Komnas PA Ungkap Kasus Eksploitasi Seksual Terhadap Anak yang Didalangi Ibu Kandung


KomnasAnak.com, NASIONAL -
Kasus eksploitasi dan perbudakan seksual pada anak-anak kembali terjadi. Kali ini dilakukan ibu kandung terhadap anaknya di DKI Jakarta.


Kasus ini menimpa CL yang masih berusia 11 tahun. CL dijual pada pangguna TikTok (RN) yang diduga berprofesi sebagai paranormal.

Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak (PA) Arist Merdeka Sirait mengungkapkan kasus tersebut bermula dari RN yang melihat unggahan CL di TikTok ibunya (HS).

Setelahnya, RN meminta HS untuk mengenalkannya pada CL dan datang ke salah satu apartemen di Jakarta Selatan.


HS melakukan berbagai cara membujuk anaknya dan mendoktrin bahwa dia sudah ditunangkan dengan RN. HS mengatakan bahwa CL wajib melayani kebutuhan seksual RN setiap dia merasakan hasrat seksualnya.

"Ketika CL melayani perbudakan seks itu, peristiwa itu adalah sepengetahuan ibunya dan pelaku secara sadar mengetahui bahwa korban adalah anak yang masih berusia 11 tahun dan belum tahu arti seksual," ujar Arist, Minggu (6/12).

"Peristiwa perbudakan seksual ini adalah perbuatan pelanggaran hak asasi abnormal," lanjutnya.

Arist menambahkan, CL dalam sehari dipaksa melayani kebutuhan seksual tiga kali dan ibunya menunggu di samping kamar tempat kejadian.

Menurut keterangan CL, ibunya selalu menerima uang setiap kali dirinya diantar ke apartemen RN.

Hingga akhirnya saat sudah tidak tahan, CL bercerita pada ayah dan ibu tirinya. Keduanya lalu mengadukan kejadian tersebut ke Polda Metro Jaya dan Kantor Komnas Perlindungan Anak.

Berdasarkan pengaduan tersebut, Polda Metro Jaya dan Komnas PA menangkap dan menahan HS dan RN untuk dimintai keterangan.

Berdasarkan bukti permulaan, petunjuk, dan terpenuhinya unsur-unsur pidana, pelaku RN dikenai ancaman hukumun 20 tahun penjara dan atau pidana seumur hidup.

Begitu juga dengan HS sebagai pelaku eksploitasi anak terancam pidana penjara paling cepat 5 tahun dan menambah tambahan sepertiga dari pidana pokok.

Tambahan pidana tersebut dilakukan karena HS menjual anaknya secara seksual kepada pelaku sehingga HS terancam hukuman 15 tahun penjara atau denda Rp 5 Miliar.

Arist menyebut, sekarang CL membutuhkan pendampingan psikologis dan layanan medis.

"Untuk memberikan rasa nyaman bagi CL bersama ayahnya, ayah dan korban CL saat ini ditempatkan di salah satu save house di Jakarta," ujar Arist.

Arist menambahkan bahwa Tim Advokasi dan Litigasi akan dibentuk lantaran CL masih belum stabil dan sering melamun.

Tim tersebut dibentuk untuk rehabilitasi sosial anak guna memberikan layanan pendampingaan psikososial therapy.
(Editor: DM)

Posting Komentar

0 Komentar