Akte Kelahiran adalah Hak Fundamental Anak, terlepas dari Perselisihan Orang Tua


KomnasAnak.com, NASIONAL -
Tim Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA) bertandang ke Surabaya untuk memperjuangkan akte kelahiran yang menjadi hak dua anak.

 

Arist Merdeka Sirait selaku Ketua Komnas PA mengungkapkan, kedua anak tersebut tidak dapat akte kelahiran karena ada perselisihan antara kedua orangtuanya, yaitu W (ayah) dan J (Ibu).

 

“Permasalahannya adalah antara pak W dan istrinya J yang pernah menikah di sebuah Vihara, lalai untuk mendaftarkan perkawinannya ke catatan sipil. Sehingga saat mereka berpisah, kedua anaknya sulit mendapatkan akte kelahiran,” ungkap Arist, Rabu (13/1).

 

“Memang anaknya sudah didaftarkan di catatan sipil di Bandung dengan akte kelahiran atas ibunya. Namun saat ini, W ingin mendapatkan hak yang sama dalam akte kelahiran, karena kedua anak itu memiliki ayah dan ibu,” imbuhnya.

 

Arist melanjutkan, harus ada penetapan dari pengadilan untuk mendapatkan pengakuan sebagai bapak dari kedua anak tersebut.

 

“Penetapan dari pengadilan sudah ada, dan disertai dengan bukti lainnya. Besok baru saya akan ke catatan sipil Surabaya untuk memberikan persyaratan agar akte kelahiran anak ini bisa segera dikeluarkan,” papar Arist.

 

“Mendapatkan akte kelahiran adalah salah satu dari 10 hak fundamental anak yang harus dipenuhi. Tidak ada satupun yang punya otoritas untuk melarang anak punya akte lahir,” lanjut Arist.

 

Selain itu, Arist juga mendatangi Polres Gresik untuk meluruskan terkait adanya oknum yang mengaku dari Komnas PA untuk mengurus hak asuh anak.

 

“Tadi saya sudah bertemu dengan Kapolres Gresik, untuk meluruskan bahwa Komnas Perlindungan Anak hanya mengurus terkait hak anak untuk mendapatkan akte kelahiran, bukan soal hak asuh. Jadi jika ada yang datamg dengan membawa-bawa Komisi Perlindungan Anaj, itu bukan Komnas Perlindungan Anak,” terang Arist.

 

Sementara itu, W yang didampingi tim kuasa hukumnya mengaku heran dengan adanya laporan di Polres Gresik terkait penculikan anak.

 

“Setelah kami mendapatkan penetapan sebagai bapak dari kedua anak itu. Muncul masalah baru, yakni klien kami dilaporkan penculikan anak. Mana ada ayah yang menculik anaknya sendiri,” kata Hendri selaku kuasa hukum W.

 

“Jika ibunya tidak mengakui klien kami sebagai anaknya, mengapa anak-anak itu didaftarkan dengan nama belakang dari klien kami? Dan yang bersangkutan pernah mengirim somasi yang isinya mengakui W sebagai bapak anak-anaknya,” tutup Youngky, salah satu tim kuasa hukum W.

(Editor: Melina)

Posting Komentar

0 Komentar