WHO Imbau Agar Orangtua Tetap Bawa Anak ke Layanan Kesehatan

Ilustrasi anak tetap wajib mendapat pelayanan kesehatan untuk menurunkam risiko kematian (foto: JawaPos)

KomnasAnak.com, NASIONAL - 
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meminta agar orangtua tetap membawa anaknya untuk endapat layanan kesehatan yang memadai. Selama pandemi anak harus tetap mendapat akses layanan kesehatan dan gizi yang baik.

Survei WHO baru-baru ini mengungkapkan, sebanyak 52 persen dari 105 negara melaporkan terjadinya gangguan akses pada layanan kesehatan untuk anak-anak yang sakit. Gangguan juga terjadi di layanan penanganan malnutrisi sebanyak 51 persen. Intervensi kesehatan pun sangat penting dilakukan untuk menghentikan kematian bayi dan anak yang bisa dicegah.

Misalnya, perempuan yang meneria penanganan dari dokter professional memiliki kemungkinan 16 persen lebih kecil untuk kehilangan bayinya. Dan 24 persen lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami kelahiran premature.

“Utamakan kesehatan dan kesejahteraan anak sebagai yang utama,” kata Direktur Jenderal WHO Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam laman resmi WHO, Rabu (9/9).

“Sekarang, kita tidak boleh membiarkan pandemi COVID-19 menghambat kemajuan anak-anak dan generasi masa depan kita. Sebaliknya, inilah saatnya menggunakan apa yang kita tahu berfungsi untuk menyelamatkan nyawa, dan terus berinvestasi dalam sistem kesehatan yang lebih kuat dan tangguh,” tambahnya.

Selain keterbatasan akses, selama pandemi para ibu juga takut membawa anak mereka ke pusat kesehatan karena takut tertular. Pembatasan transportasi, penangguhan atau penutupan layanan dan fasilitas, dan kurangnya petugas layanan kesehatan juga menjadi hambatan.

Sebanyak 7 dari 9 negara memiliki angka kematian anak yang tinggi. Tercatat, lebih dari 50 kematian per 1000 kelahiran hidup di antara balita pada 2019.

Karena takut tertular virus corona, keluarga saat ini tidak memprioritaskan perawatan sebelum dan sesudah melahrkan. Situasi ini menambah risiko yang dihadapi ibu hamil dan bayi baru lahir.

Bahkan sebelum pandemi, bayi baru lahir memiliki risiko kematian tertinggi. Pada 2019, bayi yang baru lahir meninggal setiap 13 detik. Selain itu, 47 persen dari semua kematian balita terjadi pada periode neonatal, naik dari 40 persen pada tahun 1990.

Dengan adanya gangguan parah pada layanan kesehatan esensial, bayi baru lahir dapat memiliki risiko kematian yang jauh lebih tinggi.
(Editor: NK)

Posting Komentar

0 Komentar