Dampak Buruk bila Orangtua Gunakan Kekerasan saat Mengajari Anak


KomnasAnak.com, NASIONAL - 
Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) seringkali menimbulkan berbagai tantangan, terutama bagi orangtua yang sekarang menjadi pendamping utama anak dalam belajar.


Kesulitan dalam mengendalikan emosi bisa jadi salah satu masalah bagi orangtua.

Padahal, kekerasan fisik maupun verbal yang dilakukan saat mendampingi anak belajar tak hanya menghilangkan semangat belajar. Menurut komisioner KPAI, Retno Listyarti, kekeraaan juga dapat mempengaruhi perkembangan emosi dan membuat anak berperilaku buruk di kemudian hari.

Seperti kehilangan kemampuan menenangkan diri, menghindari kejadian provokatif dan stimulus yang memicu perasaan sedih dan marah, serta menahan diri dari sikap kasar yang didorong oleh emosi tidak terkendali.

Sikap kasar dan ketidakmampuan mengendalikan emosi yang ditunjukkan oleh orangtua dapat berpindah kepada anak melali interaksi.

"Hal ini terjadi karena anak cenderung mengimitasi sikap orangtua yang mereka lihat. Orang dewasa yang pernah mengalami hukuman fisik berupa kekerasan ketika masih anak-anak memiliki kemungkinan lebih besar untuk melakukan kekerasan terhadap pasangan atau anaknya sendiri, dan atau melakukan tindakan kriminal," papar Retno.

Menurutnya, orang dewasa yang pernah mengalami kekerasan saat muda cenderung melakukan hal yang sama pada anaknya.

Masalah keuangan juga mudah membuat orangtua merasa anak-anak mereka menjadi beban.

"Hal-hal ini menciptakan ketegangan, kemarahan, dan frustasi. Dalam fase ini, orangtua rentan untuk menyalahgunakan anak-anak mereka," jelas Retno.

Dalam mendampingi anak belajar, kesabaran orangtua jadi modal utama agar anak tetap semangat belajar dan senang belajar.

"Yang utama adalah keteraturan belajar, tidak harus dituntut bisa semua mata pelajaran dan tugas untuk diselesaikan dengan benar atau sempurna," papar Retno.

Peran guru pun harus dilakukan dengan memperhatikan tumbuh kembang dan kemampuan anak.

"Guru juga jangan memberikan penugasan yang terlalu berat, apalagi pada anak SD kelas 1-3 yang mungkin saja baru belajar membaca dan belajar memahami bacaan," ucapnya.
(Editor: Marhadina Khoirunnisa)

Posting Komentar

0 Komentar