KPAI Usul Pembuatan Tim Perlindungan Korban Akibat Maraknya Kasus Eksploitasi Anak

WN Prancis tersangka pencabulan terhadap 305 anak (Foto: Suara.com)
KomnasAnak.com, NASIONAL - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengusulkan pembentukan Tim Terpadu Percepatan Perlindungan Anak akibat kasus eksploitasi terhadap anak yang sering terjadi belakangan ini.

 

Komisioner bidang TPPO dan Eksploitasi, Ai Maryati Solihah mengatakan ada 2 kasus besar tindak eksploitasi seksual pada anak di bawah umur oleh WNA.

 

Pertama, tersangka RAD, seorang DPO FBI Amerika kasus kredit 722 juta dollar AS yang lolos ke Indonesia. Tertangkap saat melakukan Eksploitasi Seks Komersial Anak (ESKA) pada remaja.

 

Kedua, kasus ESKA oleh WN Prancis yang telah memakan korban sebanyak 305 anak sejak tahun 2015 dan terlacak menggunakan hotel sejak 2019 hingga 2020 di Jakarta.

 

“Dalam sistem data KPAI sepanjang tahun 2019 tercatat 244 kasus dengan jumlah kasus tertinggi adalah anak korban Eksploitasi Seksual Komersial Anak sebanyak 71 kasus, selain anak korban prostitusi 64 kasus, anak korban perdagangan 56 kasus dan anak korban pekerja 53 kasus. KPAI memberikan apresias kepada Polda Metrojaya yang sudah mengungkap peristiwa ini, dengan terus mendorng pengembangan kasusnya agar hukum segera ditegakkan dan korban-korban ditemukan dan mendapat perlindungan,” katanya dalam keterangan resmi.

 

KPAI sangat prihatin dengan banyaknya korban anak dan pelaku menggunakan modus yang sangat dekat dengan anak-anak. Kepolisian menyatakan eksploitasi pada anak dala kasus ini dilakukan melalui cara child sex groomer, istilah pendekatan secara emosional dan bujuk rayu untuk mengajak anak lebih dekat dan kemudian melakukan tindakan eksploitasi seksual.

 

Pada kasus WN Prancis, anak ditawari untuk jadi foto model, kemudian diajak ke hotel, dirias agar terlihat menarik hingga akhirnya disetubuhi. Semua aktivitas seksual ditemukan tersimpan dalam dokumentasi elektronik, berupa hasil foto dan rekaman video. Anak diberikan sejumlah uang kisaran Rp 250.000 – 1.000.000, untuk melayani tindakan bejatnya.

 

“KPAI sudah berkoordinasi dengan Polda Metro Jaya dan Mabes Polri Kemensos RI, KPPPA, P2TP2A DKI Jakarta dan LPSK untuk memastikan perlindungan. Saat ini sudah teridentifikasi 17 anak dari ratusan anak tersebut untuk kemudian mendapat hak perlindungan,” sambungnya.

 

Dia menambahkan, para korban sangat membutuhkan pendampingan baik selama proses hukum berlangsung dan perlindungan khusus ke depan sehingga konseling dan bimbingan psikologis dibutuhkan kepada korban dan keluarga.

 

“Selanjutnya, KPAI mendorong perlindunagn korban dan para saksi dalam situasi rentan tersebut dalam perlindungan LPSK untuk memastikan perlindungan dan pemenuhan hak restitusi korban,” tandasnya.

(Editor:Melina Nurul Khofifah)

Posting Komentar

0 Komentar