Pikiran yang Buat Anak dan Remaja Stres

Ilustrasi anak stres (Foto: Tribunwow)
KomnasAnak.com, NASIONAL - Situasi pandemi yang tidak menentu telah menyebabkan anak mudah stres. Orangtua harus membantu agar anak tidak terlalu stres saat waktunya kembali ke sekolah.

 

Seorang ahli psikologi Jeffrey Bernstein mengungkapkan bahwa anak dan remaja sangat sering mengalami emosi yang campur aduk. Kombinasi perasaan cemas, sedih, atau marah disebabkan oleh pola pikir negatif.

 

Bernstein membagi pola pikir yang membebani anak dalam tujuh jenis, yaitu:

 

Semua atau tidak sama sekali. Terkadang anak-anak berpikir jika mereka harus sempurna dalam segala hal. Jika mereka gagal dalam satu hal, mereka cenderung menganggap dirinya gagal total. Pemikiran ini juga disumbang dari pemikiran orang tua yang menghendaki anak mereka jago dalam segala hal.

 

Suka menraik kesimpulan sendiri. Ini terjadi ketika anak-anak berpikir mereka bisa melihat pikiran orang lain. Contohnya, anak-anak menganggap seseorang sudah bicara buruk dibelakangnya, padahal tidak.

 

Serba negatif. Anak-anak dan remaja mungkin terlalu berpikiran negatif sampai melebih-lebihkan dan menutupi aspek positif dari suatu hal. Contohnya, seorang guru memuji anak karena bisaa presentasi dengan baik, tapi juga memberi saran untuk memperlambat penjelasannya. Anak yang berpikiran negatif menganggap diri mereka buruk karena menjelaskan terlalu cepat.

 

Menerka-nerka. Anak dengan pola pikir negatif cenderung membayangkan hal-hal buruk terjadi pada mereka. Misalnya, seorang anak mengikuti perlombaan, sebelum perlombaan mereka berkata “bagaimana jika saya tidak menang dan membuat malu?”

 

Berpikir “saya harus”. Ini terjadi ketika anak membayangkan suatu hal harus bisa mereka lakukan dengan baik. Biasanya, mereka akan berpikir, “saya harus bisa mengerjakan soal ini, ini kan mudah”. Pikiran seperti ini akan jadi beban ketika tidak menjadi kenyataan.

 

Pelabelan negatif. Biasanya, anak akan menempelkan kata tidak baik pada dirinya. Mungkin mereka terdengar seperti bercanda dan bilang “aku malas” atau “aku bodoh, tidak bisa ngerjain ini”. Tapi julukan itu cenderung melekat pada pikiran anak sehingga mereka benar-benar menganggap dirinya malas dan bodoh.

 

Perbandingan negatif. Ini terjadi ketika anak membandingkan diri dengan orang lain, dan membandingkan dirinya lebih buruk. Contohnya, “dia lebih kurus dan lebih cantik, sedangkan aku?”

 

Saatnya orang dewasa memotivasi anak lebih baik. Cobalah beri pengertian pada mereka, jika suatu hal bisa saja tidak berjalan sesuai rencana, tapi itu tidak membuat mereka gagal.

 

Jika mereka mengatakan sesuatu yang negatif seperti “aku tidak bisa mengerjakan PR ini.” Coba bilang pada mereka, “iya itu susah, tapi kamu sudah berusaha keras sampai tahap ini, aku yakin kamu bisa.”

 

Dan jika mereka membandingkan dirinya dengan orang lain, seperti “kenapa nilaiku buruk padahal nilai temanku bagus,” cobalah untuk menjawab anak dengan membangun pikiran yang lebih baik, seperti “kamu sudah melakukan yang terbaik, kamu bahkan lebih baik dari terakhir kali.”

 

Bernstein pun mengatakan orangtua dapat mengajak anak dan remajanya untuk bersantai dan tidak terlalu stres. Tapi, orangtua tetap harus memberi motivasi dan mengajarkan anak dua keterampilan hidup paling penting, yaitu tetap tenang dan menyelesaikan masalah.

 

“Memberitahu anak dan remaja untuk bersantai dan tiak terlau stres tidak akan membuat mereka terlalu jauh jika mereka tidak mempunyai perantara untuk digunakan. Tapi tetap melakukan pembinaan yang konstruktif menggunakan contoh seperti diatas akan membantu mempelajari apa yang saya anggap sebagai dua keterampilan paling penting bagi kehidupan: tetap tenang dan menyelesaikan masalah,” tutup Bernstein.

(Penulis: Melina Nurul Khofifah)

Posting Komentar

0 Komentar