Yayasan Sejiwa: Orangtua Harus Pantau Penggunaan Gawai Anak

Ilustrasi anak memainkan gawai di lorong sekolah (Foto: AntaraNews)
KomnasAnak.com, NASIONAL - Pendiri Yayasan Sejiwa Diena Haryana mendorong orangtua dan guru untuk lebih memahami batas penggunaan gawai dan internet bagi anak berdasarkan usianya.

 

“Orangtua dan guru sebaiknya berteman dengan anak di media sosial, tetapi tidak mengontrolnya,” kata Diena dalam bincang media yang diadakan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) secara virtual di Jakarta, Jumat (17/7).

 

Diena menuturkan orangtua perlu masuk ke dunia daring bersama anak sehingga tahu apa saja kegiatan anak di dunia digital.

 

Melalui pertemanan dengan anak, orang tua daoat mendukungnya menguatkan kebiasaan-kebiasaan baik dalam mengakses dunia maya.

 

“Untuk membatasi akses anak pada muatan-muatan buruk, orangtua juga perlu memasang fitur parental control pada anak,” tuturnya.

 

Diena mengatakan orangtua dan guru harus mencegah anak dari paparan dan keterlibatan dalam pornografi karena dapat mengganggu tumbuhkembangnya.

 

“Dampak pornografi pada anak adalah kerusakan otak, gangguan emosi, dan masa depan yang suram,” ujar Diena.

 

Mengutip data dari ECPAT Indonesia, sepanjang 2018 tercatat 150 kasus eksploitasi seksual anak dan 28 persen diantaranya adalah pornografi.

 

Sementara itu, data Kemenkes dan Kemdikbud terkait anak terpapar pornografi pada 2017 menyebut sebanyak 95,1 persen remaja SMP dan SMA di tiga kota besar telah mengakses situs pornografi dan menonton video pornografi melalui internet.

 

Dari survei yang dilakukan di Jakarta, Yogyakarta, dan Aceh dengan responden 6000 anak itu diketahui 0,48 persen kecanduan ringan dan 0,1 persen kecanduan berat.

 

“Sebanyak 0,48 persen kecanduan ringan dan 0,1 persen kecanduan berat. Dengan kecanggihan teknologi digital, semakin mudah bagi anak mengakses pornografi,” tutur Diena.

 

Dia menambahkan ada beberapa alasan remaja terlibat pornografi antara lain karena merasa jenuh, kesepian, marah, stres, lelah, rasa ingin tahu, ajakan teman, dan melihat iklan timbul di layar gawai.

 

Menurut Diena, pornografi lebih merusak daripada narkoba. Kerusakan otak akibat narkoba terjadi pada tiga bagian otak, sedangkan pornografi menyebabkan kerusakan pada lima bagian otak.

 

“Anak yang kecanduan pornografi biasanya mudah marah dan tersinggung, terutama bila kegiatannya mengakses pornografi terngganggu,” katanya.

 

Masa depan anak yang kecanduan pornografi akan menjadi suram karena akan lebih memilih pornografi daripada hal-hal lain yang bermanfaat, bahkan terjerat seks bebas sebagai akibat dari keinginan yang meningkat daripada sekadar mengakses internet.

(Editor: Melina Nurul Khofifah)

Posting Komentar

0 Komentar