WHO Telusuri Sindrom Langka yang Diduga Berkaitan dengan Corona pada Anak

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus

KomnasAnak.com, NASIONAL - Kemunculan penyakit langka mirip sindrom Kawasaki pada anak terus terjadi di beberapa negara di Eropa dan Amerika. Sindrom Kawasaki atau sindrom getah bening adalah peyakit langka yang umumnya menyerang anak-anak dan dapat menyebabkan kematian.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tengah mempelajari kemungkinan keterkaitan sindrom Kawasaki ini dengan infeksi virus corona pada anak-anak.

“Laporan awal menduga bahwa sindrom ini (sindrom serupa Kawasaki) mungkin berhubungan dengan COVID-19,” ujar Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus melansir CNN Indonesia, Sabtu (16/5).

Sebelumnya, Pedriatric Intensive Care Society (PICS) Inggris menyatakan terdapat sejumlah kasus pada anak-anak yang memiliki sakit kritis dengan sindrom langka yang diikaitkan dengan virus corona.

Kemudian, dilansir dari AFP, belum lama ini Gubernur New York juga melaporkan tiga orang anak meninggal dengan gejala sindrom langka tersebut dan tengah menginfeksi 100 anak lainnya.

Seorang dokter di Prancis menyatakan seorang bocah berusia 9 tahun yang dinyatakan positif COVID-19 meninggal oleh penyakit tersebut pada Jumat (15/5).

Sebagai catatan, sindrom Kawasaki mengakibatkan inflamasi atau peradangan pada dinding arteri dan bisa membatasi aliran darah ke jantung. Gejalanya berupa demam tinggi selama lebih dari 5 hari, jaringan leher bengkak, bibir pecah, kaki dan tangan bengkak juga kemerahan pada mata.

Tedros menyatakan saat ini WHO telah mengembangkan definisi awal sindrom tersebut dengan sebutan “Sindrom Peradangan Multisistem pada Anak-Anak”. Ia juga meminta tenaga medis untuk waspada dan memahami sindrom ini dengan lebih baik.

Namun, Tedros mengingatkan pentingnya mempelajari sindrom tersebut dengan hati-hati. Hal itu dilakukan untuk memahami penyebab dan mencari cara penanganannya.

Kepala Teknis Tim Tanggap Corona WHO Maria Van Kerkhove menegaskan keterkaitan antara sindrom tersebut dengan virus corona masih belum jelas. Pasalnya, beberapa anak yang menunjukkan gejala sindrom tersebut negatif COVID-19.

“Kami ingin seluruh negara waspada akan hal ini,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Kedaruratan WHO Michael Ryan menilai meskipun sindrom tersebut berhubungan dengan COVID-19, penyebabnya bisa saja bukan virus corona baru.


Sementara penelitian terus dilakukan, penting untuk tetap menjaga kesehatan fisik dan mental anak. Tetap patuhi protokol kesehatan dan berpikiran positif.
(Editor: Melina Nurul Khofifah)

Posting Komentar

0 Komentar