6 Remaja di Pidie Digerebek Karena Pesta Seks, 4 Diantaranya Anak-Anak


KomnasAnak.com, JEPARA - 
Enam remaja di Pidie, Aceh, digerebek warga karena diduga melakukan pesta seks selama empat hari di sebuah rumah kosong. Empat diantaranya adalah anak di bawah umur.

"Mereka mengaku sudah berhuhungan badan masing-masinh tiga kali," kata Kapolres Pidie AKBP Zulhir Destrian pada Senin, (5/10).

Penggerebekan tersebut dilakukan warga pada Kamis 1 Oktober sekitar pukul 03.00 WIB. Peristiwa bermula dari kecurigaan warga tentang aktivitas enam remaja di rumah orangtua salah satu remaja. Padahal rumah tersebut diketahui telah lama kosong.

Zulhir mengatakan empat remaja yang diamankan berusia 14-17 tahun. Sedangkan dua lainnya, TM (19/perempuan), dan AD (18/laki-laki).

Mereka sudah empat hari tinggal di rumah kosong milik orangtua salah seorang tersangka. Kalau menurut pengakuan, mereka berhubungan badan pada waktu yang berbeda-beda," jelas Zulhir.

Selain itu empat anak di bawah umur diketahui merupakan anak putus sekolah dan anak broken home.

"Yang masih anak empat orang sudah putus sekolah dan sudah sering melakukan hubungan tersebut (hubungan badan). Mereka broken home semua," kata Kasat Reskrim Polres Pidie, Iptu Ferdian Chandra.

Pemerintah kabupaten Pidie menanggapi kasus ini meminta agar keenam tersangka diproses hukum.

"Ini adalah sebuah peristiwa yang memang sangat memprihatinkan bagi kita semua, karena terkait dengan anak-anak di bawah umur," kata Wakil Bupati Pidie Fadhlullah TM Daud pada Selasa, (6/10).

Menurut Fadhlullah, berdasarkan pendalaman oleh Pusat Pelayansn Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Pidie, keenamnya tidak tepat disebut pesta seks. Namun perbuatan mereka tergolong melanggar hukum.

"Kejadian tersebut mungkin tidak tepat kita sebut dengan pesta seks, tapi tetap saja itu adalah perbuatan yang keliru dan melangar aturan yang berlaku di Aceh," ujar Fadhlullah.

Fadhlullah mengatakan, setelah adanya kejadian tersebut, pihak desa harus melakukan langkah-langkah penguatan sebagai upaya penyelamatan generasi muda serya pageu gampong (pagar desa).

Penggerebekan tersebut diharapkan menjadi bahan refleksi bagi semua pihak.

"Kita harus lebih keras lagi bekerja dalam penguatan karakter anak-anak muda atau remaja kita dengan memperkuat lembaga-lembaga pendidikan yang ada dalam desa, baik formal maupun informal," jelad Fadhlullah.

Salah satu yang perlu dilakukan, kata Fadhullah, adalah pendalaman ajaran fan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Generasi muda diminya tidak hanya mempelajari nilai agama, tapi juga mengamalkannya.

"Karena itu, desa perlu secara lebih serius melakukan gerakan untuk memakmurkan masjid dan meusanah, tentu disesuaikan dengan kondisi pandemi COVID-19, mendidik masyarakat dan generasi mudanya agar senantiasa mencintai masjid dan mrmakmurkannya serta berakhlakulkarimah," ujarnya.
(Editor: DM)

Posting Komentar

0 Komentar