Edukasi Remaja Penting Untuk Mencegah Stunting

Remaja memegang peran penting dalam program pencegahan stunting (foto:kumparan)

KomnasAnak.com, NASIONAL - 
Keterlibatan berbagai pihak dibutuhkan untuk mengentaskan stunting. Remaja menjadi salah satu kelompok usia potensial untuk dilibatkan dalam berbagai program pencegahan stunting sejak dini.


Program Advocacy and Communications Manager Tanoto Foundation, Indiana Basitha mengatakn pencegahan stunting menjadi fokus pertama untuk mencapai misi setiap anak mempu mencapai penuh potensi belajarnya.


“Untuk mencapai misi tersebut, kami berupaya memaksimalkan potensi tumbuh kembang sesuai usia anak, karena kami yakin setiap anak bisa memiliki perkembangan otak yang pesat,” kata Bashita dalam seri webinar ‘Saatnya Remaja Cegah Stunting’ pada Rabu, 26 Agustus lalu.


Menurut Bashita, remaja penting diedukasi terkait isu stunting. Karena banyak yang menyangka isu stunting hanya untuk orang tua dan pasangan yang sudah menikah. Padahal, sebenarnya stunting adalah sebuah siklus. Jika calon ibu punya asupan gizi kurang sejak remaha ia berisiko punya anak kurang gizi dan si anak akan mencontoh pola majan ibunya dan akan terus terulang.


“Siklusnya dimulai dengan kondisi kesehatan remaja putri. Maka masalah stunting harus hadi perhatian sejak remaja. Harapannya agar mereka menjaga asupan gizi, karena remaja adalah calon orang tua,” katanya.


Data Riskesdas 2018 menunjukkan sebanyak 8,7 persen remaja usia 13-15 tahun dan 8,1 persen remaja usia 16-18 berada dalam kondisi kurus dan sangat kurus.


Global Health survei 2015 mengungkapkan, tingginya angka stunting antara lain karena remaja jarang sarapan, 93 persen kurang makan serat sayur dan buah. Ditambah angka pernikahan remaja di Indonesia tinggi, padahal hal ini berkontribusi pada kasus stunting.


Sayangnya, remaja belum paham tentang pentingnya gizi dan stimulasi yang tepat. Pengetahuan mereka sangat terbatas tapi memutuskan untuk menikah, hamil, dan jadi ibu.


Salah satu penerima Tanoto Scholars angkatan 2017 Melinda Mastan menambahkan, penting untuk melibatkan remaja dalam penanggulangan stunting karena beberapa alasan. Pertama, remaja berada si garis depan dalam inovasi dan agen perubahan.


“Saat ini eranya diambil alih oleh anak muda. Banyak inovasi dikembangkan anak muda yang sudah memulainya sejak remaja. Dari merekalah inovasi lahir karena mereka masih memiliki semangat, idealisme, dan kreativitas tinggi,” kata Melinda yang merupakan sarjana gizi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.


Oleh karena itu, remaja bisa menjadi pintu masuk untuk pengembangan program.


“Remaja juga calon orang tua masa depan. Penelitian menyebutkan, status gizi ibu ini sudah dibangun sejak mereka remaja, sehingga perilaku dan kebiasaan hidup yang sehat sudah harus dibangun sejak remaja,” tambahnya.

(Editor: NR)

Posting Komentar

0 Komentar