KPAI: Perlu Protokol Khusus Penanganan Anak dalam Aksi Demonstrasi

Puluhan anak yang hendak mengikuti demo dijaring Polres Jakbar (Foto: Detik.com)
KomnasAnak.com, NASIONAL - Maraknya aksi demonstrasi yang melibatkan anak-anak membuat Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Putu Elvina, menilai pentingnya protokol penanganan anak dalam aksi penyampaian pendapat atau demonstrasi. Dia melihat fenomena pelibatan anak oleh orang dewasa dalam demonstrasi makin marak di Indonesia.

 

“Perlu dirancang protokol baku dalam penanganan anak dalam aksi demo yang mengedepankan hak anak,” kata Putu Elvina pada seri dialog publik dalam rangka memperingati Hari Anti Penyiksaan Internasional, Jumat (26/6).

 

Dia melihat, tidak ada aturan baku sebagai menjadi pedoman bagi petugas untuk menindak anak yang terlibat aksi penyampaian pendapat.

 

Dia juga mengkhawatirkan timbulnya risiko apabila tidak ada protokol penanganan. Seperti risiko ancaman keamanan, kehilangan nyawa, mengalami kekerasan fisik dan psikis, serta menghilang dalam demonstrasi.

 

“Protes bisa menimbulkan kekerasan, perlu perlindungan khusus dalam undang-undang dan panduan yang berkaitan dengan protes,” kata Putu Elvina.

 

Nantinya, protokol tersebut akan menjadi pedoman penanganan anak yang mengikuti aksi unjuk rasa. Penerapan protokol itu diberlakukan untuk semua stakeholder terkait anak. Karena selama ini, menurut dia, hanya ada surat edaran persifat parsial dan terbatas.

 

“Pendekatan lebih aman, terbuka lebar kalau sama-sama melihat sampai sejauh mana bahasan peran masing-masing. Sehingga upaya pencegahan anak di aksi demo bisa dihindari. Upaya perlindungan dan pencegahan penyiksaan yang bisa diterapkan oleh pihak terkait,” ujarnya.

 

Alasan Anak-Anak Ikut Demonstrasi

Putu Elvina juga menuturkan jika pelibatan anak dalam demonstrasi tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga terjadi di Amerika Serikat dan Australia. Menurut dia, anak-anak banyak dilibatkan karena mudah dipengaruhi.

 

“Alasan subjektif, karena anak-anak tidak tahu apa yang diperjuangkan. Semua turun ke jalan atas nama kebersamaan turun ke jalan tanpa tahu apa yang diperjuangkan. Sebagian mengatakan, mereka ikut-ikut,” kata dia.

 

Putu Elvina menyontohkan beberapa aksi demonstrasi yang melibatkan anak. Seperti aksi unjuk rasa menolak hasil perhitungan suara Pemilihan Presiden (Pilpres) pada Mei 2019, penolakan Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RUU KUHP) dan revisi UU KPK di sekitar gedung DPR RI pada September 2019.

 

Putu mengatakan aksi tersebut sebagai aksi spontanitas dan sporadis. Dia menjelaskan, anak-anak itu menerima informasi dari media sosial untuk menggelar aksi penyampaian pendapat/unjuk rasa.

 

“Mobilisasi begitu cepat dengan bantuan media sosial. Peran media sosial kuat mereka tiba-tiba berkumpul. (Alasan) ikut kakak-kakak yang demo sebelumnya. Ini pengaruh psikologi massa yang mendorong turun ke jalan,” kata Putu.

 

Dia menambahkan faktor banyaknya berita juga berperan karena tidak semua anak dapat menyaring informasi yang dapat dipercaya.

 

“Anak bukan orang dewasa yang memiliki emosional stabil,” ujarnya.

 

Anak yang Hendak Demonstrasi Menolak RUU HIP Terlantar di Sekitar Gedung DPR RI

Jajaran Polres Jakarta Barat menemukan puluhan anak yang terlihat kebingungan di sekitar gedung MPR/DPR pada Rabu (24/6) lalu. Setelah dikonfirmasi, anak-anak tersebut ternyata hendak mengikuti unjuk rasa menolak RUU HIP.

 

Menurut Kapolres Jakbar Kombes Audie S Latuheru, puluhan anak tersebut mengaku diundang untuk mengikuti unjuk rasa melalui media sosial, namun tidak tahu siapa koordinatornya. Puluhan anak tersebut, kata Audie, memilih pulang.

 

“Kami tanya mereka mau ikut demo di DPR, tapi tidak tahu siapa koordinatornya karena mereka diundang melalui social media. Mereka mau pulang saja tidak mau ke lokasi demo,” sebut Audie.

 

Jajaran Polres Jakbar juga sempat mengajak puluhan anak tersebut makan siang sebelum memulangkannya.

 

“Saya merasa kasihan melihat anak-anak orang ini, dan mereka tentu merasa lapar sehingga saya perintahkan kepada anggota untuk beri makan siang terlebih dahulu sebelum mereka pulang,” terang Audie.

(Editor: Melina Nurul Khofifah)

Posting Komentar

0 Komentar