Tantangan Besar Jawa Tengah Atasi Stunting


KomnasAnak.com, JAWA TENGAH -
Jawa Tengah dan beberapa provinsi lain di Indonesia masih terus mendapat tantangan besar dalam penanganan stunting pada anak. Terlebih lagi, situasi pandemi Covid-19 membuat banyak ibu takut mengajak anaknya ke pusat layanan kesehatan.


Selain itu, menurut Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, pernikahan dini menjadi tantangan berat yang sulit diatasi sejak lama.


Ganjar mengaku mendapat sejumlah laporan dari daerah mengenai upaya orangtua meminta dispensasi menikah. Ijin ini diperlukan bagi mereka yang ingin menikah namun belum mencapai batas usia minimum.


Selama itu pendidikan dan penyadaran kepada masyarakat terus dilakukan. Tetapi, menurut Ganjar upaya ke birokrasi juga tidak bisa diabaikan.


“Kementerian Agama juga sudah kita ajak bicara, agar jangan dikasih toleransi dulu, agar kemudian kesehatan reproduksiyna ini betul-betul kita edukasi. Kita siapkan mereka agar sangat paham pada soal ini,” kata Ganjar pada diskusi “Respon Pemerintah dalam Upaya Percepatan Penurunan Stunting Pasca Pandemi Covid-19 di Jawa Tengah” yang diselenggarakan Puslitkes LPPM Universitas Diponegoro Semarang, dengan didukung UNICEF pada Selasa (22/9).


Ganjar memaparkan, di Jawa Tengah hingga Februari 2020, terdapat 156.549 balita mengalami stuting. Data itu merupakan hasil rekap anak berdasarkan status gizi, dari pengukuran terhadap 1.074.641 balita di Jawa Tengah.


Penyebab dominan dalam kasus Jawa Tengah, lanjut Ganjar, adalah kurangnya pengetahuan tentang kesehatan dan gizi ibu sebelum dan pada masa kehamilan. Selain itu, 60 persen anak usia 0-6 bulan tidak mendapatkan ASI ekslusif dan 2 dari 3 anak usia 0-24 bulan tidak menerima makanan pengganti ASI.


Dari sisi ibu, diketahui bahwa 1 dari 3 ibu hamil di Jawa Tengah mengalami anemia dan kurang mampu mengakses makanan bergizi. Intervensi telah dilakukan, antara lain dengan pemberian suplemen secara rutin sejak remaja untuk mengatasi anemia.


Sedangkan, akses terhadap makanan bergizi dipermudah dengan intervensi langsung pemerintah. Provinsi ini juga memiliki program khusus bernama “Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng”, yang maknanya Jawa Tengah memberi perhatian khusus kepada ibu hamil.


“Kurangnya akses ke ar bersih dan sanitasi. Dimana satu dari lima rumah tangga masih buang air besar di ruang terbuka. Juga satu dari tiga rumah tangga belum memiliki akses ke air minum bersih, ini tanggung jawab pemerintah,” tutur Ganjar.


Kaitan antara pernikahan dini dan kasus stunting di Jawa Tengah juga menjadi bahan penelitian oleh seorang dosen dan peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Nuryanto.


Dia mengelompokkan pernikahan dini di usia antara 14-15 tahun dan 16-17 tahun, kemudian membandinkan jumlah kasus stunting pada balita di kedua kelompok tersebut.


“Hasil kajian kami, di salah satu kabupaten di Jawa Tengah, ternyata ibu yang menikah pada usia lebih dini, yaitu 14-15 tahun dibanding 16-17 tahun itu terjadinya stunting lebih tinggi pada ibu yang menikah dini,” kata Nuryanto.


Nuryanto merinci, pada kelompok pernikahan dini usia 14-15 tahun, ada stunting sebanyak 43,5 persen. Sedangkan pada kelompok kedua, yaitu kelompok usia 16-17 tahun, angka stunting tercatat 22,4 persen.


Kasus stunting juga didorong oleh pemberian makanan pengganti ASI yang kurang protein, seperti ikan dan telur. Banyak ibu memberi balita makanan dengan sayur bayam, tapi hanya nasi dan kuahnya yang akhirnya dikonsumsi.


Pemberian ASI ekslusif sesuai standar juga rendah di Jawa Tengah. Hanya satu kabupaten di provinsi ini, yaitu Banjarnegara yang pemberian ASI ekslusifnya di atas 50 persen. 


Dari penelitian Nuryanto, didapati kabupaten Banjarnegara memiliki angka stunting paling rendah.


Hasil penelitian lain dari tim Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro menemukan fakta bahwa stunting dipengaruhi oleh paparan pestisida pada petani.


Selama ini, faktor lingkungan pada gangguan tumbuh kembang anak hayna dikaitkan dengan infeksi, terutama infeksi saluran pernapasan, Akibatnya, program pengendalian dari aspek lingkungan hanya fokus pada perbaikan sanitasi lingkungan.


Padahal, paparan bahan toksik dalam dosis rendah namun jagka panjang juga dapat berdampak negatif.


“Selain maslah asupan gizi yang kurang dan infeksi, pajanan bahan toksik dari lingkungan antara lain pestisida, patut diduga sebagai penyebab atau faktor risiko kejadian stunting,” kata Suhartono mewakili tim peneliti Undip.


Penelitian di Brebes, kota penghasil bawang merah denga tingkat pestisida tertinggi di Indonesia, mengungkapkan bahwa kota ini punya kasus stunting sebanyak 40,7 persen, tertinggi di Jawa Tengah menurut Riskedas 2013.


Perempuan yang memiliki riwayat paparan pestisida punya risiko 3,3 kali lipat menderita hipotiroidisme, kondisi yag menyebabkan janin mengalami gangguan pertumbuhan. 


Sementara, anak terpapar pestisida lebih berisiko 6,8 kali menderita gondok dan 3,9 kali lebih berisiko mengalami stunting.


Suhartono mengatakan, pestisida dapat menyebabkan stunting karena masuk ke dalam tubuh melalui kulit, saluran pernapasan, maupun mulut. Dampak lanjutannya, uncul gangguan fungsi hormone pertumbuhan, dan terjadi stress oksidatif. Akan terjadi gangguan penyerapan bahan makanan di saluran cerna dan belanjut pada gangguan pertumbuhan atau stunting.

(Editor: Melina Nurul Khofifah)

Posting Komentar

0 Komentar