Komnas PA Tanggapi Kasus Penganiayaan yang Dialami Balita 4 Tahun di Medan


KomnasAnak.com, NASIONAL - 
Ketua Komisi Nasinoal Perlindungan Anak (Komnas PA), Arist Merdeka Sirait mengatakan penganiayaan balita berusia 4 tahun oleh paman (S/27) dan bibinya (JS/24) sudah di luar batas kemanusiaan. Atas kasus tersebut Komnas PA segera membentuk tim advokasi dan litigasi mendampingi korban.

 

“Jumat saya akan bertemu korban. Penganiayaan itu sudah di luar batas kemanusiaan, karena korban sampai mengalami lebam-lebam dan cacat. Ini kejahatan yang dapat diancam di atas  5 tahun,” kata Arist melalui saluran telepon, Selasa (27/10).

 

Arist mengatakan korban harus mendapatkan pembelaan dan pengawalan hukum, serta mendapatkan terapi psikososial karena mengalami trauma. Korban pun harus mendapatkan pelayanan medis, mengingat adanya luka yang diderita.

 

“Artinya, proses hukum gunakan (Undang-Undang) Perlindungan Anak, agar ancaman maksimal di atas 5 tahun,” kata Arist.

 

Penganiayaan balita berusia 4 tahun di Medan, Sumatera Utara ini berlangsung ketika dia dititipkan di rumah paman dan bibinya karena kedua orangtuanya mendekam di penjara akibat kasus narkoba.

 

Namun bukannya mendapat perhatian, balita tersebut malah dianiaya hingga trauma dan luka fisik.

 

Kapolsek Sunggal Kompol Yaisr Ahmadi mengatakan, penganiayaan berlebihan yang dialami membuat balita tersebut ketakutan berlebihan dan sering meminta maaf.

 

“Memang dia sedikit fobia. Dikit-dikit minta maaf. ‘Maaf ya om, maaf ya om’, gitu lah. Kalau komunikasi oke, lancar. Cuma dia sering minta maaf,” ujar Yasir, Senin (26/10).

 

Akibat penganiayaan ini korban juga menderita luka yaitu kekurangan darah, perut bagian bawah memerah dan mengeras, serta kemaluan yang membengkak sebesar kepalan tangan.

 

“Masih dalam perawatan di RS Bhayangkara. Trauma psikis, nanti yang bisa menerangkan psikiater. Kita masih belum bisa masuk ke arah sana, karena belum benar-benar sehat,” kata Yasir.

 

Menurut Yasir, luka paling parah diderita korban pada bagian kemaluan lantaran sering dipukul oleh paman dan bibinya karena sering buang air di celana.

 

“Kan bodoh kelakuan itu. Itu yang paling fatal. Ditanya, kenapa harus kemaluannya? Katanya, ‘karena dia pipis Pak, biar dia ingat’. Waduh dimana. Nanti kalau tidak bisa pipis gimana?,” tutur Yasir.

 

Dalam penanganan kasus ini, pihak kepolisian berkoordinasi dengan Kementerian Sosial untuk mengirim tim guna melihat kondisi korban berkaitan dengan penanganan selanjutnya.

 

“Kita koordinasi dengan LPSK untuk memberi perlindungan khusus terhadap anak ini, karena ada upaya ke orangtua korban yang dipenjara itu. Saya bilang tak bisa. Mau damai silakan saja, tapi itu tak menghilangkan pidana,” kata Yasir.

 

Medan Zona Merah Kekerasan Anak

Arist juga menggarisbawahi banyaknya kasus kekerasan anak di Sumatera Utara. Provinsi ini menjadi provinsi keempat dengan jumlah pelanggaran hak anak terbanyak setelah DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Sulawesi.

 

Tercatat, telah terjadi 8000 lebih kasus pelanggaran hak anak selama 2019 hingga Juni 2020.

 

“8000-an kasus itu tersebar di 33 kabupaten/kota. Kekerasannya bervariasi, ada yang kekerasan fisik, seksual, dan lainnya,” ujar Arist.

 

Dari 33 kabupaten/kota di Sumut, Medan menjadi peringkat pertama dalam kasus kekerasan terhadap anak.

 

“Jadi Medan itu cukup tinggi, ada 339 kasus di awal Januari-Juni 2020. Periode yang sama, di Deli Serdang sebanyak 321 kasus dan Toba Samosir antara 40-50 kasus. Kemudian 52 persen kasus itu adalah kasus kekerasan seksual,” kata Arist.

 

Menurut Arist, angka tersebut baru yang dilaporkan ke polisi, belum termasuk kasus yang diselesaikan secara damai.

 

“Medan itu sudah masuk zona merah darurat kekerasan terhadap anak, dan itu juga belum termasuk kasus yang karena COVID-19 yang belum terkonfirmasi dengan baik. jadi bisa saja lebih dari itu,” kata Arist.

(Editor: Melina)

Posting Komentar

0 Komentar