Komnas PA: Menikahkan Anak di Bawah Umur dapat Dikenai Sanksi


KomnasAnak.com, NASIONAL - 
Di masa pandemi, jumlah pernikahan dini terus bertambah. Komnas Perlindungan Anak (PA) mengingatkan tindakan orangtua yang menikahkan anak dibawah umur dapat dikenai sanksi.


Ketua Umum Komnas PA Arist Merdeka Sirait menuturkan, di Kota Blitar saja dalam masa pandemi telah ada sekitar 300 anak usia SMP yang mengajukan dispensasi menikah ke pengadilan.

"Fenomena perkawinan usia dini terus meningkat," ungkap Arist.

Pengajuan dispensasi pun diajukan setelah mendapat rekomendasi dari otoritas wilayah setempat.

Arist juga mengungkapkan kasus yang srmpat viral di Nusa Tenggara Barat (NTB). Dimana seorang anak perempuan 12 tahun dinikahkan dengan laki-laki 15 tahun akibat kedapatan berjalan bersama di malam hari.

Menurut Arist, perbuatan memaksakan anak menikah adalah bentuk pelanggaran hak anak yang terjadi di masyarakat.


"Tidak boleh ada satu pun lembaga di negara ini yang bisa memberikan atau diberikan kewenangan untuk memberikan dispensasi, sekalipun itu pengadilan," tegasnya.

"Karena MK sudah memutuskan, anak yang boleh menikah itu adalah 19 tahun baik laki-laki dan perempuan. Jadi kalau ada orang yang memfasilitasi, apakah orangtua, kemudian institusi perkawinan, lalu meminta dispensasi di pengadilan, maka Komnas Perlindungan Anak menyerukan dan meminta pengadilan tidak boleh memberikan dispensasi dengan alasan apapun," tambah Arist.

Arist menyatakan setiap pihak yang menikahkan anak di bawah 18 tahun berarti telah melanggar hak anak dan UU.

Arist mendorong masyarakat untuk mau melapor ke kepala desa, KUA, ataupun pengadilan jika mengetahui ada pernikahan anak.

Ada banyak faktor yang menyebabkan meningkatnya pernikahan dini, dan bukan hanya karena kemiskinan.

"Memang di masa COVID-19 ini situasinya tidak normal. Jadi banyak anak-anak yang sekarang ini bukan hanya putus sekolah, tapi anak-anak remaja kita sebelum COVID-19 yang tidak lagi mendapatkan kesempatan belajar," kata Arist.

Pandemi telah memaksa banyak keluarga masuk dalam jurang kemiskinan. Sehingga untuk mengatasi ekonomi, banyak yang memilih menikahkan anak di usia muda.

Arist juga menyoroti masalah perlindungan bagi ayah dan ibu yang masih muda serta anak mereka nantinya. Sebab, orangtua yang masih anak-anak belum mampu memberi perlindungan pada anaknya kelak.

"Kedua, menghambat masa depan anak itu. Karena kalau dia menikah umur 12, laki-lakinya katakanlah umur 16, lalu mereka melahirkan anak yang butuh perlindungan. Siapa yang melindungi anak itu?," kata Arist.

Sementara orangtuanya masih anak-anak yang juga butuh perlindungan. Bagaimana mendidik anak, memimpin keluarga saat dia masih anak-anak dan dia sendiri perlu mendapat perlindungan dari orang yang lebib dewasa. Jadi nggak ada untungnya perkawinan usia dini itu," pungkas Arist.
(Editor: Melina)

Posting Komentar

0 Komentar