Pandemi Berdampak pada Jumlah Kekerasan pada Anak dan Pernikahan Dini di NTB

Acara Webinar Keluarga oleh Universitas Pendidikan Mandalika membicarakan tentang pengaruh pandemi COVID-19 pada pernikahan anak dan kekerasan pada anak di NTB (Foto: Kicknews)

KomnasAnak.com, NASIONAL - 
Pandemi COVID-19 telah membuat angka kekerasan seksual terhadap anak dan pernikahan dini di Indonesia semakin meningkat.

 

Berdasarkan data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi salah satu dari 13 provinsi di Indonesia yang mengalami kenaikan angka pernikahan di usia remaja atau sekolah.

 

“Salah satu alasannya adalah masalah budaya. Di NTB ada istilahnya merariq kodeq (menikah dini),” ungkap Ketua TP-PKK NTB Niken Saptarini Widyawati saat menjadi pembicaara pada webinar pendidikan keluarga yang diselenggarakan oleh Universitas Pendidikan Mandalika pada rabu 9 September 2020.

 

Selain budaya, Niken mengatakan meningkatnya pernikahan dini di NTB dapat terjadi karena alasan ekonomi pada orangtua, serta kasus hamil pada remaja.

 

Niken menilai, kurangnya pengawasan orangtua selama aktivitas belajar di rumah mengakibatkan remaha memiliki keleluasan dalam bergaul di lingkungan masyarakat. Belum lagi minimnya informasi terkait kesehatan repdoduksi bagi remaja dan orangtua.

 

Oleh karena itu, penguatan peran keluarga dalam pendidikan anak amat penting di masa pandemi COVID-19. Peran dari segala pihak baik dari pemerintahan provinsi hingga desa juga sangat diperlukan untuk mencegah pernikahan dini.

 

Lebih lanjut, data Kemen PPPA menyebutkan pada Janusari hingga Juni telah dilaporkan 3.087 kasus kekerasan pada anak di Indonesia. Menurut Niken, jumlah ini disebabkan oleh beberapa hal, salahsatunya masalah ekonomi di tengah pandemi yang membuat orangtua cemas dan khawatir sehingga mudah marah dan stres.

 

“Selain itu, ketidaksiapan orangtua dengan kondisi tetap di rumah bersama dan mendampingi anak belajar selama berbulan-bulan, serta ketidaksiapan orangtua dalam mengasuh, membimbing dan mendidik anak,” ujarnya.

 

Untuk itu, tutur Niken, orangtua perlu memiliki berbagai strategi dalam mendampingi anak. salahsatunya, menciptakan kedisiplinan hingga konsisten dalam kesepakatan yang dibuat.

 

Dalam kesempatan yag sama, Rektor Undikma, Kusno, mengatakan pandemi adalah pandemi yang perlu disikapi sebagai ujian unutuk menjadi manusia yang sabar. Oleh karena itu, diperlukan kerjasam dari seluruh lapisan masyarakat.

 

“Kita akan mencoba untuk mencari apa yang harus kita lakukan, khususnya untuk masyarakat NTB dalam menghadapi pandemi ini. Setidaknya harus ada solusi terkait kesehatan, pangan, sandang, hingga pendidikan,” ungkap Kusno.

(Editor: Melina)

Posting Komentar

0 Komentar