Ketahui Cara agar Anak Terhindar dari Kekerasan Seksual


KomnasAnak.com, NASIONAL - 
Semakin bertambahnya kasus kekerasan seksual pada anak menuntut orangtua untuk lebih berhati-hati menjaga anaknya.

Psikolog Elizabeth T. Santosa memberikan beberapa cara bagi orangtua untuk menghindarkan anak dari menjadi korban ataupun pelaku kekerasan seksual.

Menurut Lizzie, faktor risiko tertinggi perilaku kekerasan seksual berasal dari pola asuh orangtua yang permisif atau serba membolehkan anak.

"Pola asuh orangtua yang permisif memberikan gadget kepada anak secara bebas tanpa supervisi, tanpa memahami pro dan kontra fungsi gadget, tanpa aturan main adalah salah," tegas Lizzie pada Senin (28/9).

Lizzie menjelaskan, sifat permisif menunjukkan kelalaian orangtua dalam memberi perlindungan kepada anak dari bahaya menggunakan gadget secara bebas.

Pasalnya, teknologi memiliki dampak positif dan negatif pada kognitif anak. Jika anak menyalahgunakan teknologi, dampak negatifnya adalah kecanduan.

"Dalam kaitannya dengan perilaku kekerasan seksual, faktor risiko tertinggi bukan dari tontonan pornografi namun pada pola asuh orangtua," kata Lizzie.

Tontonan pornografi lebih erat kaitannya dengan remaja dan perilaku seks bebas. Sebab remaja yang terpapar pornografi mengalami pelemahan fungsi kontrol (bagian otak prefrontal cortex) dan manajemen diri.

Untuk mencegah hal demikian, Lizzie memberikan 4 cara, yaitu:

Pertama, memberikan pendidikan seks sejak dini.

Melansir dari Durex, pendidikan seks merupakan pengetahuan bagi anak untuk mengenal fungsi tubuh serta memahami etika dan norma sosial.

Tujuannya agar anak tahu konsekuensi dari setiap perbuatannya.

Pendidikan seks menjadi penting sebagai usaha menjaga kesehatan reproduksi anak, serta mengajarkan cara mengidentifikasi pelecehan dan kekerasan seksual.

Tanpa dididik, anak berpeluang mengambil keputusan tidak bijaksana saat mengeksplorasi seksualitasnya.

Kedua, melakukan pendampingan terhadap aktivitas dan kegiatan harian anak.

Orangtua harus mendampingi anak, terutama ketika bermain gawai. Namun, pendampingan tidak boleh terlalu mengekang anak.

Ketiga, terlibat aktif di lingkungan sekolah bersama orangtua lain dan guru.

Orangtua dapat menjalin hubungan dengan orangtua murid lain untuk membicarakan masalah anak secara reguler.

Keempat, menjadi teladan perilaku bagi anak

Dalam keseharian, orangtua dapat memberikan contoh kepada anak untuk menerapkan nilai-nilai kesantunan, moral, keagamaan, dan lain-lain.

Selain itu, penting untuk menjalin komunikasi yang baik dan hangat. Terutama pada topik seksual agar dapat menanamkan pemahaman tentang edukasi seks.

"Orangtua dan anak saling berkomunikasi serta terbuka satu sama lain," imbuh Lizzie.

Pasalnya, survei edukasi seks oleh Reckitt - Benckiser Indonesia di 5 kota besar Indonesia menunjukkan, 50 persen orangtua bimbang mengkomunikasikan topik seks pada anak.

Sebanyak 59 persen orangtua merasa tabu untuk mendiskusikan topik seks dengan anak. Sementara 64 persen diantaranta tidak menyampaikan dan mengomunikasikan topik seks pada anaknya.

Padahal, membicarakan topik seks memiliki beragam manfaat. Salah satunya mencegah anak menjadi korban dan pelaku kekerasan seksual.

(Editor: DM)

Posting Komentar

0 Komentar