PBB Serukan Agar Pendidikan Tidak Berhenti di Tengah Krisis


KomnasAnak.com, JEPARA - 
Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) meminta semua negara untuk memprioritaskan pendidikan meskipun di tengah krisis pandemi. PBB juga memperingatkan bahwa semua negara tengah mempertaruhkan nasib masa depan sebuah generasi anak-anak.


Sebuah dana global (global fund), Education Cannot Wait, yang dibentuk untuk membantu anak-anak mendapat pendidikan di masa krisis telah melaporkan lebih dari satu milyar anak muda tidak dapat bersekolah secara langsung akibat dari pandemi.


Program Education Cannot Wait yang diselenggarakan UNICEF memperingatkan banyak anak-anak yang mungkin tidak bisa kembali ke sekolah. Namun ada juga yang bisa, asalkan dibantu.


Program ini pun, kata Direktur Eksekutif Education Cannot Wait, Yasmin Sherif, bertujuan untuk membantu anak-anak tersebut.


“ini bukan lagi masalah bagaimana, karena kami sedang melakukannya. Ini berlangsung sementara kita bicara. Kami berusaha mengarahkan pendidikan dan itu kami lakukan dari sudut pandang sebuah krisis,” kata Sherif.


Dia menjelaskan, dana global ini dibentuk khususnya untuk menanggapi sebuah krisis dan situasi darurat.


“Program Education Cannot Waiit sebagai bagian dari dana ini, dirancang untuk menanggapi bencana, eskalasi konflik, dan malahan juga pandemi,” kata dia.


Education Cannot Wait sendiri dibentuk pada KTT Kemanusiaan Dunia di Istanbul pada 2016. Sejak saat itu, 3,5 juta anak yang terperangkap dalam konflik berhasil dbantu. Mereka yang dibantu hidup sebagai pengungsi, kehilangan tempat tinggal, atau terkena bencana akibat iklim. Mereka berasal dari kawasan Sahel di Afrika Barat, sub sahara Afrika, Afghanistan, Banagladesh, dan Timur Tengah.


Sherif mengatakan, dana global ini kini sudah beroperasi di 35 negara. Menurutnya, pendemi telah memaksa adanya perubahan radikal pada cara PBB dan lembaga nirlaba untuk menyelenggarakan pendidikan. Mereka harus menyesuaikannya dengan kenyataan perlunya menjaga jarak sosial.


Metode-metode baru diciptakan untuk menggantikan ketidakmampuan banyak siswa di negara berkembang dalam mengakses pembelajaran jarak jauh selama sekolah masih ditutup.


“Jadi kamu menggunakan teknologi. Kami menggunakan radio. Kami menggunakan guru-guru. Kami menggunakan fasilitas sekolah untuk menganggapi kebersihan dan sanitasi, uga pemberian makanan, sehingga anak-anak tidak kehilangan kesempatan mendapat makanan sehari-hari yang sangat penting bagi mereka,” kata Sherif.


Sebelum pandemi, sudah ada sekitar 75 juta anak dan remaja di daerah yang dilanda krisis tidak bisa memperoleh pendidikan. Sherif mengatakan, angka itu semakin membesar sejak terjadinya pandemi COVID-19.

(Editor: Rena)

Posting Komentar

0 Komentar