Perubahan Rutinitas dan Keterbatasan Ekonomi Picu Kekerasan pada Anak


KomnasAnak.com, NASIONAL -
 Insiden pembunuhan seorang anak karena susah diajari saat belajar membuat publik tersentak. Anak kelas 1 SD tersebut dipukuli dengan sapu oleh ibunya sampai tewas dan dikubur masih menggunakan baju lengkap.


Psikolog Ikhsan Bella Persada mengatakan, kekerasan anak adalah perilaku menyakiti secara fisik dan atau psikis pada anak. Ditujukan untuk merusak, melukai, dan merugikan anak.

"Dalam masa pandemi virus corona, tingkat kekerasan pada anak memang bisa meningkat. Penyebabnya bisa bermacam-macam. Tapi, faktor utama yang mungkin memicu tindakan ini adalah kondisi ekonomi," kata Ikhsan.

"Ketika orangtua stres karena kondisi keuangan menipis, mereka jadi melampiaskan rasa marah dan kecewa pada anak," sambungnya.

Ikhsan menegaskan, perubahan rutinitas dan ekonomi selama pandemi berperan dalam tingginya kasus kekerasan anak yang terjadi belakangan.

"Ekonomi, intensitas bertemu, pola interaksi, semuanya berubah. Ada orangtua yang melampiaskan stres karena kondisi ini. Dia berhenti kerja atau uang sehari-hari terbatas, akhirnya meletakkan kekesalan ke anaknya," tutur Ikhsan.

"Anak adalah sosok inferior, sedangkan orangtua adalah sosok superior yang merasa punya kuasa lebih atas apa yang terjadi dalam keluarga. Inilah yang menyebabkan anak jadi sasaran empuk bagi orangtua ketika mereka sedang marah, stres, atau kecewa," lanjutnya.

Ikhsan menyarankan agar orangtua berlatih mengontrol diri untuk menghadapi anak.

"Sebagai orangtua, penting bagi anda untuk memahami kapasitas masing-masing anak. Jika merasa emosi atau sedang tidak stabil, ada baiknya menarik diri dari orang sekitar untuk menenangkan diri. Sehingga, tidak melakukan tindakan kekerasan pada anak," tutur Ikhsan.
(Editor: Putri)

Posting Komentar

0 Komentar