Saran Kak Seto bagi Penyelenggaraan PJJ agar Anak Tak Depresi


 KomnasAnak.com, NASIONAL - Kisah seorang pelajar kelas 2 SMA di Gowa yang diduga bunuh diri karena depresi beban tugas daring kembali menjadi catatan dalam pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

 

Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Setyo Mulyadi atau Kak Seto mengatakan pembelajaran daring selama pandemi seharusnya lebih menekankan kecakapan hidup, sesuai dengan instruksi Mendikbud Nadiem Makarim.

 

“Mas Menteri sudah mengeluarkan edaran dan menegaskan bahwa belajar secara daring lebih menekankan pada kecakapan hidup. Jadi ditekankan bagaimana menghadapi COVID-19 ini, itu belajar juga,” kata Kak Seto dalam wawancaranya, Senin (19/10).

 

Menurut Kak Seto, ada empat unsur pendidikan diluar ilmu pengetahuan dan teknologi yang bisa diajarkan selama masa pandemi.

 

Pertama, belajar mengenai etika. Menurut Kak Seto, guru dan orangtua bisa mengajarkan pada anak bagaimana nilai sopan santun, bekerja sama, dan saling menghormati.

 

Kedua, guru bisa mengajarkan estetika, seperti membuat rumah lebih bersih, rapi, dan menyenangkan.

 

“Ketiga, nasionalisme. Makin bangga menjadi anak Indonesia, mengenal lagu-lagu berbagai daerah. Jadi itu juga menyenangkan,” jelas Kak Seto.

 

“Terakhir adalah kesehatan. Di masa pandemi ini kan sangat penting belajar mengenai bagaimana istirahat cukup, olahraga, sehat mental agar semangat dan tidak mudah putus asa,” sambung Kak Seto.

 

Kak Seto juga mengingatkan, pembelajaran di masa pandemi tak boleh menekankan pada penuntasan capaian akademik dan kelulusan.

 

Dengan kondisi pandemi ini, semua guru sebaiknya tak memberikan materi terlalu banyak agar orangtua dan siswa tidak terlalu stres.

 

“Ini yang penting itu learning how to learn, bukan how to learn. Jadi jangan belajar materi, tapi bagaimana anak senang belajar,” tutur Kak Seto.

 

“Belajar itu bukan hanya masalah akademik, yang pinter nyanyi ya bisa belajar nyanyi, yang nari ya belajar nari. Pokoknya dibuat segembira mungkin, pemahaman belajar itu luas,” lanjutnya.

 

Kak Seto juga menyoroti pihak sekolah yang menerapkan belajar daring secara berlebihan, sehingga membatasi kebebasan anak. Sebab, setiap kategori usia memiliki batas maksimal untuk menatap layar ponsel.

 

Berlebihan menatap layar ponsel akan membuat siswa cepat lelah dan tidak bisa fokus belajar. Pada akhirnya, mereka akan kesulitan belajar karena suasana yang tidak nyaman.

 

“Akhirnya malah kontraproduktif kan. Jadi harus diubah suasana belajar, biar anak tidak kehilangan semangat belajar. Pemahaman belajar jangan kaku pada aspek akademik,” papar Kak Seto.

 

“Orangtua juga harus berani bersuara. Suarakan kepada guru, bahwa anak ini stres, anak ini tidak bisa,” tambah Kak Seto.

 

Kak Seto berpesan, jika bayak anak merasa stres akibat pembelajara daring, maka hal itu sama saja dengan penyiksanaan terhadap anak atas nama pendidikan.

(Editor: DM)

Posting Komentar

0 Komentar