Cara menangani anak kesulitan belajar di masa pandemi

Terkadang anak bisa menjadi moody dan hilang motivasi untuk belajar. Keadaan ini juga bisa dipicu karena anak tidak paham. Sebagai orangtua hendaknya mengajari dengan mengerti anak (Foto: Kompas.com)

KomnasAnak.com, JEPARA - 
Media sosial tengah diheboohkan dengan video seorang ibu yang berulang kali mencambuki anaknya menggunakan selang. Kekerasan itu dilakukan sang ibu karena anaknya tak kunjung paha saat diajari pelajaran matematika olehnya.


Dari keterangan kepolisian, tindak kekerasan itu terjadi di Dusun Masyorenggo, Desa Talok, Malang pada Selasa (1/9).


Kasat Reskrim Polres Malang AKP Tiksnarto Andari Rahutomo mengungkapkan, penganiayaan baru berhenti ketika ayah korban datang menghampiri dan menenagkan sang istri.


Seorang psikolog anak dan keluarga, Astrid WEN mengungkapkan, untuk membantu anak saat belajar, orangtua sebaiknya memahami alasan yang membuat anaknya susah belajar.


“Jika orangtua melihat anaknya susah belajar, hal yang dapat dilakukan adalah melihat apa-apa saja yang membuat anaknya susah belajar, apakah hanya pada mata pelajaran tertentu ia kesusahan, apakah dalam memahami soal, apakah ia belajar dalam keadaan lelah/sudah mengantuk, atau secara spesifik apa yang membuat anak susah belajar,” ujar Astrid melansir Kompas.com, Jumat (4/9).


Menurutnya, orangtua dapat memberikan bantuan yang tepat bagi buah hati bila bisa melihat letak kesulitan mereka.


“Apabila kita melihat, oh dia kesulitan soal matematika, lalu kita berulangkali mengajarkan kepadanya soal tersebut tapi ia tidak bisa-bisa, kita perlu menyadari bahwa ia memang kesulitan dalam matematika soal matematika dan mungkin cara pengajaran kita kurang tepat,” papar Astrid.


Dia menambahkan, ada banyak metode pengajaran yang bisa dipilih sebagai metode paling tepat bagi anak.


Pada anak SD biasanya model pembelajaran menggunakan contoh konkret, alat peraga atau alat bantu, dan soal cerita akan banyak memudahkan anak memahami konsep-konsep matematika.


Astrid juga mewanti-wanti, jika sebagai orangtua dalam mengajar anak dengan memarahi, membentak, bahkan hingga melakukan kekerasan fisik, artinya orangtua perlu menyadari jika mereka bukan pengajar yang tepat bagi anak.


“Sudah jelas, ia menemukan jalan buntu dalam memahami soal matematika dan pengajaran dari kita juga tidak membuat ia engerti,” kata dia.


“Ia memerlukan metode pengajaran yang lain atau kita orangtua perlu mengambil waktu untuk belajar dari orang lain cara mengajari yang lebih tepat untuk anaknya,” sambungnya.


Sementara itu, sikap orangtua jika ingin bertindak sebagai guru perlu aktif mencari bantuan dari guru-guru sekolah atau orangtua lain, bertanya apa yang dapat ia lakukan agar anaknya mengerti.


Orangtua juga dapat meminta bantuan orang lain atau seorang kakak mentor yang dapat mengajari anaknya.


Astrid menjelaskan, tindakan orangtua memarahi dan memukul mungkin karena frustasi dan tidak sabar melihat anaknya tidak bisa, padahal orangtua pikir soalnya cukup mudah untuk diselesaikan.


Oleh karena itu, ada keraguan apakah sang anak tidak pintar atau orangtua yang tidak pintar dalam memecahkan soal matematika.


Mengajari anak belajar, menurut Astrid, sebenarnya adalah bagaimana agar ia tidak kehilangan motivasi belajar, bagaimana agar motivasi belajar tumbuh secara mandiri, dan bukan karena ketakutan/ancaman oleh orang dewasa di sampingnya.


“Dalam proses belajar kita juga ingin menanamkan kepercayaan diri pada anak bawa ia bisa menyelesaikan soal-soalnya,” imbuh Astrid.


Di sisi lain, penyebab anak tidak mood belajar disebabkan karena situasi belajar yang tidak positif, tidak menyenangkan, atau tidak ada penghargaan bagi yang sudah berusaha mengerjakan soalnya.


Astrid mengungkapkan, anak termotivasi belajar saat ia merasa bisa memahami dan mengerjakan soal, ia juga mendapatkan perhatian dan pujian dari guru atau orangtuanya, dan mendapatkan pengetahuan yang menarik serta sesuai minatnya.


Kendati demikian, dia membagikan sejumlah tips apa saja tindakan yang sesuai dalam embangkitkan keinginan belajar anak, yaitu:


Mulailah dengan mengajari pelajaran yang disukai anak terlebih dahulu.


Puji anak ketika bisa mengerjakan soal yang sesuai minatnya. Perasaan kompeten, bahwa anak bisa ini, akan membantu menguatkan ia untuk mengerjakan soal yang kurang anak sukai.


Berikan soal yang lebih mudah dahulu baru soal yang sulit. Cari baseline dimana anak bisa dan sering-seringlah melakukan latihan soal. Latihan soal akan membantu anak familiar terhadap cara menjawab soal.


Ciptakan kondisi belajar menarik dengan sesekali memberi reward atau dibuat situasi kuis, atau bisa belajar bersama dengan saudara dan tetangga.

(Editor: Rena)

Posting Komentar

0 Komentar