Tingginya Angka Stunting Indonesia Karena Kurang Asupan Buah

(Foto: Liputan6)
KomnasAnak.com, NASIONAL - Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis kemenko Perekonomian Musdhalifah Machmud mengatakan tingginya angka stunting anak karena rendahnya tingkat konsumsi buah masyarakat.

 

“Stunting terjadi akibat kurangnya kebutuhan vitamin atau mineral. Dimana sebagian mineral itu diperoleh dari buah dan sayur. Sedangkan di kita tingkat konsumsi buah masih renah,” ujar Musdhalifah dalam Webinar Gerakan Konsumsi Buah Nusantara di Jakarta, Senin (10/8).

 

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan konsumsi buah untuk hidup sehat yaitu 150 gram per hari. Angka itu setara dengan tiga buah pisang ambon berukuran sedang atau satu potong papaya ukuran sedang, ataupun tiga buah jeruk berukuran sedang.

 

Sedangkan, rata-rata konsumsi buah masyarakat Indonesia berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) pada tahun 2019 adalah 67 gram per hari.

 

“Artinya angka ini dibawah tingkat kecukupan WHO yang menganjurkan konsumsi buah minimum 150 gram per kapita dalam setiap harinya,” jelas dia.

 

Padahal, lanjut Musdhalifah, anak dalam fase pertumbuhan harus terpenuhi kecukupan gisinya. Agar dapat terhindar dari risiko stunting yang mengancam tumbuh kembang anak.

 

Beruntungnya, kesadaran untuk mengonsumsi buah mulai meningkat pada tataran masyarakat. Salah satunya dipicu oleh kehadiran pandemi COVID-19.

 

“Pandemi ini menyadarkan publik untuk pentingnya arti kesehatan. Masyarakat kerap melakukan berbagai cara agar terhindar dari serangan coronavirus. Seperti berolahraga, meningkatkan konsumsi buah dan sayur lebih sehat, hingga membeli produk kesehatan,” papar Musdhalifah.

 

Sementara itu Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menyampaikan target penurunan stunting hingga 14 persen pada 2024.

 

“Kita berupaya untuk mensukseskan program stunting demi Indonesia maju di kemudian hari. Tadi ada beberapa saran dari Pak Presiden. Yang pertama, fokus (penurunan stunting) di 10 provinsi dulu,” ujar Terawan dalam keterangan pers setelah menghadiri rapat terbatas di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (5/8).

 

“Lalu soal koordinasi antar kementerian dan lembaga. Kami disini juga kerja sama dengan Kementerian Sosial, bagaimana peran dari PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga), PKH (Program Keluarga Harapan). Pada hakikanya, upaya ini ditujukan untuk mencapai penurunan angka stunting di 2024 menjadi 14 persen,” lanjutnya.

 

Dalam upaya penurunan angka stunting, Presiden Jokowi meminta seluruh pihak dan pemerintah daerah untuk fokus menangani stunting di 10 provinsi dengan prevalensi stunting tertinggi. Data Kementerian Kesehatan, stunting mengalami penurunan dari 37 persen pada 2013 menjadi 27,6 persen pada 2019.

 

Kesepuluh provinsi dengan prevalensi stunting tertinggi, antara lain: Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Barat, Gorontalo, Aceh, Kalimantan Tengah, Kaimantan Selatan, Kalimantan Barat, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah.

(Editor: Melina Nurul Khofifah)

Posting Komentar

0 Komentar