Komnas PA Beri Perhatian Seirus Soal Dua Anak Korban Kekerasan Seksual Ayah Kandung yang Diusir Warga

Ketua Umum Komnas Pelrindungan Anak Arist Merdeka Sirait

KomnasAnak.com, NASIONAL - 
Kasus pengusiran dua anak korban kekerasan seksual oleh ayah kandungnya di Dusun Pangaloan, Sionggang, Lumban Julu, Kabupaten Tobasa, Sumatera Utara mendapat perhatian dari Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA).

 

Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait memberikan perhatian khusus terhadap khusus terhadap korban AS (7) dan LS (9) bersama ibunya DM (32) serta seorang bayi yang baru berusia 2 bulan.

 

Dalam kunjungan kerjanya, Arist menyampaikan kepada warga Desa Sionggang untuk mengurungkan niatnya mengusir korban dan keluarganya dari Dusun Pengaloan.

 

Dia juga menyampaikan, pengusiran korban dan keluarga dengan alasan menjaga nama baik desa dapat melanggar Hak Asasi Manusia dan merupakan tindak pidana kekerasan serta kejahatan terhadap kemanusiaan.

 

Dengan mengacu pada UU No. 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, Komnas PA meminta dengan tegas kepada Kepala Desa Sionggang Lumban Julu, untuk tidak mengizinkan warganya mengusir korban dan keluarganya dari dusun Pangaloan, Sionggang Selatan.

 

“Sangat disayangkan sampai rencana pengusiran terhadap dua korban kejahatan seksual dari ayah kandungnya beserta ibu korban diperoleh informasi dari masyarakat sungguh membiarkan peristiwa ini dan tidak mendapat perhatian, bantuan, dan penanganan yang semestinya berdasarkan tupoksinya,” tutur Arist.

 

Karena itu, Komnas PA meminta agar Kadis PPPA dan PMD kabupaten tidak membiarkan pengusiran terjadi.

 

“Serta meminta Bupati Tobasa agar memerintahkan Kadis PPPA dan PMD, Dinas Sosial, dan Dinas Pendidikan untuk memberikan pertolongan kepada korban dan hak-hak dasarnya sebagai anak tegas,” ucap Arist.

 

Terungkapnya kejadian ini bermula ketika AS dan LS menceritakan perbuatan ayahnya (LDR) pada sang nenek (SS). Mereka mengatakan ayahnya melakukan pencabulan dua kali dalam seminggu hingga keduanya mengalami trauma.

 

SS kemudian menceritakannya pada sang suami/kakek korban JG. Tidak mau gegabah, SS pun mengawasi tingkah laku menantunya, LDR.

 

Setelah merasa yakin, atas rembug keluarga, JG pun mendatangi Unit PPA Satreskrim Polres Tobasa untuk membuat laporan polisi dengan nomor LP 198/7/2010/TBS tanggal 30 Juli 2020.

 

Berdasar laporan tersebut, tim Resmob Polres Tobasa memburu LDR yang diinformasikan melarikan diri di Sidikalang setelah tahu dirinya dilaporkan oleh mertuanya.

 

Saat ini, pelaku mendekam di tahanan unit PPA Polres Tobasa untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya dan menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

 

Atas peristiwa tersebut, pelaku terancam pidana pokok maksimal 20 tahun sesuai UU RI No. 17 tahun 2016 tentang penerapan Perpu No. 1 tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan dapat ditambahkan sepertiga pidana pokok karena dilakukan oleh orangtua kandungnya sendiri.

 

Komnas PA percaya dan sangat yakin bahwa Polres Tobasa dan Kejaksaan Negeri akan memberikan perhatian yang serius.

 

“Dan sangat diyakinkan bahwa pengadilan juga akan memutuskan perkara ini sesuai dengan tuntutan yang dibuat oleh Kejaksaan Negeri,” kata Arist.

(Editor: Melina)

Posting Komentar

0 Komentar