Kenali Vaksin untuk Anak Lebih Jauh


KomnasAnak.com, NASIONAL - Memberikan imunisasi merupakan kegiatan rutin yang dilakukan orang tua untuk anaknya. Imunisasi adalah pemberian vaksin pada anak untuk melindunginya dari kemungkinan penyakit parah. Banyak masyarakat telah percaya kesehatan anak mereka lewat vaksin. Namun, tidak sedikit pula yang masih takut untuk vaksinasi. Kami telah merangkum artikel UNICEF tentang hal-hal yang perlu diketahui mengenai vaksin.

Vaksin adalah produk biologis yang diberikan pada anak-anak untuk melindungi dari penyakit berat dan mematikan dengan merangsang terbentuknya kekebalan tubuh alami. Vaksin mampu membuat tubuh siap melawan suatu penyakit dengan lebih cepat dan efektif.

Vaksin bekerja dengan membantu sistem kekebalan tubuh melawan infeksi secara efisien dengan mengaktifkan respons tubuh terhadap penyakit tertentu. Jika di masa depan ada virus atau bakteri yang sama menyerang, tubuh bisa mengenali dan tahu cara melawannya.

Vaksin tidak berbahaya. Sakit yang diakibatkan vaksin jauh lebih ringan dari pada penyakit yang dicegah vaksin. Sebelum diedarkan, vaksin sudah melalui uji keselamatan, termasuk uji klinis yang ketat. Negara pengguna vaksin hanya menggunakan vaksin dengan kualitas dan standar keselamatan tinggi.

Vaksin yang diberikan melalui imunisasi mampu menyelamatkan nyawa anak. Contohnya adalah vaksin campak yang diperkirakan telah mencegah kematian lebih dari 23 juta anak pada kurun tahun 2000 sampai 2018.

Mengimunisasi anak, terutama bayi, sangat penting karena sistem kekebalan tubuh mereka masih berkembang. Tanpa imunisasi, beberapa penyakit menular mematikan seperti campak, difteri, dan polio mampu mengancam banyak anak dan dapat kembali mewabah.

Memberikan lebih dari satu jenis vaksin tidak akan merusak sistem kekebalan tubuh anak. Sebaliknya, setiap hari anak berhadapan dengan ratusan bakteri dan virus yang lebih membebani sistem kekebalan tubuh dibandingkan vaksin.

Sangat jarang terjadi efek samping berat akibat penggunaan vaksin. Hampir semua rasa sakit atau tidak nyaman akibat vaksin bersifat ringan dan sementara. Umumnya adalah demam ringan dan nyeri di area yang disuntikkan. Efek bisa hilang dengan bantuan obat pasaran ataupun dengan mengompres air dingin ke area yang disuntikkan.

Tabel berikut adalah beberapa vaksin yang direkomendasikan oleh UNICEF


Vaksin
Penyakit yang Dicegah
Gejala dan Dampak
BCG
TBC
Tuberculosis (TBC) adalah infeksi yang paling sering menyerang paru-paru, namun pada bayi dan anak usia muda dapat berdampak pada organ lain seperti otak. TBC berat dapat menyebabkan komplikasi serius atau kematian.
Jika tertular, TBC sangat sulit diobati. Pengobatannya pun memakan waktu lama dan tidak selalu berhasil.
Hep B
Hepatitis B
Virus Hepatitis B adalah penyakit berbahaya yang menyerang organ hati. Jika tertular pada saat bayi, penyakit ini biasanya tidak menunjukkan gejala apa pun selama berpuluh-puluh tahun. Namun, saat dewasa, penyakit ini bisa berkembang menjadi sirosis dan kanker hati.
Polio
Polio
Polio adalah virus yang menyebabkan kelumpuhan pada 1 dari 200 orang yang terkena. Dari antara mereka yang terjangkit, 5 hingga 10 persen meninggal karena kelumpuhan otot pernapasan. Begitu kelumpuhan muncul, polio tidak dapat lagi diobati. Pengobatan pada tahap ini hanya bersifat meringankan gejala.
DTP
Difteri
Difteri menginfeksi tenggorokan dan amandel, sehingga anak yang terkena sulit bernapas dan menelan. Kasus difteri parah bisa menyebabkan kerusakan pada jantung, ginjal, dan/atau syaraf.
DTP
Tetanus
Tetanus menyebabkan kejang otot yang menyakitkan. Pada anak, otot leher dan rahang anak menjadi kaku seperti terkunci sehingga mereka sulit membuka mulut, menelan (menyusui), atau bernapas. Meski diobati, tetanus sering kali mengakibatkan kematian.
DTP
Pertusis
Pertusis (batuk rejan) menyebabkan penderitanya mengalami batuk hingga berminggu-minggu. Dalam beberapa kasus, pertusis dapat berkembang menjadi kesulitan bernapas, radang paru/pneumonia, dan kematian.
Hib
Haemophilus influenzae type b (Hib)
Hib adalah bakteri yang menyebabkan pneumonia, meningitis, dan infeksi berat pada sebagian besar kelompok anak balita.
Pneumococcal
Penyakit pneumokokus
Penyakit pneumokokus memiliki beragam bentuk mulai dari yang berat seperti meningitis dan pneumonia hingga yang lebih ringan, tetapi lebih sering terjadi, seperti sinusitis dan infeksi telinga.

Penyakit pneumokokus adalah penyebab umum kejadian sakit dan kematian di seluruh dunia, terutama pada kelompok anak berusia di bawah dua tahun.
Rotavirus
Rotavirus
Rotavirus menyebabkan diare dan muntah-muntah hebat, yang bisa mengakibatkan dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, dan syok pada anak. Jika tidak segera diobati, terutama untuk menggantikan cairan yang keluar, virus ini bisa menyebabkan kematian.
MMR
Campak
Campak adalah penyakit sangat menular dengan gejala, antara lain, demam, hidung berair, bercak putih di bagian belakang mulut, dan ruam. Pada kasus berat, campak bisa menyebabkan kebutaan, radang pada otak, dan kematian.
MMR
Gondongan
Gondongan bisa menyebabkan sakit kepala, kelesuan, demam, dan bengkak pada kelenjar ludah. Komplikasi penyakit ini termasuk meningitis, bengkak pada testis, dan hilangnya pendengaran.
MMR
Rubella
Infeksi rubella pada anak dan orang dewasa biasanya ringan, tetapi pada ibu mengandung rubella bisa menyebabkan keguguran, bayi lahir mati, kematian bayi setelah lahir, atau bayi lahir cacat.
HPV
Human papillomavirus (HPV)
Infeksi HPV biasanya tidak menunjukkan gejala, tetapi terdapat beberapa tipe dari virus ini yang bisa menyebabkan kanker serviks—jenis kanker nomor empat tersering yang dialami perempuan. Hampir semua kasus kanker serviks (99 persen) disebabkan oleh HPV. HPV juga dapat mengakibatkan kutil pada alat kelamin laki-laki dan perempuan serta kanker pada bagian lain tubuh.
(Sumber: UNICEF Indonesia
Editor: Melina Nurul Khofifah

Posting Komentar

0 Komentar