Kekerasan Verbal: Dianggap Remeh dan Berefek Jangka Panjang

Ilustrasi orangtua memarahi (melakukan kekerasan verbal) terhadap anak (Foto: Kompasiana)
KomnasAnak.com, NASIONAL - Bayangkan anda menjadi anak kecil dan seseorang meneriaki anda karena kesalahan kecil. Bagaimana perasaan anda? Malu? Merasa tidak dicintai? Merasa terhina? Atau merasa ketakutan jika anda melakukan kesalahan lagi? Perasaan itu dialami anak ketika anda berteriak dan memarahinya.

 

Marah-marah dan membentak anak termasuk dalam kekerasan verbal, yaitu salah satu bentuk kekerasan paling marak terjadi pada anak dan selalu diremehkan banyak orang. Kekerasaan verbal termasuk kekerasan nonfisik karena hanya menggunakan sarana ucapan pada anak. Bisa berupa bentakan, ejekan, kata-kata merendahkan dan melecehkan. Seringkali orang menganggapnya sebagai bentuk pendisiplinan atau terlalu sayang. Anggapan keliru ini dapat menyebabkan anak menderita efek yang berat.

 

Efek Jangka Pendek

 

Depresi berkepanjangan/klinis. Berteriak kepada anak-anak dapat mengakibatkan stres bahkan depresi, ditandai dengan anak menjadi introvert dan mengasingkan diri dari orang lain. Bila dibiarkan sering terjadi untuk jangka panjang, kondisi ini akan menjadi permanen dan klinis.

 

Kondisi mental dan fisik menurun. Kepercayaan diri yang rendah dapat membuat kondisi mental dan fisik anak terganggu. Ketika anda mengatakan hal negatif seperti “anak sembrono!”, anak akan merasa gugup dan takut karena ragu melakukan hal baru.

 

Jadi rendah diri. Anak yang mengalami kekerasan verbal cenderung menganggap dirinya lebih rendah dari orang lain. Anak menjadi percaya ada yang salah dari dirinya sehingga menimbulkan rasa minder.

 

Efek jangka panjang

 

Masalah kesehatan. Depresi yang dialami anak dapat mengantarkannya pada kelainan pola makan. Dia cenderung melampiaskan rasa sakitnya ke makanan dan sulit berhenti menyebabkannya mengalami obesitas. Kebiasaan ini dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tulang, otot, dan organ vital sehingga anak menjadi semakin lemah.

 

Kurang percaya diri. Keinginan mendominasi dan kepercayaan diri sangat penting untuk menunjang kehidupan professional yang sukses dan memuaskan di masa depan. Namun, anak korban kekerasan verbal slalu merasa dirinya tidak berguna sehingga akan berpengaruh buruk bagi masa depannya.

 

Rendahnya harapan dalam kehidupan. Korban yang mengalami pelecehan verbal terus-menerus mungkin gagal mengembangkan pandangan hidup positif dan buruknya rasa percaya diri. Keadaan ini dapat menyebabkan masalah di tahapan kehidupan selanjutnya.

 

Menjadi pecandu. Selain melampiaskan dengan makanan, orang dengan harapan hidup yang rendah kebanyakan melarikan semua masalahnya pada minuman beralkohol dan narkoba.

 

Kecenderungan anti sosial. Dampak paling buruk dari kekerasan verbal adalah anak tumbuh menjadi orang dewasa tidak baik dan menjadi pelaku kekerasan. Beberapa penelitian pada masa kecil pelaku criminal menunjukkan keterkaitan antara kekerasan verbal dan kisah hidup pelaku.

 (Penulis: Melina Nurul Khofifah)

Posting Komentar

0 Komentar