Anak Rentan Alami Kekerasan Verbal Saat PJJ

Pembelajaran Jarak Jauh yang dilaksanakan membuat anak berisiko mengalami kekerasan fisik dan verbal di rumah. (Foto: republika)

KomnasAnak.com, NASIONAL - 
Pembelajaran Jarak Jauh yang dilaksanakan membuat anak berisiko mengalami kekerasan fisik dan verbal di rumah.

Plt Kepla Dinas Pemberdayaan Peremluan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Salatiga Henni Mulyani mengatakan anak kerap mendapatkan kekerasan verbal selama pembelajaran jarak jauh.

"Yang mendominasi memang kekerasan verbal, kalau sampai yang kekerasan fisik belum ada laporan sampai saat ini," ungkapnya pada wartawan, Rabu (26/8).

Kekeraaan verbal yang dimaksud Henni adalah ungkapan spontan, karena masih di masa adaptasi kebiasaan baru.

"Semua berubah, tentu kadang ada ungkapan spontan, namun bentuknya kekerasan verbal," kata dia.

Untuk kekerasan anak yang mengarah ke fisik, DP3A Kota Salatiga masih melakukan penelitian.

Sekretaris Daerah Kota Salatiga Fakruroji menuturkan, perbedaan akses dan kualitas selama PJJ dapat mengakibatkan kesenjangan capaian belajar, terutama untuk anak dari sosio-ekonomi yang berbeda.

"Siswa kesulitan konsentrasi belajar, mengalami peningkatan rasa stres dan jenuh akibat isolasi yang berkelanjutan," jelas Fakruroji.

Status kuning di Kota Salatiga membuat pelaksanaan KBM tatap muka boleh dilaksanakan untuk semua jenjang dengan menerakan protokol kesehatan secara ketat.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Salatiga Yuni Ambarwati menyampaikan dalam revisi Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 menteri menyebut bulan pertama pembelajaran tatap muka dilaksanakan pada tingkat SMA, SMK, MAK, SMP, MTs, SD, MI, dan SLB.

Kemudian pada bulan ketiga baru akan dibuka untuk PAUD formal (TK, RA, TLKB, BA) dan non-formal (KB, TPA, SPS).

"Sementara sekolah dan madrasah berasrama yang berada di daerah zona hijau dan kuning dapat membuka asrama dan melakukan PTM di satuan pendidikan secara bertahap," kata Yuni.
Editor: DM

Posting Komentar

0 Komentar