Kemen PPPA: Radikalisme dan Terorisme Ancam Anak Indonesia

Pendiri Pondok Pesantren Al Hidayah yang merupakan mantan terpidana kasus terorisme Khairul Ghazali menyampaikan materi pelajaran yang merupakan anak mantan teroris. Pesantren yang didirikan khusus sebagai pusat deradikalisasi dan healing center yang didukung oleh BNPT tersebut diharapkan dapat mengantisipasi berkembangnya ajaran radikalisme di lingkungan masyarakat (Foto: Antaranews)
KomnasAnak.com, NASIONAL - Asisten Deputi Perlindungan Anak Berhadapan dengan Hukum dan Stigmatisasi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) Hasan menyatakan anak-anak dalam ancaman terpapar radikalisme dan terorisme.

 

“Merupakan ancaman terhadap anak dari sisi keagamaan, kehidupan bermasyarakat, tumbuh kembang, karakter, budi pekerti, nilai-nilai nasionalisme, dan cinta tanah air,” kata Hasan dalam sebuah webinar pada Rabu (8/7).

 

Hasan mengatakan perlindungan anak dari ancaman radikalisme dan terorisme adalah tanggung jawab pemerintah pusat dan daerah, masyarakat, serta orangtua.

 

Pemerintah pusat dan daerah, lanjut dia, bertanggungjawab memberikan penanganan cepat termasuk pengobatan yang meliputi rehabilitasi fisik, psikis, dan sosial, serta pencegahan penyakit dan gangguan kesehatan lainnya.

 

Selain itu, pemerintah juga bertanggungjawab memberikan pendampingan psikososial, bantuan sosial bagi anak dari keluarga tidak mampu, perlindungan dan pendampingan dalam proses peradilan, edukasi tentang pendidikan, ideologi, dan nilai-nilai nasionalisme, konseling bahaya terorisme, dan pendampingan sosial.

 

“Masyarakat bertanggungjawab untuk berperan aktif dalam proses rehabilitasi dan reintegrasi sosial, melaporkan kepada pihak berwenang bila terjadi pelanggaran hak anak, dan berperan aktif dalam menghilangkan pelabelan negatif terhadap anak korban terkait terorisme,” tuturnya.

 

Sementara itu, orangtua bertanggungjawab untuk mengasuh, memelihara, mendidik, dan melindungi anak; menumbuhkembangkan anak sesuai kemampuan, bakat, dan minatnya; serta memberi pendidikan karakter dan penanaman nilai budi pekerti kepada anak.

 

Hasan mengatakan permasalahan ada pada orangtua dan masyarakat yang mengajarkan radikalisme dan mengajak anak melakukan tindak pidana terorise yang menimbulkan korban massal hingga mengganggu tumbuhkembangnya.

 

“Ada kerentanan anak terlibat jaringan terorisme akibat pengaruh orangtua, teman, guru, dan pengaruh globalisasi yang menginformasikan paham radikalisme,” katanya.

 

Dia menambahkan jaringan terorisme cenderung memanfaatkan anak dengan cara mempengaruhi, membujuk, merayu, dan menjanjikan macam-macam. Sementara, sebagian anggota masyarakat bersikap membiarkan ketika ada pihak yang mengajarkan radikalisme dan terorisme.

(Editor: Melina Nurul Khofifah)

Posting Komentar

0 Komentar