Jawa Tengah Buka Sekolah Virtual Atasi Masalah Putus Sekolah


KomnasAnak.com, JAWA TENGAH -
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo membuat sekolah virtual guna megatasi masalah anak putus sekolah di Jawa Tengah. Sekolah tersebut di buka di dua tempat, yaitu di SMAN 3 Brebes dan SMAN 1 Kemusu Boyolali. Masing-masing sekolah diikuti oleh 36 siswa.


Ganjar meresmikan sekolah tersebut secara daring di ruang kerjanya, Selasa (13/10). Sejumlah siswa turut menghadiri peresmian didampingi dengan orangtuanya.


Siswa yang merupakan siswa miskin merasa terbantu dengan adanya sekolah virtual. Mereka yang terpaksa putus sekolah karena ekonomi akhirnya bisa kembali melanjutkan cita-citanya.


“Bersyukur sekali dengan adanya sekolah virtual ini, saya jadi bisa kembali sekolah dan melanjutkan cita-cita. Kemarin tidak mendaftar SMA/SMK karena tidak punya biaya, bapak hanya petani yang penghasilannya tidak bisa diharapkan,” kata Aprilia Lestari, salah satu siswa kelas virtual di SMAN 1 Kemusu Boyolali.


Hal senada disampaikan Yevi Nurfahmi, siswa sekolah virtual lain adal Brebes. Pekerjaan orangtua yang hanya jadi asisten rumah tangga membuat harapannya memperoleh pendidikan tinggi harus pupus.


“Enggak daftar SMA karena faktor ekonomi, orangtua hanya bekerja sebagai ART. Senang sekali ada sekolah virtual ini, jadi saya bisa kembali sekolajh. Saya ingin menjadi seorang penyanyi,” ucapnya.


Ganjar menerangkan, ide awal pembuatan sekolah virtual adalah untuk memberi kesempatan belajar bagi setiap anak. lantaran banyak anak tidak bisa melanjutkan sekolah atau berhenti sekolah karena masalah biaya.


“Maka kami buat konsep sekolah virtual ini, agar mereka yang tidak sekolah tau berhenti sekolah karena faktor ekonomi, tetap bisa sekolah dengan baik. akan kami damping dan bantu mereka melanjutkan cita-citanya,” ucap Ganjar.


Untuk sementara, rintisan sekolah virtual dibuka di dua tempat, yakni Brebes dan Boyolali, dan diampu oleh sekolah negeri yang ada di sana, yaitu SMAN 3 Brebes dan SMAN 1 Kemusu Boyolali. Sehingga proses belajar mengajar tetap dapat memenuhi standar pendidikan nasional.


“Sekolah virtual ini diampu oleh sekolah SMA/SMK negeri yang ada di sana. Harapannya, anak-anak ini bisa tetap belajar di rumah dengan sistem daring dan sekali-sekali bisa tatap muka. Maka, mereka anak-anak yang punya cita-cita bagus, kan mendapat kesempatan,” jelas Ganjar.


Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Padmaningrum mengatakan, setidaknya ada 45.000 anak di Jawa Tengah yang tidak sekolah atau putus sekolah karena masalah biaya. Untuk itu, sekolah virtual diharapkan bisa menjadi solusi atas permasalahan.


“Sekolah virtual ini merupakan solusi agar anak-anak miskin yang tidak sekolah, bisa tetap melanjutkan belajarnya dengan baik. mereka yang ikut sekolah virtual ini semuanya gratis, kami berikan fasilitas berupa handphone dan juga beasiswa,” jelasnya.


Padma menjelaskan, sistem sekolah virtual sama dengan sekolah regular. Siswa akan tetap tercatat dalam data Dapodik siswa. Mendapatkan kurikulum yang sama, serta lulus dengan ijazah yang diakui.


“Semuanya sama, dia masuk Dapodik sisswa di sekolah yang mengampu itu. Prosesnya sama, lulusan juga berhak mendapat ijazah. Hanya saja metodenya sedikit berbeda, mereka banyak sekolah di dunia maya, dan sesekali dilakukan tatap muka, pungkasnya.

(Editor: DM)

Posting Komentar

0 Komentar