Pemkab Tanahlaut Terus Upayakan Penanganan Kekerasan pada Anak


KomnasAnak.com, NASIONAL -
Kekerasan terhadap anak terus terjadi di Kabupaten Tanahlaut (Tala), Kalimanta Selatan. Pemerintah kabupaten telah berupaya melalui Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2KBP3A) untuk mendampingi dan mengayomi anak-anak korban kekerasan fisik maupun seksual.

 

Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A), Dinas P2KBP3A Tala, Wiyanti Melansari menegaskan pihaknya tetap melakukan pendampingan baik kasus tersebut dilaporkan maupun tidak.

 

Langkah pertama yang dilakukan adalah turun ke lapangan melihat dan berinteraksi dengan korban serta pihak keluarga untuk selanjutnya merumuskan solusi penanganannya.

 

“Misalnya, apakah perlu mediasi atau ada arah ke ranah hukum. Kami berkoordinasi dengan polisi karena di Polres Tanahlaut juga ada unit P3A-nya,” ujar Wiyanti, Minggu (1/11).

 

Ia mengatakan pihaknya memfasilitasi konseling untuk memberikan semangat dan memulihkan kepercayaan diri anak korban kekerasan. Konseling terkadang harus dilakukan beberapa kali untuk kasus perundungan berat. Bukan hanya bagi korban, konseling juga diberikan pada pihak keluarga serta masyarakat sekitar agar kejadian serupa tidak terulang.

 

Pemkab Tanahlaut juga telah menyediakan Rumah Perlindungan untuk menamung korban kekerasan seksual, terutama dalam kasus yang berat. Seperti kasus pemerkosaan terhadap anak kandung hingga melahirkan yang terjadi sekitar dua tahun lalu.

 

Wiyanti menuturkan di Rumah Perlindungan anak yang menjadi korban kejahatan seksual akan dijamin kehiduoan hidupnya, termasuk biaya sekolah.

 

“Jadi hak-hak anak masih bisa didapatkan agar mampu bangkit dan dapat menjalani kehidupan secara normal lagi,” tandasnya.

 

Lebih lanjut, Wiyanti mengatakan kasus kekerasan terhadap anak dan ibu di Tanahlaut masih terus terjadi setiap tahun. Pada 2019 tercatat 47 kasus dan 2020 hingga Oktober sebanyak 33 kasus. Namun belakangan ini jumlah kasus cenderung meningkat.

 

“Saya kaget juga, apakah karena faktor banyak berdiam di rumah selama pandemi ini atau apa. Tiap pekan ada saja laporan kasus yang masuk, bahkan kadang hingga dua kasus. Terkini kasus yang di Kecamatan Bajuin,” tutur Wiyanti.

 

Untuk menangani kasus kekerasan terhadap anak/ibu, selain bekerjasama dengan kepolisian, pihaknya juga selalu berkoordinasi dengan dinas terkait. seperti Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Dinas Perpustakaan dan Arsip, Dinas Pendidikan, dan Dinas Dukcapil.

 

“Alhamdulillah mereka sangat responsif. Kami juga berkoordinasi dengan kepala wilayah baik di kecamatan, desa hingga dusun. Mereka semua sangat membantu kelancaran pelayanan kami, baik terhadap perempuan maupun anak-anak yang perlu penanganan,” tandas Wiyanti.

 

Wiyanti bersama pihaknya kerap pergi ke Kintap, Jorong, dan Bumimakmur melakukan pemantauan.

 

“Lalu di Jorong saat kami sweeping anak-anak yang dieksploitasi secara ekonomi oleh orangtuanya, kami berkoordinasi dengan pihak kecamatan, desa, dan dusun juga Polsek Jorong,” jelasnya.

 

Wiyanti menuturkan pengungkapan eksploitasi anak secara ekonomi di Jorong berawal dari laporan masyarakat.

 

“Kami sangat mengapresiasi kepekaan dan kepedulian masyarakat dalam upaya mencegah maupun melindungi anak-anak dari kekerasan di wilayahnya,” pungkasnya.

(Editor: DM)

Posting Komentar

0 Komentar