Pembuat Video Parodi Indonesia Raya Masih Anak-Anak, KPAI Minta Orang Tua Awasi Anak Berinternet


KomnasAnak.com, NASIONAL - 
 Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bidang Pornografi fan Cybercrime Margaret Aliyatul Maimunah mengutarakan orang tua harus mengawasi anak dalam berinternet. Menyusul adanya pembuatan parodi lagu Indonesia Raya oleh anak yang masih duduk di bangku SMP.


"Sangat penting adanya pendampingan dan pengawasan orang tua kepada anak-anak terkait dengan aktivitasnya, saat menggunakan internet dan gawai," ungkap Margaret, Jumat (1/1/2021).



Pendampingan tersebut, lanjut Margaret, akan mengarahkan anak memanfaatkan teknologi siber secara positif.

Berdasarkan temuan Bareskrim Polri, tersangka pembuat parodi telah diberi ponsel sejak umur delapan tahun.

Terkait hal ini, Margaret mengutarakan bahwa orang tua tidak boleh abai mengawasi anak. Salah satunya adalah dengan menolak keinginan anak untuk memiliki gawai.

"Orang tua tidak boleh abai dengan segala aktivitas anak di dunia siber. Apalagi anak tersebut telah dikasih HP sejak usia 8 tahun," ujar Margaret.

"Orang tua sebaiknya jangan hanya memenuhi keinginan anak untuk bisa bermain HP dengan membelikan atau memberikan HP tanpa adanya komitmen atau kesepakatan yang dibangun antara orang tua dan anak," tambah Margaret.

Untuk itu, orang tua perlu membuat kesepakatan dengan anak terkait penggunaan gawai. Bisa berupa durasi menggunakan ponsel, tempat menggunakam ponsel, serta konten yang boleh ditonton. Dia meminta agar orang tua tidak memberi anak ponsel sebelum umurnya tepat.

"Pendampingan dan pengawasan terhadap aktivitas anak di dunia siber sangat penting terkait dengan bagaimana anak-anak menjaga keamanan di dunia siber. Berteman dengan siapa saja, adanya ancaman konten-konten negatif dan kejahatan siber, etika dalam bergaul di dunia siber, dan lain sebagainya," jelas Margaret.

Diketahui, tersangka pembuat parodi Indonesia Raya bukan warga negara Malaysia, melainkan warga negara Indonesia.

Hal tersebut terungkap setelah Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Polri bersama Polis Diraja Malaysia melakukan penyelidikan bersama.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Argo Yuwono mengatakan total dua tersangka masih di bawah umur MDF (16) dan NJ (11).

Argo menjelaskan, NJ adalah WNI yang tinggal di Malaysia. Dia tinggal di Malaysia karena orang tuanya bekerja sebagai driver di perusahaan Malaysia

"Dari PDRM berhasil mengamankan satu orang laki-laki yang inisialnya NJ umurnya 11 tahun. WNI yand ada di Sabah Malaysia. Kenapa dia ada disana? Karena NJ ini mengikuti orang tuanya yang bekerja sebagai driver salah satu perusahaan perkebunan di Sabah Malaysia disana," kata Argo di Mabes Polri, Jakarta, Jumat.

Saat ditangkap, NJ mengaku bukan orang yang mengunggah video. Akun YouTube My Asean Channel yang mengunggahnya dibuat oleh temannya, MDF, yang tinggal di Cianjur, Jawa Barat.

Kata Argo, NJ mengakh nama dan nomor telepon yang tercantum dalam akun tersebut dicatut oleh MDF.

"Memang dari NJ, keterangannya bahwa untuk di channel di akun My Asean, itu bukan dia yang membuat. Tetapi ada temannya dia yang membuat. Temannya dia itu ada di Indonesia," ungkapnya.

Diketahui, MDF mengunggah video parodi dengan men-tag nama NJ dan lokasi di Malaysia.

Polri pun menangkap MDF di Cianjur pada Kamis (31/13/2020) malam. Saat ditangkap, MDF mengakui perbuatannya.

Namun demikian, Argo tetap diperkarakan karena mengunggah video parodi tersebut dengan sedikit perubahan di akun YouTube Channel Asean.

"Salahnya NJ membuat kanal YouTube lagi dengan nama channel Channel Asean. Kemudian isinya itu dia mengedit daripada isi yang sudah disebar MDF dan dia hanya menambahi ada gambar babi yang ditambahi sama NJ ini," pungkasnya.
(Editor: Melina)

Posting Komentar

0 Komentar