Kenali Sexual Grooming: Kejahatan Seksual Berkedok Hubungan Saling Percaya

(Foto: Berrystreet)

KomnasAnak.com, NASIONAL - 
Baru-baru ini sering lalu lalang kata “grooming” pada pemberitaan mengenai kejahatan seksual. Sayangnya, istilah ini masih asing bagi banyak orang. Mungkin termasuk anda!

 

Coba bayangkan, ketika anda masih anak-anak dan perlu bimbingan. Tiba-tiba seseorang datang menjadi mentor bagi anda, memuji anda, dan memberikan anda perhatian yang anda butuhkan. Sebagai anak-anak, anda akan bahagia mengetahui ada orang yang slalu di sisi anda. Tampak tak berbahaya jika benar itu hanya perhatian seorang mentor dengan anak didiknya.

 

Tapi jika orang itu menginginkan lebih, mencoba lebih dominan daripada anda, bahkan memaksa anda melakukan kegiatan seksual, itu adalah “grooming”.

 

Grooming adalah ketika seseorang mencoba membuat hubungan special dengan membangun kepercayaan, keterikatan emosional, dan menguasai seorang anak untuk kemudian mengeksploitasinya secara seksual.

 

Sayangnya, kejahatan sexual grooming sangat sulit untuk terdeteksi. Bahkan mungkin anak itu sendiri. Sebab pelaku grooming (groomer) akan mendekati korbannya dengan hati-hati dan membangun hubungan yang sangat baik, antaranya:

 

  1. Groomer bisa meyakinkan anak jika mereka adalah orang yang mencintainya, seperti pacar.
  2. Groomer bisa saja menjadi mentor bagi anak. Membuat anak berpikir bahwa mereka adalah orang yang dapat membantu dan mengajarinya banyak hal.
  3. Terkadang, groomer berusaha menjadi orang paling berpengaruh pada kehidupan anak dengan menjalin hubungan dengan orangtua atau pengasuh.
  4. Mereka juga bisa membangun hubungan dengan keluarga anak calon korban. Membuat keluarga berpikir bahwa mereka telah menemukan orang yang dapat dipercaya untuk anaknya.

 

Salah satu aspek kejahatan dalam grooming adalah bagaimana cara mereka berhati-hati membangun hubungan hingga terlihat positif. Hal ini dapat membuat korban mengalami kesulitan mempercayai orang. Meskipun orang tersebut terlihat baik dan peduli.

 

Pada semua hubungan grooming, pelaku akan mencari jalan untuk menjadi lebih superior dan dominan daripada sang anak. Groomer akan semakin mudah bergerak jika anak lemah dan menyukainya. Bahkan mampu memaksa anak melakukan aktivitas seksual. Tak jarang disertai kekerasan bila korban menolak.

 

Dalam semua kasus, groomer akan berusaha meyakinkan korban untuk tidak mengatakan perbuatannya pada siapapun. Mereka juga tak segan mengancam korban dengan mengatakan bila tidak ada orang yang mempercayainya dan satu-satunya orang yang kerepotan adalah dia.

 

Tindakan sexual grooming dapat mengakibatkan gangguan psikologis pada korbannya. Seperti kesulitan mengendalikan emosi dan kesulitan mempercayai orang lain, serta depresi bila korban tidak mendapat penanganan yang semestinya.

 

Bagi orang dewasa, groomer dapat dikenali dari sikap baik berlebihan pada seorang anak, bahkan pada hal yang tidak semestinya dipuji. Selain itu juga, groomer akan berusaha merayu anak dengan keinginannya, seperti pekerjaan, uang, atau prestasi gemilang.

 

Ingat! Banyak anak dan remaja yang tidak sadar dirinya menjadi korban grooming, dan tidak tahu jika itu kejahatan seksual. Bahkan mereka sering ragu dengan perasaan yang dialaminya.

 

Sudah merupakan tugas bagi keluarga dan lingkungan untuk menjaga anak dari segala bentuk kejahatan seksual. Jadilah tempat bagi anak untuk percaya dan belajar terbuka.

 

Kejahatan seksual pada anak tidak akan berhenti dengan sendiri tanpa adanya tindakan berarti dari setiap anggota masyarakat.

 (Penulis: Melina Nurul Khofifah)

Posting Komentar

0 Komentar