Pers Harus Bersinergi untuk Wujudkan Pemberitaan Ramah Anak


KomnasAnak.com, NASIONAL - 
Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Lenny N. Rosalin menggelar workshop virtual melibatkan Komunitas Jurnalis Anak (Jurkawan) pada Senin, 7 Desember 2020. Workshop ini dilaksanakan guna membahas pentingnya pemberitaan yang ramah anak.

 

Lenny N Rosalin mengatakan perlindungan anak semakin penting, sebab saat ini terdapat 79,5 juta anak Indoneisa. Jumlah ini setara dengan 30,1 persen dari total penduduk Indonesia. Dari jumlah ini, 42,35 juta (53 persen) anak berada di Pulau Jawad an 37,2 juta anak di luar Pulau Jawa.

 

Oleh karenanya, ujar Lenny, insan pers mampu bersinergi dengan pemerintah dalam upaya mewujudkan pemberitaan yang ramah anak. Sebagai jalan mencapai cita-cita Indonesia Layak Anak atau IDOLA yang diupayakan dapat terwujud di tahun 2030.

 

Apalagi, media merupakan satu dari empat pilar pembangunan anak selain masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha (pasal 72 UU Nomor 35 Tahun 2014). Meskipun perlindungan anak adalah tanggung jawab semua pihak. Keberadaan media jadi semakin penting dengan adanya arus informasi yang sangat terbuka dan mudah diakses anak.

 

Dijelaskan Lenny, hak-hak anak harus dilindungi dengan memperhatikan prinsip Konvensi Hak Anak. yaitu nondiskriminasi, kepentingan tervaik bagi anak, hak hidup, tumbuh dan berkemabng, serta adanya partisipasi anak.

 

Seorang wartawan Kompas yang menjadu salah satu narasumber,  Sonya Helen, mengakui bahwa masih banyak insan media yang belum sepenuhnya menerapkan prinsip pemberitaan ramah anak. menurutnya masih banyak wartawan dan pimpinan redaksi yang belum memahami Peratuwan Dewan Pers Nomor 1/Peraturan-DP/II/2019 tentang Pedoman Pemberitaan Ramah Anak.

 

Dengan begitu, Sonya mengatakan bahwa menjadi keharusan saat ini untuk menggencarkan sosialisasi peraturan ini, khususnya dalam merahasiakan identitas anak. Menurutnya, ada 12 klausul yang harus diperhatikan wartawan dalam memberitakan kasus melibatkan anak. Salah satunya adalah merahasiakan identitas anak yang sayangnya masih tidak diindahkan di lapangan.

 

Sementara itu, salah seorang wartawan dari Jawa Timur, Fain menegaskan bahwa sosialisasi elemen media. Termasuk pemerintah sangat penting guna membangun kesamaan visi dalam melahirkan pemberitaan ramah anak. Sebab menurutnya, baik media cetak maupun elektronik masih sering lalai dalam menjaga identitas korban dan pelaku anak. Melalui sinergitas antara pemerintah, dewan pers, dan organisasi wartawan, dia meyakini harapan melahirkan produk jurnalistik yang ramah anak akan terwujud. “Intinya perlu masif sosialisasinya,” ujar Fain.

(Editor: DM)

Posting Komentar

0 Komentar