Terungkap Fakta NF Pembunuh Balita Ternyata Korban Kekerasan Seksual


KomnasAnak.com, NASIONAL - Beberapa waktu lalu, publik sempat heboh dengan pemberitaan seorang anak perempuan 15 tahun yang membunuh anak berusia 6 tahun. Dugaan awal pelaku (NF) terpengaruh oleh film yang sering ditonton. Namun, belakangan terungkap fakta baru bahwa NF adalah korban kekerasan seksual.

Diketahui, NF (15) pelaku pembunuhan anak 6 tahun di Sawah Besar, Jakarta Pusat ternyata tengah berbadan dua.

Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial membeberkan hasil pemeriksaan fisik dan psikologis NF selama di Rumah Sakit Polri Jakarta Timur. Menurut Harry Hikmat, psikolog mampu membuka sisi lain kehidupan NF.

“NF juga menjadi korban kekerasan seksual oleh 3 orang terdekatnya hingga kini hamil 14 minggu,” kata dia dalam keterangan tertulis, Kamis (14/5).

Harry menerangkan, NF ada dalam dua posisi sekaligus, yaitu sebagai pelaku pembunuhan dan menjadi korban kekerasan seksual.

“Kasus kedua juga perlu diselidiki untuk mendapatkan kesimpulan logis mengapa anak ini melakukan tindak kekerasan,” kata Harry.

Di sisi lain, Harry menegaska, pentingnya memenuhi hak NF sebagai anak yang membutuhkan perlindungan khusus.

Saat ini NF te;ah dirujuk ke Balai Anak “Handayani” di Jakarta. Di balai milik Kemensos tersebuut, NF mendapatkan layanan rehabilitasi sosial sambil menunggu proses peradilan.

Pekerja sosial dan psikolog Handayani telah melakukan beberapa terapi kepada NF. Saat ini, Kondisi NF sudah menunjukkan perubahan ke arah lebih baik secara fisik, psikis, sosial, dan spiritual.

NF bahkan meminta untuk tetap berada di Balai Anak Handayani Jakarta dan ingin mengurus sendiri anaknya setelah lahir.

“Kondisi fisiknya tampak sehat dan sudah mampu menjaga kebersihan diri. Secara sosial, NF mulai terbuka dengan petugas untuk menceritakan permaslahannya dan merasa nyaman berada di balai,” ujar Harry.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pun berharap majelis hakim mempertibangkan status NF sebagai korban pelecehan seksual.

“Tentu saja kita berharap aparat penegak hukum memikirkan kepentingan terbaik bagi anak dalam konteks atau perspektif dia juga merupakan korban,” kata Komisioner KPAI Elvina melansir merdeka.com, Jumar (15/5).

Elvuna mengatakan, KPAI terus berkoordinasi dengan pihak terkait termasuk penegak hukum. Sejak kasus ini mencuat, KPAI meminta agar proses rehabilitasi pelaku lebih dikedepankan.

Dia menuturkan agar kondisi kehamilan NF menjadi pertimbangan utama dalam pemberian rehabilitasi.

“Kita memang berharap bahwa penanganan rehabilitasi menjadi prioritas, artinya dengan kondisi baru ini anak tersebut memang lebih membutuhkan rehabilitasi dibanding hal-hal lainnya karena memang kan terkait posisi dia sebagai anak, kemudian ada janin yang dikandungnya tentu merupakan kondisi yang berat baik itu bagi janin maupun anak tersebut,” ujar Elvina.

“Jadi selama menjalani proses baik itu dia sebagai pelaku dan dia nanti sebagai korban ini tentu membutuhkan waktu yang lama, butuh waktu panjang maka upata rehabilitasi harus terus dilakukan, upaya konseling harus terus dilakukan dengan kondisi dia sebagai korban tentu ada perubahan-perubahan baik fisik maupun mental si anak ini harus dijaga. Jadi penempatannya di pusat rehabilitasi harus dikuatkan,” tambahnya.
(Editor: Melina Nurul Khofifah)

Posting Komentar

0 Komentar