Kondisi Kekerasan terhadap Anak di Indonesia Sampai pada Kondisi Abnormal


KomnasAnak.com, NASIONAL - 
Status darurat kekerasan terhadap anak di Indonesia tak lantas menurunkan kasus kekerasan. Komnas Perlindungan Anak (PA) justru menemukan bahwa kekerasan terhadap anak meningkat selama pandemi.

 

“Levelnya semakin mengerikan sehingga tahun 2021 kasus kekerasan terhadap anak tidak lagi pada posisi darurat, tapi sudah berada di level abnormal dan Indonesia di ambang ancaman lost generation,” ujar Ketua Umum Komnas PA, Arist Merdeka Sirait dalam konferensi pers catatan akhir tahun 2020 di Jakarta, Senin (14/12).

 

Arist menyebut bahwa kondisi abnormal lebih tragis dari situasi darurat. Bukan hanya upaya penanganan kasus kekerasan terhadap anak saja, melainkan bentuk-bentuk kekerasan baik seksual, fisik, dan verbal juga masuk dalam kondisi abnormal.

 

“Bentuk lain dari ketidakwajaran yang semestinya tidak mungkin terjadi, justru factual terjadi di tangh lingkungan sosial anak,” ungkapnya.

 

Lebih parah lagi, tambah Arist, kondisi abnormal tersebut dianggap masyarakat sebagai sesuatu yang biasa. Demikian pula di mata penegak hukum yang menganggap kekerasan sebagai tindak pidana biasa.

 

“Sikap itu juga merupakan sikap abnormal, sehingga ancaman tahun 2021 kedepan adalah ancaman yang sangat serius,” bebernya.

 

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Komnas PA Dhanang Sasongkp juga mengaku prihatin dengan kondisi abnormal kekerasan terhadap anak. Terlebih, banyak kasus seperti geng rape (pemerkosaan bergerombol), pemerkosaan dengan satu korban dan banyak pelaku, yang korban dan pelakunya anak-anak.

 

“Peristiwa yang sama, korbannya adalah anak yang tidak saja mendapatkan perlakuan keji dari para pelaku dan berakhir pada hilangnya nyawa korban yang dilakukan oleh orang terdekat korban,” sebut Danang.

 

Sampai akhir 2020, Komnas PA telah menerima laporan pengaduan pelanggaran hak anak sebanyak 2.729 kasus. Sekitar 52 persen kasus didominasi oleh kekerasan seksual. Selebihnya kekerasan fisik dan verbal, yang bahkan perlakuannya sudah masuk pada perlakuan abnormal.

 

Untuk memutus rantai ke-abnormal-an kekerasan terhadap anak, Dhanang menyarankan untuk menguatkan kembali nilai-nilai agama dalam lingkungan keluarga. Rumah harus menjadi tempat beribadah yang kuat.

 

Langkah lain yang patut dilakukan adalah mengubah paradigma pola pengasuhan yang otoriter menjadi pengasuhan yang dialogis dan partisipatif.

 

“Kalau revolusi gerakan perlindungan anak berbasis keluarga dan kampong ini dapat diwujudkan oleh semua komponen bangsa di Indonesia maka masa depan anak akan terjaga dan kekerasan anak abnormal tidak akan terjadi,” tutup Dhanang.

(Editor: DM)

Posting Komentar

0 Komentar