Kemen PPPA: Eksploitasi Seksual Anak Berpindah dari Jalan ke Daring

(Foto: Liputan6)
KomnasAnak.com, NASIONAL - Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) menyebut telah terjadi 50 kasus eksploitasi seksual pada perempuan dewasa dan 60 anak korban perdagangan orang untuk tujuan eksploitasi seksual melalui daring.

 

“Data ini juga selaras dengan data kasus kejahatan perdagangan orang untuk tujuan eksploitasi seksual yang dirilis oleh Bareskrim Polri, dimana dari 297 kasus perdagangan orang untuk eksplotasi seksual juga terungkap melalui media internet,” kata Sekretaris Kemen PPPA Pribudiarta Nur Sitepu dalam webinar, Rabu (29/7).

 

Dirinya mengatakan hasil studi oleh lembaga anti-prostitusi di Perancis menyebuutkan prostitusi telah berpindah dari jalanan ke internet, dimana para mucikari merekrut perempuan muda melalui Snapchat dan Instagram sebelum memperjualbelikan mereka di apartemen-apartemen.

 

“Pertumbuhan arus informasi menggunakan media daring ini juga memiliki ancaman tersendiri, khususnya pada eksploitasi seksual dan perdagangan orang, baik pada perempuan, laki-laki dan anak-anak,” ucap Pribudiarta.

 

Dia menyebut Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) atau trafficking in persons merupakan pelanggaran terhadap HAM dan merupakan bentuk perbudakan modern (modern slavery) dimana sebagian besar korbannya adalah perempuan dan anak. TPPO juga mengakibatkan dampak yang sangat merugikan bagi korbannya, mulai dari penderitaan fisik, psikis, hingga terinfeksi penyakit seksual menular HIV/AIDS, bahkan meninggal dunia.

 

Komisioner KPAI, Ai Maryati Solihah menyampaikan beberapa rekomendasi untuk advokasi pemenuhan hak anak agar terhindar dari eksplotasi seksual.

 

Pertama, dari aspek pencegahan, Maryati meminta pemerintah dan masyarakat mengajarkan pada anak cara menjalankan internet sehat. Sejalan dengan melakukan edukasi/pendidikan kesehatan reproduksi, parenting, dan pendidikan literasi di era digital.

 

Kedua, dari aspek penanganan dengan optimalisasi peran rehabilitasi sosial dan pemulihan anak dengan mengutamakan layanan pemulihan fisik dan psikologis.

 (Editor: Melina Nurul Khofifah)

Posting Komentar

0 Komentar