka belajarnya akan menyenangkan, apakah itu di rumah ataupun di sekolah,” pungkas Seto.
(Editor: Melina Nurul Khofifah)

Posting Komentar

0 Komentar