Kemen PPPA Dorong Pengadaan Ruang Bermain Ramah Anak Guna Cegah Kekerasan pada Anak


KomnasAnak.com, NASIONAL -
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) mengungkapkan sarana bermain dapat menjadi tempat terjadinya kekerasan pada anak. karena itu, Kemen PPPA terus mendorong upaya penyediaan ruang bermain ramah anak lewat infrastruktur pendukung.


“Kita mendorong anak berada pada lingkungan yang aman dan nyaman,” kata Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak Kemen PPPA Lenny Rosalin dalam webinar, Senin (12/10).


Lenny menyebut, ruang bermain sudah banyak di berbagai daerah, namun banyak pula yang sarana dan prasaran belum ramah anak sehingga dapat menyebabkan anak menjadi korban kekerasan.


“Inilah konsep perlindungan anak, agar anak tidak menjadi korban. Sering kali kejadian atau kasus kekerasan pada anak terjadi di ruang bermain,” kata Lenny.


Padahal, menurutnya, salah satu hak anak menurut Konvensi Hak Anak adalah bermain.


Lenny menjelaskan Ruang Bermain Ramah Anak (RBRA) adalah ruang yang dinyatakan sebagai tempat dan/atau wadah yang mengakomodasi kegiatan anak bermain dengan aman dan nyaman. Anak juga terlindungi dari kekerasan dan hal-hal lain yang membahayakan, dan anak terhindar dari diskriminasi.


“(Banyak) ruang bermain yang belum ramah anak yaitu seperti mudah gelap, lokasinya menciptakan kondisi yang tidak ada pengawasan di sana, dan banyak lagi,” ujarnya.


Lenny menjeaskan, menciptakan ruang publik dan infrastruktur yang ramah anak seperti RBRA adalah upaya menjamin pemenuhan hak anak dan menciptakan kawasan atau wilayah yang mendukung proses tumbuh kembang anak.


Di samping hal tersebut, RBRA juga menjadi salah satu indikator Kabupaten/Kota Layaak Anak untuk mencapai Indonesia Layak Anak (IDOLA) 2030.


“Kemen PPPA ingin ini (ramah anak) menjadi inovasi dalam menata kota. Kalau infrastruktur layak bagi anak maka akan layak bagi semua usia. Untuk itu, Kemen PPPA ingin menggalang sinergi dengan perguruan tinggi untuk mewujudkan infrasrtuktur ramah anak (IRA),” ujarnya.


Sinergi perguruan tinggi, menurut Lenny, dalam mengembangkan wilayah dan infrastruktur ramah anak dapat dilakukan melalui pendidikan, seperti bahan ajar atau mata kuliah terkait wilayah dan infrastruktur ramah anak. Bisa juga diwujudkan dalam riset dan inovasi terkait wilayah dan IRA, serta pengabdian masyarakat.


“Semua harus layak dan ramah anak, kita berikan perlindungan agar nantinya saat dewasa anak betul-betul menjadi SDM yang unggul,” jelas Lenny.


“Kuncinya terletak pada designing for kids designing with kids (merancang untuk anak, merancang bersama anak). Dalam prosesnya sejak mendesign anak-anak dilibatkan,” lanjutnya.

(Editor: Melina)

Posting Komentar

0 Komentar