Pandemi COVID-19 Berisiko pada 80 Juta Anak Indonesia


KomnasAnak.com, NASIONAL - New normal atau kenormalan baru terus diupayakan dalam masa pandemi. Pemerintah akan membuka kembali fasilitas yang sebelumnya telah ditutup. Mulai dari tempat kerja, rumah ibadah, hingga sekolah. Tak ayal new normal akan berakibat pada semua orang, termasuk anak-anak.

UNICEF Indonesia mengatakan telah mengupayakan pemenuhan hak anak di masa pandemi.

“Kami sebagai lembaga PBB hak anak ingin memastikan hak-hak anak untuk kesehatan, pendidikan, perlindungan terpenuhi di dalam wabah ini, ataupun nanti memasuki fase new normal,” ungkap perwakilan UNICEF Indonesia, Rizky Syafitri dalam konferensi pers BNPB tentang new normal, Selasa (2/6).

Pemenuhan hak anak telah dijamin oleh Konvensi hak anak PBB tahun 1989. Dan di Indonesia diperkuat dengan UU Perlindungan Anak tahun 2014.

“Siapa saja yang termasuk anak? Anak batas usia 18 tahun. Ada hampir 80 juta anak di Indonesia, situasi pandemi ini anak-anak lebih rentan untuk mengalami dampak sosial ekonomi jangka pendek maupun panjang.”

Dia menuturkan UNICEF pada awal Mei telah melakukan studi menggunakan data dan informasi dari kementerian dan lembaga terkait untuk melihat dampak COVID-19 pada anak Indonesia.

Hasil tersebut mengungkapkan ada empat kategori bagaimana COVID-19 berdampak pada anak Indonesia.

“Dampak dikelompokkan 4 kategori, pertama tentang kemiskinan, berdampak tidak hanya keluarga tapi kemiskinan anak, kemudian akses pendidikan anak berkualitas, kesehatan pemenuhan gizi anak, ada akses imunisasi,” katanya.

“Kita tak ingin wabah polio atau wabah difteri, campak dan penyakit lain sebenarnya bisa dicegah dengan imunisasi. Namun saat ini pelayanan imunisasi terganggu di berbagai tempat puskesmas.”

Selain itu ada kekhawatiran lain soal dampak COVID-19 untuk anak-anak.

Nugroho Indera Warman dari UNICEF Indonesia mengungkapkan bahwa salah satunya adalah soal akses pendidikan.

“Hampir seluruh sekolah di Indonesia, hampir 60 juta anak tidak sekolah, saat ini sudah mencapai level emergency, dari beberapa survei meupun monitor banyak siswa tidak bisa melakukan pembelajaran jarak jauh, akses internet, listrik terbatas,” katanya.

“Kami mendukung kemendikbud pada saat ini peuntupan sekolah terjadi, ada 23 digital platform digratiskan Mendikbud, maupun untuk offline lewat TVRI dan radio.”
(Editor: Melina Nurul Khofifah)

Posting Komentar

0 Komentar