Komnas PA Minta Pelaku Pembunuhan Anak Karena Sulit Belajar Dihukum Setimpal

Pembongkaran makam korban anak 8 tahun yang dianiaya orangtuanya sampai meninggal dunia (foto: tribunjabar)

KomnasAnak.com, NASIONAL - 
Masyarakat dikejutkan dengan perbuatan suami-istri, IS (27) dan LH (26), yang membunuh anak kandungnya berusia 8 tahun karena sulit diajak belajar daring. Merespon hal ini, Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait mengatakan, tersangka harus mendapat hukuman sepadan atas perbuatannya. 


"Pasutri yang membunuh anak sendiri dengan cara menganiaya, membunuh, dan menguburkan secara tidak layak patut mendapat hukuman yang setimpal dengan perbuatannya. Mengingat dua pelaku adalah orangtua kandung korban yang seyogyanya menjaga dan melindungi anak," ujar Arist dalam keterangan persnya, Rabu (16/9).

"Berdasarkan UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan anak, pasutri ini terancam 20 tahun pidana penjara ditambah sepertiga dari hukuman pidana, pokoknya menjadi pidana seumur hidup," tegas Arist.

Menurut Arist, tidak ada toleransi bagi orang yang melakukan pembunuhan terhadap anak, terlebih dilakukan oleh orangtuanya.

"Dalam kondisi dan situasi apapun korban, siapapun pelakunya dan sampai kapanpun, tidak ada alasan dan toleransi terhadap perampasan hak hidup seseorang apalagi terhadap anak kandung sendiri dengan cara menganiaya, menyiksa, dan mengakibatkan meninggal dunia. Oleh karenanya, pasutri IS dan LH patut dijerat dengan pidana seumur hidup," ujar Arist.

Arist mengungkapkan, menurut keterangan polisi korban berusia 8 tahun menunjukkan ada bekas lebam di bagian kepala.

"Berdasarkan keterangan yang disampaikan Kasat Reskrim Polres Lebak, dari hasil autopsi kepala kanan dan pada tulang tengkorak luka lebam akibat hantaman benda tumpul," kata Arist.

"Jasad anak malang ini dibongkar warga dan kepolisian pada Sabtu 12 September lalu dalam kondisi jenazah memang sudah tidak bisa diidentifikasi, karena oleh pelaku korban dikuburkan sejak 26 Agustus sehingga sudah 3 pekan korban dikuburkan sampai ditemukan oleh warga," ujar Arist menambahkan.

Arist mengungkapkan pelaku ibu korban LH memang melakukan penganiayaan mengakibatkan korban meninggal.

Arist menduga perlakuan ini sudah sering dilakukan karena ada bukti foto dan video dimana korban terlihat lebam di bagian wajah dan penganiayaan terakhir mengakibatkan korban tewas.

Sementara itu, pihak kepolisian mengagendakan pemeriksaan kejiwaan untuk mengetahui kondisi psikologi tersangka sehingga tega melakukan kekerasan sampai menguburkan anaknya sendiri di Lebak.

"Kita sudah ajukan untuk diuji psikologinya, sudah diajukan ke Dokkes Polda Banten di bagian psikiater," kata Kasat Reskrim Polres Lebak AKP David Adhi Kusuma dikutip dari detikcom, Kamis (17/9).

Setelahnya, polisi akan melakukan reka adegan penganiayaan sampai penguburan korban di TPU Gunung Kendeng. Namun, pihak kepolisian belum menyampaikan waktu pelaksanaan karena masih berkoordinasi dengan berbagai pihak.

"Nanti akan rekonstruksi masih menunggu jadwal waktunya," ujar David.
(Editor: Melina Nurul K.)

Posting Komentar

0 Komentar